Tips Toko Online: Sharing Pengalaman Reseller Dropship (Part 1)

Pada artikel tips toko online sebelumnya saya mengatakan akan menjabarkan step-by-step pengalaman saya sendiri dalam menjalankan bisnis reseller-dropship.

Karena ternyata isinya cukup panjang, maka saya buat jadi 2 part.

Perlu diperhatikan hal-hal berikut:

  • Nama usaha/website/jenis barang yang dijual tidak akan saya sebutkan demi menjaga privasi dan mengurangi kompetitor 😛
  • Modal awal untuk memulai adalah Rp 1.100.000,- + Rp 300.000,- saat sudah berjalan (Anda bisa baca sendiri dipakai untuk apa nanti)
  • Rentang waktu 1 tahun sejak pertama memulai sampai sekarang
  • Menghasilkan penjualan setiap harinya dan sudah cukup stabil sehingga saya bisa fokus pada bisnis lainnya
  • Profit kurang lebih sekitar Rp 150.000,- per hari (hanya dropship alias cuma mengantarkan order)

Oke langsung kita mulai.


Pertama saya bukan orang IT atau pengusaha yang banyak modal, saya tidak begitu mengerti soal bisnis online terlebih memulai bisnis internet. Yang saya tahu adalah saya hanya memiliki uang sebesar Rp 1.100.000,- dan laptop + koneksi internet. Dari situ saya sadar bahwa saya akan menghabiskan banyak waktu didunia online, saya mencari usaha apa yang bisa dijalankan dengan modal yang ada dan hasilnya dapat segera dirasakan. Dari situlah saya searching-searching di google dan menemukan tentang bisnis reseller-dropship.

DropshipBagi Anda yang belum begitu mengerti apa itu dropship bisa segera cari di google atau lihat ilustrasi singkat diatas. Saya sangat tertarik karena bisnis ini awalnya bisa dijalankan “tanpa modal” dan saya segera memulai dengan mencari supplier di google dengan keyword “Reseller dropship XXX”.

Setelah ketemu website supplier saya langsung mengkontaknya, mengirim email, dan mengatakan bahwa saya ingin menjadi reseller/dropshipper. Tentu supplier ini dengan senang hati menerima reseller, dan saya langsung mengambil sekitar 100 foto produk yang ada di websitenya lalu saya pajang 100 foto tersebut di Instagram (yang baru saya buat dengan nama toko saya sendiri) dan setiap caption saya isi deskripsi + harga produk tersebut. Setiap produknya saya mark-up harga sekitar 10-20% tergantung seberapa mahal produk tersebut. Saya mulai dari produk yang paling sering laku, lalu untuk marketingnya saya coba pasang di FJB Kaskus dan selama 1 minggu ternyata tidak ada yang laku 🙁

Setelah 2 minggu berjalan ternyata hanya ada 1 order yang profitnya pun hanya Rp 20.000,- disitu saya berpikir kenapa tidak laku? Sedangkan supplier saya bisa menghasilkan puluhan order tiap harinya. Ternyata saya sadar alasan utama saya gagal menjual adalah karena saya tidak memiliki identitas/brand sendiri. Saya hanya punya akun instagram+kaskus, logopun hanya berupa tulisan dan terkesan seadanya, selain itu produk yang ada juga sangat sedikit (100 item) dimana tidak semua orang membutuhkan produk tersebut.

Dengan modal Rp 1.100.000,- saya diawal, mulailah saya membangun brand saya sendiri, saya cari jasa desain logo dan ketemu salah satu yang murah di Disdus, saat itu harganya Rp 100.000,- dan saya segera minta supaya dibuatkan logo yang bagus. Lalu saya juga perlu website sendiri (supaya terlihat professional), sedangkan saya tidak bisa coding atau mengerti apapun tentang web, saya cari jasa pembuat website dengan template khusus toko online sehingga saya tinggal mengatur deskripsi, upload foto/produk dan mengubah harga, dan itu semua saya dapat dengan harga 1 juta per tahun (sudah dengan domain+hosting+template).

Karena dengan dropship saya tidak menanggung stok apapun, maka saya langsung taruh semua produk yang supplier saya jual kedalam website saya, beberapa di social media dan FJB Kaskus. Total produk ada sekitar 500 item yang supplier saya jual, dan ternyata hasilnya sangat jauh ketika saya punya website+brand sendiri dengan saat diawal hanya menggunakan instagram/kaskus.

Hampir setiap hari ada orang yang bertanya dan order, beberapa kendala yang biasanya saya hadapi saat dropship:

  • Supplier kehabisan stok barang dan tidak menginfokannya. Sebelum pembeli order, saya selalu pastikan supplier memiliki stoknya dan dapat mengirim dihari yang sama, karena itu cari supplier yang responnya cepat.
  • Harga dari supplier tiba-tiba naik, sedangkan orang yang sudah order justru membeli dengan harga yang lebih murah lewat toko kita. Lalu harus bagaimana? Sayapun cukup sering mengalami hal ini, walaupun biasanya supplier memberikan price list, tetapi harga tetap dapat berubah sewaktu-waktu dan mereka lupa untuk memberitahu kita. Jika sudah terlanjur order dan dana sudah di transfer, biasa saya akan berkompromi dengan supplier saya supaya tetap memberikan harga yang sebelumnya kepada saya, jika supplier menolak maka saya akan meminta customer untuk membayar sesuai harga yang baru, dan jika mereka tidak setuju terpaksa order kita cancel (kecuali Anda mau menanggung rugi).
  • Pembeli ingin COD/ketemuan. Ini salah satu masalah yang paling sulit, karena kita tidak memiliki produknya dan tidak mungkin pembeli kita lempar ke supplier (kita tidak mendapat profit apapun). Saya sendiri sangat sering menemui customer yang ingin COD. Yang saya lakukan adalah mengarahkan mereka supaya tetap membeli secara online, dan jika mereka tidak mau maka terpaksa saya akhiri pembicaraan karena percuma saja berdebat toh produknya tidak saya pegang. Jika Anda cukup berani, silahkan ambil barangnya di supplier dan COD dengan pembeli tadi, tetapi jelas tidak “worth it” karena waktu, tenaga, dan ongkos yang Anda buang dengan profit yang didapat tidak sebanding terlebih kalau ketika kita sudah ambil barangnya dan pembeli hilang begitu saja (hit & run).
  • Barang rusak dan ingin diretur. Ini juga cukup dilema, jika produk tersebut adalah brand ternama dan bergaransi biasanya tinggal dibawa ke service center, tetapi bagaimana dengan produk lainnya. Tergantung seberapa dekat Anda dengan supplier, saya cukup beruntung karena lokasi saya dekat dengan supplier, sehingga saya tinggal minta customer retur barangnya ke alamat saya dan barang saya bawa ke supplier untuk diganti/diperbaiki, tetapi ada juga momen ketika saya langsung meminta customer mengirimkan barangnya ke supplier (karena saya sedang malas).

Yang terpenting adalah bangunlah reputasi Anda secepat mungkin. Saya terus melakukan marketing gila-gilaan, saya optimasi SEO untuk website (saya belajar SEO, padahal awalnya tidak mengerti apapun tentang SEO), buat beberapa akun sosmed di facebook, twitter, g+, instagram. Saya buat thread di forum + FJB Kaskus.

Saya coba berbagai media promosi dan bahkan membayar seperti kaskus ad, dan FB Ads. Saya selalu menggunakan iklan dengan tarif per klik. Karena menurut saya lebih jelas hasilnya ketimbang iklan dengan tarif per impression/tampilan (ini hanya opini, sayapun juga tidak expert soal paid ads).

Untuk kaskus saya menghabiskan dana sekitar Rp 200.000,- dan Facebook sekitar Rp 100.000,- walaupun tidak begitu banyak menghasilkan (ya, saya agak menyesal menggunakan paid Ads karena hasilnya kurang memuaskan). Ternyata pembeli terbesar itu datang melalui website, social media, dan kaskus. Justru yang gratis (kecuali website) itulah yang paling menghasilkan.

Tetapi profit dari penjualan belum cukup untuk bertahan, saat itu profit yang saya dapat masih sekitar Rp 30.000-50.000,- sehari, saya harus meningkatkan penjualan. Hanya ada 2 cara untuk meningkatkan penghasilan yaitu:

  • Perluas marketing Anda (promosi ke lebih banyak orang, sehingga pembeli juga semakin banyak)
  • Perbanyak produk Anda (semakin banyak produk, semakin banyak pula penjualan yang dihasilkan)

Saya sudah melakukan marketing gila-gilaan, apalagi yang harus saya lakukan? Dari situ saya tahu bahwa saya harus memperbanyak jumlah produk yang saya jual sehingga penjualanpun akan meningkat. Selain itu marketing/pasar saya sendiri hanya terbatas di Indonesia dan tidak mungkin saya menjual sampai ke Malaysia/Singapur toh barang yang dijual supplier saya adalah barang import tidak mungkin di export lagi.

Tetapi produk supplier sudah saya jualkan semua (sekitar 500 produk) lalu apalagi yang harus saya jual? Satu-satunya cara yaitu dengan menjualkan produk (masih dalam jenis kategori yang sama) dari supplier lain yang menerima reseller-dropship. Dari situlah saya mencari supplier kedua, ketiga, dan seterusnya. Saya lakukan perbandingan mana supplier yang responnya baik, mana yang melayani reseller dengan baik, mana supplier yang terbukti menghasilkan dan saya mulai menaruh produk-produk mereka sehingga total di website (toko online) saya ada sekitar 2000 produk gabungan dari beberapa supplier.

Beberapa syarat yang harus terpenuhi adalah:

  • Harga termurah (setidaknya yang mampu saya temukan) atau paling tidak kompetitif di pasaran.
  • Satu daerah dengan saya dan supplier lainnya, sehingga tidak berurusan dengan perbedaan ongkir
  • Lokasi dekat dan memiliki toko fisik sehingga saya bisa mengambil barangnya langsung
  • Menerima reseller/dropship dan merespon dengan cepat

Setidaknya saya memiliki sekitar 10 supplier pada awalnya lalu saya kurangi menjadi sekitar 5 supplier berdasarkan lokasi dan penjualan. Saya juga hanya memasukkan produk yang paling laku di toko mereka, dan dari sini kesulitan justru semakin meningkat.

Dengan memiliki 2000 produk yang dimana satu pun barangnya tidak ada ditangan Anda, maka Anda akan semakin kesulitan dan repot, keuntungan dengan cara seperti ini adalah saya mulai tahu produk apa yang lebih sering laku dan bisa mulai saya stok sendiri (sehingga jika produk itu dibeli saya bisa COD), dan menganalisa kedepannya apa yang customer inginkan. Beberapa kendala yang saya hadapi yaitu:

  • Customer membeli 3 produk, 1 di supplier A, 1 di supplier B, dan 1 di supplier C. Saya sangat sering mengalami hal ini dan langkah terbaik yang harus dilakukan adalah segera mengecek produk-produk tersebut apakah ready stock. Jika semuanya ada saya akan langsung mengambil semua barang tersebut dan mengirimnya sendiri (inilah sebab mengapa supplier harus berada dilokasi yang dekat dengan saya setidaknya masih 1 kota), jadi saya tampilkan produk sebanyak-banyaknya, kalau ada yang beli baru kita cari produknya. Walaupun terkadang cara ini harus kompromi dengan waktu pengiriman atau kepuasan pelanggan, itu tidak terlalu masalah diawal. Karena kita juga tidak ingin menanggung resiko menyetok barang yang belum jelas apakah laku dipasaran atau tidak.
  • Kalau ada order lalu barang dijemput seperti itu, apakah tidak repot kalau sehari ada puluhan order yang berbeda-beda? Ya memang secara teori akan melelahkan, tetapi pada awalnya jumlah order yang normal hanyalah sekitar 1-3 order/hari, masih bisa dikelola. Seiring order meningkat mulailah Anda berencana menyetok (reseller) dan mengambil barang langsung dari supplier. Untuk apa ketakutan dan berpikir kalau ada puluhan order bagaimana? Anda harus berpikir untuk mencapai puluhan ordernya bagaimana dulu? Jangan terlalu muluk-muluk berpikir diawal, karena sebenarnya bisa mendapat 1-2 order setiap hari secara konsisten sudah merupakan achievement.

Bagian tersulit ditahap ini adalah update stok dan harga dari beberapa supplier tersebut. Karena itu saya mengurangi jumlah supplier dari 10 menjadi 5 yang paling produktif alias supplier yang produknya paling menghasilkan penjualan. Terlebih saya tidak terlalu pusing memikirkan stok dan apakah produk tersebut akan laku atau tidak karena saya tidak menanggung resiko apapun tetapi memiliki banyak sekali produk untuk dijual. Tidak peduli produknya apa selama bisa menghasilkan profit maka akan saya taruh di website, tentu tidak selamanya Anda bisa bertahan seperti ini. Kita harus segera naik level ke level berikutnya yaitu menjadi reseller.

Baca cerita selanjutnya di part 2:

Tips Toko Online: Sharing Pengalaman Reseller-Dropship (Part 2)

update: versi buka-bukaan (no sensor) part 3 bisa Anda baca disini:

Pengalaman Jualan Online (Part 3)


Related Post: