4 Penyebab Kenapa Orang Jepang Semakin Sedikit (Krisis Penduduk)

Indonesia adalah negara dengan kepadatan penduduk terbesar nomor empat setelah Amerika Serikat. Negeri kita ini memiliki kemiripan dengan India dan juga RRC dimana kepadatan penduduk disebabkan angka kelahiran yang terus meningkat tiap tahunnya. Amerika Serikat ditengarai memiliki kepadatan penduduk karena banyaknya pendatang migran yang hidup di negara adidaya tersebut dengan meninggalkan negeri asalnya. Tentu saja berbeda dengan Jepang yang meskipun disebut sebagai negara maju dari kawasan Asia Timur namun memiliki masalah jumlah penduduk (krisis kependudukan).

Saat ini pemerintah Jepang menggalakkan program agar muda-mudinya mau menikah serta membangun keluarga, namun masalahnya adalah minat orang-orang muda di Jepang untuk menikah semakin lama semakin menurun. Menurut beberapa penelitian, jumlah warga Jepang akan menurun sampai 30% hingga hanya memiliki 87 juta penduduk di tahun 2060 nanti.

Penyebab menurunnya jumlah penduduk

Sebenarnya ada banyak faktor kompleks yang ikut mempengaruhi semakin berkurangnya jumlah penduduk di Jepang. Padahal dulu ketika awal pulau-pulau di Jepang itu didatangi pendatang, pertumbuhan penduduk melaju cukup tinggi sehingga kota Kyoto dan Nara di masa lalu dikenal sebagai salah satu kota terpadat di dunia. Dari laporan beberapa penelitian mendalam, inilah yang bisa disimpulkan sebagai penyebab menurunnya jumlah penduduk orang Jepang.


1. Perang

Jepang dikenal sebagai satu-satunya negara Asia yang berani menginvasi dan menjajah negara lain. Dimasa Perang Dunia 2, Jepang menunjukan nyalinya untuk menyerang negara-negara Asia-Pasifik berbekal tentara pemberani dan juga teknologi yang semakin canggih. Negara Jepang terkenal dengan prinsip ATM (amati, tiru, modifikasi), teknologi yang mereka pelajari dari negara barat, sudah dibentuk sedemikian rupa sehingga menjadi produk dengan versi yang lebih baik.

Keterlibatan Jepang di Perang Dunia memicu kemarahan negara lain seperti Amerika Serikat apalagi Jepang melakukan pemboman di Pearl Harbour. Serangan balasan dari Amerika Serikat berupa bom atom di kota Hiroshima serta Nagasaki tak hanya membunuh ratusan ribu jiwa namun juga menyisakan efek untuk generasi selanjutnya. Banyak bayi-bayi terlahir cacat atau malah meninggal karena efek radiasi bom atom beberapa tahun sesudahnya.

2. Bencana alam

Jepang memiliki kontur geografis yang rawan bencana. Negara ini merupakan jalur pertemuan gunung-gunung berapi dan juga gempa. Oleh sebab itu pemerintah Jepang mendesain bangunan-bangunannya supaya tahan gempa. Jika Anda berkunjung di rumah-rumah orang Jepang pasti akan jarang menemukan perabot bergantung dan besar.

Ruang tamu tidak memakai kursi melainkan tatami. Tsunami dan gempa telah cukup sering memakan korban jiwa yang tak sedikit. Menyadari bahaya tersebut, pelajaran menghadapi situasi disaat gempa adalah hal yang wajib diketahui penduduk Jepang sejak usia sekolah.

3. Menurunnya minat untuk menikah

Banyak sekali alasan yang mendasari orang-orang muda usia produktif di Jepang untuk tidak menikah. Yang pertama adalah biaya hdup yang mahal. Di Jepang, untuk menyewa apartemen, biaya hidup dan juga biaya pendidikan anak tidaklah murah sehingga banyak yang memilih untuk tetap single agar tidak mengalami pembengkakan biaya hidup. Selain itu dengan adanya kesadaran emansipasi untuk perempuan, banyak wanita karir di Jepang yang memilih untuk terus bekerja dan tidak menikah.

Dalam budaya Jepang unsur patrilineal masih cukup kuat. Seorang perempuan yang sudah menikah akan menjadi ibu rumah tangga karena prinsip kyoiku mama (ibu sebagai pendidik di rumah). Pria Jepang akan bekerja dan nantinya memenuhi kebutuhan rumah tangga serta biaya sekolah anak. Ibu bertugas untuk membagi pos keuangan dalam keluarga, mengarahkan anak agar bisa mencapai prestasi terbaik dan masuk sekolah favorit serta memastikan agar anak behasil mencapai gelar akademis bergengsi.

Sayangnya karena budaya hatarakibachi (workaholic) Jepang yang sangat kental membuat para ayah seringkali terlalu menuntut istri. Jika ada kegagalan dalam pendidikan, misal anak tidak mendapat nilai akademik terbaik di sekolah, maka ibu akan disalahkan. Banyak sekali kasus ibu rumah tangga bunuh diri karena merasa gagal dalam mengantarkan anak mendapat prestasi yang bagus. Perempuan Jepang pun semakin enggan untuk menikah bahkan ada yang memilih untuk mencari pria asing sebagai suami.

4. Robot penghibur pria

Jepang adalah negara dengan inovasi robot yang termasuk canggih di dunia. Berbagai teknologi robot untuk memudahkan pekerjaan manusia sudah diciptakan para ahli negeri ini, sampai ada robot yang khusus diciptakan untuk para pria Jepang. Robot itu disebut robot android atau humanoid yang sangat mirip manusia.

Pria Jepang yang tidak ingin berkeluarga dan enggan untuk berkomitmen dalam hubungan jangka panjang namun tak ingin merasa kesepian, akan membeli robot humanoid tersebut dan sudah cukup bahagia dengan adanya kawan yang mengisi kehidupan sehari-harinya. Kehadiran robot tersebut memancing pro kontra di tengah masyarakat Jepang.

Usaha pemerintah Jepang untuk mengatasi masalah jumlah penduduk

Pemerintah mengumumkan program tunjangan khusus untuk keluarga yang mau melahirkan lebih dari tiga anak. Bahkan yang lebih menyenangkan lagi, seorang ibu pekerja bisa menggunakan cuti yang cukup panjang baik sebelum dan pasca melahirkan. Cuti tersebut sebanyak enam minggu sebelum proses kelahiran dan 8 minggu pasca melahirkan. Masih banyak ide lain yang sedang direncanakan dan diharapkan dapat mengatasi masalah ini dimasa depan.

Itulah fakta-fakta mengenai jumlah penduduk di Jepang. Apakah Anda tertarik untuk memiliki pasangan orang Jepang?


Related Post: