Alasan Mengapa Perempuan Jepang Enggan Menikah (Krisis Jodoh)

Perempuan selalu identik dengan pernikahan, apalagi bagi perempuan Asia. Di negara seperti Indonesia, Cina dan Jepang, perempuan berusia 25 tahun keatas jika belum menikah, pasti akan mendapat banyak pertanyaan dari keluarga dan para kenalan. Kini penduduk Jepang sedang mengalami krisis jumlah penduduk. Angka kelahiran yang semakin menurun disebabkan oleh semakin banyak penduduk Jepang usia produktif yang tidak menikah.

Setelah dilakukan riset dan penelitian, banyak faktor yang mempengaruhi mengapa perempuan Jepang betah melajang dan tidak ingin terikat pernikahan.

1. Biaya hidup tinggi

Jepang adalah negara yang memiliki biaya hidup tinggi, bahkan di beberapa sumber, jika biaya tinggal di Jepang hampir setara dengan tinggal di New York. Pasangan suami istri yang ingin hidup berkecukupan, minimal memiliki penghasilan di atas 350.000 yen. Dengan inflasi yang tinggi dan makin mahalnya kebutuhan hidup dan anak di masa depan, maka perempuan Jepang juga perlu bekerja keras. Perempuan Jepang dikenal dengan wataknya yang praktis dan bukan penyuka benda-benda mewah karena tempat tinggal di sana yang cenderung kecil dan ruang lingkupnya terbatas. Biaya sewa flat atau apartemen mini saja sudah cukup mahal, ditambah biaya sekolah anak dan lainnya. Daripada pusing memikirkan urusan finansial yang cukup mencekik, perempuan Jepang akhirnya memilih untuk melajang.


2. Pilihan antara karir dan full time mom

Berbeda dengan negara maju lain, perempuan Jepang yang sudah menikah, diharapkan mencurahkan fokusnya seratus persen hanya untuk mengurus anak dan keluarga. Sistem patriarki di negeri sakura tersebut masih sangat kental sehingga kedudukan perempuan di dalam keluarga adalah di bawah suami. Suami yang bertugas mencari nafkah sedangkan istri mengerjakan urusan rumah tangga sekaligus mendidik anak. Jika prestasi anak tidak terlalu bagus, ibu juga turut akan mendapat kritik dari ayah.

Tanggung jawab yang berat seperti itulah yang menurunkan minat perempuan Jepang modern untuk menikah. Mereka ingin menikmati hidup mandiri dan tidak ditekan oleh suami. Apalagi bagi perempuan yang memang menjadikan karir sebagai eksistensinya, maka menjadi ibu rumah tangga full time terdengar sangat tidak menarik.

Dalam dunia pekerjaan di Jepang, perempuan juga belum terlalu banyak mendapat porsi kepercayaan yang strategis. Untuk mencapai karir yang stabil, perempuan harus bersaing dengan banyak rekan kerjanya yang pria. Persaingan yang ketat itu membutuhkan curahan energi serta perhatian yang besar sehingga tidak ada ruang untuk memikirkan pernikahan.

3. Bekerja part-time tidak mencukupi

Para suami di Jepang sebagian besar hanya mengizinkan istrinya untuk bekerja part-time atau arubaito. Arubaito ini hanya memakan waktu setengah hari dan mendapat gaji mingguan atau harian. Tentu saja gaji yang diterima dari arubaito tidak sebanyak ketika bekerja purnawaktu di kantor. Kebutuhan ekonomi yang mendesak tentu tidak bisa dipenuhi hanya dengan bekerja sambilan. Perempuan Jepang yang berpikir terbuka dan menolak dominasi patriarki akan memilih untuk hidup independen, berkarya sesuai keinginannya, lalu mengabaikan pernikahan.

4. Ketidakcocokan dengan pasangan hidup

Tidak menikah bukan berarti perempuan Jepang memiliki kehidupan cinta yang kering. Jepang memiliki budaya unik di mana perempuan dikondisikan untuk berani menyatakan perasaannya terlebih dahulu, contohnya ketika hari Valentine. Berpacaran atau menjalin hubungan dekat dengan lawan jenis juga tak selalu berujung pernikahan.

Selain karena perempuan Jepang yang memiliki pekerjaan mapan dan juga pemikirannya berkembang, mereka juga mencari pria yang tidak masalah dengan kesetaraan perempuan. Walaupun keluarga dan sahabat menyelenggarakan kencan buta sesuai latar belakang pendidikan dan pekerjaan yang jelas, terkadang ketidakcocokan karakter menjadi masalah penting hingga hubungan tidak berlanjut ke jenjang pernikahan.



Menurunnya jumlah kelahiran bayi di Jepang, sebenarnya mendapat perhatian serius dari pemerintah. Jumlah pensiunan dan lansia yang terus bertambah akan menambah beban ekonomi bagi negara. Selama ini, biaya untuk merawat orang tua berusia lanjut dan pensiunan, diambil dari pajak pekerja usia produktif.

Bayangkan saja, jika angka kelahiran semakin menurun, dan jumlah orang berusia lanjut terus meningkat, maka angka penyetoran pajak dari usia produktif pun mengalami penurunan. Beban negara akan membengkak sehingga mulai mengancam stabilitas ekonomi. Efek negatif lainnya dari menurunnya minat perempuan untuk menikah adalah para pria menjadi lebih tertarik untuk berkencan dengan robot atau boneka seks untuk memenuhi kebutuhan biologis mereka. Robot atau boneka dianggap lebih menyenangkan karena tidak memberi banyak tuntutan.

Banyak usaha yang dilakukan pemerintah untuk menarik pasangan muda agar mau menikah mulai dari insentif untuk kelahiran bayi hingga rencana pembangunan day care untuk perempuan yang bekerja, sehingga bisa menitipkan bayi dan balita mereka di kantor atau lokasi terdekat. Pemerintah juga berkenan menggelontorkan dana untuk menggelar acara perjodohan. Di acara perjodohan tersebut, para perempuan dan laki-laki saling bertukar informasi pribadi serta melakukan penjajakan dengan tujuan pernikahan. Perdana Menteri Shinzo Abe memiliki cita-cita untuk meningkatkan angka pernikahan yang diikuti pertambahan kelahiran.

Ternyata masalah perempuan yang enggan menikah, akhirnya menjadi masalah nasional serius di Jepang. Mungkin ini bisa jadi kesempatanmu mencari jodoh di negeri sakura tersebut dan dengannya kesadaran untuk berkeluarga bisa semakin meningkat di Jepang.


Related Post: