Strategi Pemasaran Produk (Belajar Trik / Teknik Marketing Online)

Pada artikel kali ini kita akan belajar bagaimana strategi pemasaran produk yang baik dan benar, khususnya trik dan teknik marketing secara online, pada dasarnya ada 3 alasan seseorang membeli suatu produk atau jasa, yang pertama karena ia butuh (produk yang berupa kebutuhan/needs), kedua karena ia menginginkannya (hasrat/passion), dan yang ketiga karena ia memiliki ketakutan-ketakutan tertentu dan membutuhkan jaminan (fear).

Jadi 3 alasan utama seseorang membeli yaitu berdasarkan:

  1. Kebutuhan (needs)
  2. Keinginan/hasrat (passion)
  3. Rasa takut/keamanan (fear)

Biasanya barang yang bersifat kebutuhan/needs seperti makanan pokok, pakaian, dan lainnya sudah didominasi oleh pemain-pemain besar (brand/perusahaan besar), maka dari itu kita akan coba mempelajari pendekatan yang berikutnya yaitu passion & fear. Lucunya adalah terkadang produk-produk yang sifatnya passion/fear lebih sering dibeli dan laku ketimbang yang bersifat kebutuhan/needs karena sebagian besar orang lebih mementingkan emosi dan perasaannya ketimbang apa yang betul-betul mereka perlukan. Contoh produk yang berupa “passion” itu seperti video-video YouTube yang sering Anda tonton, gadget-gadget high class, dan berbagai macam karya seni lainnya, contoh produk yang berupa “fear” itu seperti asuransi kesehatan, pengobatan alternatif, dan obat pengurus/peninggi badan.

Pertanyaannya mengapa barang ini bisa laku padahal orang-orang tidak terlalu membutuhkan produk tersebut? Tentunya ada stategi pemasaran dan promosi yang bermain dibalik ini semua, biasanya ada 3 faktor utama yang membuat penjualan dan trik marketing ini bisa sukses, yaitu:

  • Ketakutan (menciptakan rasa keputusasaan, hopeless, dan urgency)
  • Harapan (menjelaskan cara keluar dari masalah yang ada)
  • Solusi (pemecahan masalah dan jalan keluar)

Seperti yang saya bahas sebelumnya pada artikel cara bisnis memanipulasi pikiran kita, jika kita bisa menemukan perasaan terdalam seseorang khususnya rasa insecure/kegelisahan mereka, lalu memberikan solusinya, maka mereka akan membeli apapun yang kita jual, menonton apapun yang kita tayangkan, dan mengkonsumsi apapun yang kita produksi. Mari kita bahas satu per satu.

1. Ketakutan (fear)

Sebelum Anda mulai menjual suatu produk, pertama kali yang harus Anda lakukan adalah menyentuh sisi emosional/perasaan seseorang, apa yang mereka resahkan dan apakah produk Anda bisa menyelesaikan kegelisahan tersebut. Jadi pertama Anda harus menemukan masalah yang ada dan mengkomunikasikannya pada customer sebaik mungkin, bahkan Anda harus meyakinkan pada customer bahwa masalah itu ada walaupun sebenarnya tidak ada.

Contoh jika Anda menjual obat pengurus, maka Anda harus mengkomunikasikan pada pelanggan Anda bahwa kelebihan berat badan itu tidak baik bagi kesehatan, orang gemuk beresiko cepat mati/terkena penyakit, orang gemuk sulit mendapatkan jodoh, dan sebagainya. Intinya kita perlu membuat customer dibayangi oleh rasa takut yang entah benar/tidak dan mengingatkan mereka akan resiko-resiko yang ada.

Anda bisa gunakan strategi pemasaran konten marketing dengan membuat blog/infografis yang bisa mendukung fakta-fakta yang ingin Anda sampaikan, atau bisa juga berupa postingan di sosial media dan video YouTube.

2. Harapan (hope)

Lucunya setelah kita membuat mereka takut dan merasa putus asa (hopeless) disitulah saatnya kita kembali memunculkan harapan, orang yang merasa takut/insecure tentu akan mencari harapan/jalan keluar bahkan menggunakan cara-cara yang berlebihan dan tidak logis. Tidak heran obat pengurus/peninggi badan bisa laku keras, sayapun termasuk korban dari obat-obatan semacam itu, ketakutan karena kurangnya fisik yang menarik/ideal, membuat saya begitu depresi ingin menggunakan segala cara untuk mengubah keadaan, dan pada akhirnya obat-obatan tersebut tidak berhasil mengubah apapun.

Ironisnya terkadang saya masih mencoba alternatif lain, walau saya sebenarnya tahu dan sadar betul bahwa kondisi fisik sangat sulit diubah, apalagi menggunakan obat-obatan yang tidak jelas, saya sudah tanya dokter dan dokterpun mengatakan obat-obat seperti pengurus/peninggi badan yang dijual diluaran sana sebenarnya tidak dianjurkan, namun saya tetap ngotot mencoba karena bagi saya toh tidak ada salahnya, setidaknya itu bisa memberikan sedikit “harapan” semu sesaat.

Insecure person is the best customer.

Itulah sebabnya setiap produk yang dijual diluar sana memiliki testimoni yang entah benar atau tidak (sebagian besar sih tidak), hanya karena kita melihat testimoni dari orang random di internet, kita merasa bahwa ada sedikit harapan, disitulah sebenarnya perasaan kita berhasil disentuh/digoyang oleh sang penjual, sehingga kita semakin mudah dimanipulasi oleh penjual dan akhirnya membeli.

Anda bisa tambahkan halaman testimoni pada produk jualan Anda, atau review dari pengguna jasa Anda, atau rekomendasi dari orang tertentu, bahkan Anda bisa buat-buat testimoni tersebut sendiri (fake reviews), faktanya hampir semua bisnis besar melakukan hal yang sama diawal (fake it till you make it), yang salah adalah seringkali penjual yang awam menggunakan testimoni palsu yang mudah ketahuan oleh customer, dengan kata lain “ga niat” bikin testimoni buatan.

Buatlah identitas palsu yang setidaknya terlihat real, menggunakan nama yang baik dan benar, kalau perlu gunakan avatar (jangan gunakan avatar blank/default), dan tulislah kata-kata review/testimoni senatural dan serealistis mungkin. Walau customer sebenarnya juga tidak terlalu peduli dengan hal ini, namun tidak ada ruginya bagi Anda secara jangka panjang, karena testimoni yang berantakan menunjukan betapa malas dan tidak profesionalnya Anda sebagai penjual.

3. Solusi

Tentu solusi yang Anda tawarkan disini adalah dengan membeli produk yang Anda jual, contoh jika seseorang mengalami kesulitan ekonomi/kekurangan finansial, maka pertama Anda mengenalkan rasa takut dengan bagaimana sulitnya kehidupan masa tua tanpa uang/tabungan, bekerja dengan gaji pensiun yang sedikit, dan pahitnya hidup tanpa kebebasan finansial, setelah itu Anda mulai mengenalkan harapan dengan contoh-contoh orang yang dulu hidupnya susah dan bangkit dari keterpurukan sampai akhirnya sukses mencapai financial freedom, dan terakhir tentu Anda memperkenalkan solusi dengan menawarkan buku/e-book yang berisi cara-cara mencapai kesuksesan finansial, dan jika perlu tambahkan testimoni dari para pembaca lain yang berhasil mempraktekkan ajaran-ajaran di buku tersebut (testimoni ini bisa palsu/rekayasa, faktanya hampir semua testimoni itu sebenarnya hanyalah buatan).

Tips tambahan (ektra tips):

Terkadang ketiga teknik diatas tidaklah cukup, sudah banyak berbagai bisnis yang melakukan cara diatas, dimana-mana orang jualan cerita sukses, jualan pengobatan alternatif yang tidak masuk akal, dengan iming-iming janji besar (cepat kaya/cepat sembuh), tidak heran customer sering mengabaikan mereka, karena itu kita perlu bermain pintar dengan 2 poin diatas (rasa takut dan harapan).

1. Menciptakan urgency

Rasa takut saja sebenarnya tidak cukup untuk mempengaruhi keputusan membeli seseorang, Anda harus menciptakan keadaan yang urgent/bahaya. Tidakkah Anda heran mengapa rokok yang berbahaya bagi kesehatan tetap saja dikonsumsi setiap hari oleh masyarakat kita? Padahal dalam slogan rokoknya saja sudah disebut “rokok membunuhmu”, apakah bahaya akan kanker paru-paru tidak begitu buruk dimata para perokok?

Alasannya hanya 1 yaitu karena tidak adanya urgensi/bahaya yang datang. Bagi mereka para perokok, kenikmatan merokok sesaat masih jauh lebih besar ketimbang bahaya resiko kanker yang masih jauh dimasa depan, sekarang bayangkan jika mereka sudah divonis kanker stadium 4, apakah mereka masih mau merokok? Tentu tidak.

Rasa urgent inilah yang membuat seseorang membeli dan tidak memiliki pilihan lain selain membeli dari Anda, karena itu terkadang Anda harus mengingatkan/mendekatkan bahaya resiko tersebut dan kerugian potensial yang akan menimpa calon customer Anda, terkadang tidak semua produk bisa menimbulkan “keadaan darurat”, namun rasa urgensi ini juga bisa dipicu dengan taktik lain seperti diskon sesaat, misal jika customer Anda membeli sebelum minggu depan maka mereka akan dapat potongan 10-20%, atau buat urgensi seperti 3 minggu lagi harga akan naik (trik yang paling sering digunakan penjual properti), Anda pasti sudah sering melihat diskon tipuan harga seperti ini.

Intinya adalah coba ciptakan urgensi buatan dengan apapun yang ada, sesuatu yang bisa membuat customer Anda “seolah” rugi jika tidak cepat-cepat membeli dari Anda (saya gunakan kata seolah, karena faktanya customer Anda tidak akan benar-benar rugi kalaupun ia tidak membeli dari Anda), ingat seseorang yang sedang panik (insecure) cenderung membuat keputusan yang berlebihan dan irrational (tidak logis).

2. Menjanjikan hasil yang besar/instan (janji manis)

Sebenarnya ini sedikit licik dan menipu, karena Anda perlu sedikit lebay/berlebihan dengan produk yang Anda jual, pada dasarnya manusia itu tidak mau repot, mau hasil yang instan tanpa kerja keras, mau hasil yang besar tanpa perjuangan yang besar pula, inilah juga sebab obat-obat pelangsing/peninggi masih laku dipasaran (walaupun sudah terbukti tidak efektif).

Tidak heran banyak e-book/buku/seminar yang bertebaran dengan judul “cara menghasilkan ratusan juta dalam 4 bulan”, “cara membeli properti dengan gaji dibawah 5 juta/bulan dalam 2 tahun”, cara menghasilkan 1 milyar dalam 3 tahun”, dan cara-cara instan tidak masuk akal lainnya. Dan bodohnya masih saja ada orang yang tertipu dan percaya dengan judul-judul tersebut.

Namun janji manis itu terbukti efektif, hasil besar/instan tersebut sangat memicu emosi seseorang untuk setidaknya “penasaran” dengan apa yang Anda jual, seperti judul clickbait pada sebuah video YouTube, sebelum menonton videonya Anda sudah dijanjikan dengan konten yang sepertinya akan “wow/bombastis” karena melihat judul/thumbnailnya, sampai akhirnya Anda klik dan Anda tonton.

Kita sering mendengar istilah “jangan menilai buku dari sampulnya”, namun ini salah besar, pada kenyataannya kita selalu menilai sesuatu dari penampilan luarnya, terkadang penampilan itu bisa lebih penting dari isi, apakah Anda ketoko buku membeli buku dengan cara merobek sampulnya lalu dibaca dan baru dibeli? Tentu Anda melihat seberapa bagus sampul/tampilan covernya dan memutuskan untuk membelinya atau tidak. Jika dari tampilan luarnya saja tidak menarik, tentu Anda tidak akan berniat untuk membelinya.

Tentu Anda jangan membuat janji yang berlebihan dan tidak masuk akal, namun selama janji tersebut masih bisa terpenuhi dengan kata lain “realistis” maka dongkraklah janji manis tersebut sebaik mungkin, contoh saya pernah membaca buku cara menjadi milyarder muda diusia 25 tahun, dijanjikan hasil pasti sukses/kaya selama kita juga bersedia mengikuti beberapa panduan didalamnya (toh kita ini yang kerja/cape bukan pembuat bukunya), ternyata cuma dipaparkan berbagai jenis bisnis yang sudah sering kita baca di internet, seperti disuruh usaha ternak lele, budidaya tumbuhan, investasi properti/saham, dll. Memang tidak bisa dikomplain karena janjinya (pasti kaya) bisa saja terjadi kalau kita juga berusaha sesuai panduan yang ada, namun masalah sebenarnya ada pada prakteknya yang tidak pernah berjalan sesuai ekspektasi kita, keadaan diluar sangatlah berbeda dengan idealisme pikiran kita, tapi faktanya buku tersebut tetap laku dan dibeli orang, toh yang jualpun juga tidak ambil pusing apakah ajarannya betul-betul dipraktekkan apa tidak oleh pembacanya karena bukunya yang penting laku.

Intinya adalah menjanjikan hasil besar/instan betul-betul bisa memotivasi seseorang untuk membeli dari Anda, janji ini bisa saja terpenuhi/tidak, namun siapa peduli karena pada akhirnya Anda berjualan untuk menghasilkan sales bukan janji, saya bisa katakan strategi pemasaran ini memang sedikit licik dan memanipulasi, namun pada akhirnya customer juga tidak begitu peduli dengan apa yang Anda janjikan, makanya jangan heran kalau kita sering melihat media menyebarkan berita hoax, membuat artikel/video palsu, dan konten-konten buatan yang memicu emosi/kontroversi, karena seperti itulah cara masyarakat kita bekerja, masyarakat cenderung bertindak berdasarkan emosi/perasaan ketimbang pikiran/logika, dan sayangnya sampai beberapa tahun kedepan saya masih belum bisa melihat keadaan ini akan berubah.