Apa yang Harus Dilakukan Jika Tidak Mau Lanjut Sekolah / Kuliah

Apa yang harus dilakukan jika kita tidak mau melanjutkan sekolah/kuliah yang sedang kita jalani? Topik ini cukup kontroversial di kalangan pelajar yang sedang galau dalam menentukan pilihan hidupnya, sebagian dari mereka berpikir kalau kita tidak melanjutkan kuliah nanti mau jadi apa di dunia kerja, sebaliknya ada yang berpikir kuliah hanya akan membuang-buang waktu dan uang kalau kita tetap tidak tahu mau melakukan apa selanjutnya dalam hidup ini.

alasan kenapa drop out sekolah kuliah adalah pilihan yang salahKasus ini cukup dilema dan bisa berbahaya kalau kita sampai salah ambil jalan, disini saya hanya akan memberi perspektif dan opini pribadi sebagai seorang yang juga pernah drop out saat menjalani kuliah di semester 5, pertama saya ingin katakan bahwa kuliah tetaplah penting, terutama mendapatkan gelar tentu jauh lebih berguna walaupun nantinya akan terpakai atau tidak, lebih baik memiliki sesuatu dan tidak tahu mau melakukan apa ketimbang tidak tahu mau melakukan apa dan tidak memiliki apapun. Setidaknya dengan gelar Anda bisa mencari pekerjaan dengan lebih mudah apalagi di Indonesia status gelar masih sangat dihargai dalam seleksi interview kerja, sehingga akan jauh lebih baik kita menyelesaikan pendidikan sampai tuntas dan mendapatkan gelar yang bisa membantu kita memasuki akses dunia kerja.

Kalau Anda memang tidak mau kuliah lakukanlah sejak awal sebelum masuk/mendaftar ke universitas yang ada, nah pertanyaannya bagaimana dengan mereka yang sudah terlanjur ditengah kuliah karena terpaksa atau bingung mau melakukan apalagi selain kuliah dan sedang merasa tersesat dalam hidupnya? Sayapun dulu mengalami hal yang sama, saya baru menyadari kalau saya tidak menikmati jurusan yang saya pilih pada tahun kedua kuliah, lalu mengapa saya memilih DO? Saya bukan mahasiswa yang malas/bodoh, IPK saya termasuk bagus dan bahkan saya mendapat predikat mahasiswa berprestasi serta beasiswa, saat itu saya tidak bisa lagi menikmati proses belajar yang ada, pelajaran dan kelas terasa berat dan membosankan, saya tidak tahu ingin melakukan apa dalam hidup ini, dan saya tidak merasa kuliah bisa membantu saya mencari apa yang ingin saya lakukan selanjutnya, akhirnya saya memilih cuti lalu mencari pekerjaan sampai akhirnya saya bekerja dan tidak pernah kembali lagi ke bangku kuliah.

Ingat baik-baik jangan tiru apa yang saya lakukan (DO) karena saya akui itu adalah kesalahan yang bodoh, kalau disuruh memilih lagi mungkin sejak awal saya tidak akan kuliah sama sekali, namun sayangnya saya baru sadar hal itu setelah berada ditengah-tengah perkuliahan, saya teringat kata-kata Steve Jobs yaitu ia tidak tahu ingin melakukan apa dan merasa kuliah tidak membantunya sama sekali lalu DO dari universitas berharap semua akan baik-baik saja, sayapun melakukan hal yang sama, saya berharap semua akan tetap baik-baik saja walau saya tidak tahu harus/ingin melakukan apa, yang ada dipikiran saya waktu itu setidaknya saya tidak harus membuang-buang waktu dan uang di kuliah tanpa tujuan yang jelas, dan mulai mencari pekerjaan.


Apakah ada dampak negatifnya? Ya tentu. Apakah ada sisi positifnya? Ya.

Karena ini sudut pandang pribadi saya yang telah menjalani kuliah dan drop out, jadi opini ini akan terasa personal dan mungkin tidak berlaku untuk semua orang yang juga menjalaninya, tapi setidaknya dari share pengalaman ini semoga Anda yang sedang galau bisa mempertimbangkan dengan lebih baik lagi apa yang ingin Anda lakukan selanjutnya dalam hidup Anda.


Pertama kita mulai dari dampak negatifnya terlebih dahulu, sisi negatif yang terjadi (dan mungkin akan terjadi pada Anda yang memilih DO):

1. Kesulitan mencari pekerjaan

Saya perlu tekankan bahwa gelar sangatlah penting dalam mencari pekerjaan di Indonesia, walau gelar tersebut tak berhubungan dengan job yang Anda ambil, hal ini tetaplah penting sebagai akses pintu masuk menuju dunia profesional, jujur saya sendiri mengalami kesulitan yang luar biasa saat memasuki dunia kerja karena tidak memiliki ijazah, untungnya ada beberapa cara yang saya lakukan untuk mendapatkan kerja tanpa sarjana/ijazah S1, seperti membangun portofolio (website ini termasuk portofolio), menjual pengalaman freelance, mengambil sertifikat, dan lain-lain.

2. Kurang dihargai dibanding sarjana lain

Yang terkadang bikin saya malas dengan sistem perusahaan di Indonesia adalah masih banyak kantor yang menghargai karyawannya dari status gelar dan jabatan, seolah “siapa” Anda jauh lebih penting daripada kontribusi yang bisa Anda berikan, tentu tidak semua kantor seperti itu, tapi realitanya di Indonesia gelar dan status masih sangat dihargai dan dilihat sebagai penentu dalam menentukan bayaran, gaji, dan pangkat/kedudukan.

Saya cukup beruntung bisa bekerja di perusahaan yang tidak memandang gelar sebagai syarat utama, asalkan kita memiliki kualifikasi dan skill yang diperlukan kantor saya bisa menerima dan memberi bayaran yang layak.

3. Konsistensi Anda akan dipertanyakan

Berdasarkan pengalaman saya saat melamar kerja sana-sini, akan lebih mudah kalau saya tidak mencantumkan kuliah (hanya lulusan SMA dengan pengalaman kerja) ketimbang memaparkan bahwa saya pernah kuliah dan DO. Mengapa? Karena image anak DO dilihat dari sisi manapun sudah jelek/buruk dimata HRD, kita akan dilihat sebagai orang yang tidak konsisten dan tidak bisa menyelesaikan apa yang telah kita mulai (which is true).

Saya sudah coba berkelit dengan berbagai alasan dalam beberapa interview saat mengatakan alasan mengapa saya DO mulai dari tersesat, salah jurusan, tidak mau membuang-buang waktu dan biaya kuliah, sudah sibuk bekerja, sampai yang paling nyeleneh saya pernah bilang malas (yang menginterview saya sampai kaget mendengar jawaban tersebut) dan semua itu berujung pada penolakan, sebaliknya kalau saya bilang saya hanya lulusan SMA dengan pengalaman kerja tidak ada beban dimana saya harus menjelaskan kenapa DO dan sebagainya (kalau ditanya pernah kuliah saya jawab ga pernah), setidaknya dengan trik simpel tersebut peluang mendapatkan pekerjaan jauh lebih tinggi, dengan cara itulah saya bisa mendapat pekerjaan dan bisa pindah kerja ke kantor lain dengan mudah tanpa dibayang-bayangi status DO.

4. Akan datang banyak tekanan sosial

Entah dari keluarga, teman, maupun masyarakat, akan ada berbagai tekanan yang datang menghampiri, saya sendiri cukup cuek dengan apa yang orang lain pikirkan karena itu tidak akan membantu/mempengaruhi apa-apa dalam perjalanan hidup saya, tapi tidak semua orang bisa menghandle tekanan sosial tersebut, secara tidak langsung orang-orang disekitar Anda seperti orang tua dan keluarga juga akan terkena dampaknya, bayangkan jika Anda memiliki anak/saudara yang DO pasti akan muncul prasangka-prasangka dan beragam pertanyaan.

Biar bagaimanapun DO bukanlah pilihan yang baik, biar bagaimanapun memiliki gelar dan lulus tetap lebih baik entah ilmunya terpakai atau tidak, sayapun tidak menyarankan berhenti kuliah walaupun saya sendiri melakukannya, pada akhirnya terserah Anda karena toh Anda yang menjalani bukan orang lain.


Memang DO pasti lebih banyak negatifnya, tapi ada beberapa hal positif yang terjadi setidaknya pada saya setelah memutuskan DO yaitu:

1. Learn how to survive

Salah satu hal yang paling saya apresiasi dalam berhenti kuliah adalah saya belajar untuk tidak menggantungkan hidup saya pada institusi, gelar, pendidikan, status, pekerjaan, perusahaan dan orang lain. Saya bertahan hidup menggunakan apa saja yang sudah ada untuk mencari uang, mencari ilmu, mencari kerja, semua dilakukan secara otodidak (karena tidak ada yang mau menerima), blog yang sedang Anda baca inipun sebenarnya lahir dari rasa keputus-asaan terhadap penolakan-penolakan yang terjadi pada saya diluar sana, Solusik adalah tempat dimana saya bisa merasa sangat produktif disaat banyaknya kegagalan dan penolakan yang ada.

Dan saya sangat bersyukur karena kalau saya tidak pernah DO mungkin blog Solusik ini tidak pernah ada, saya tidak akan pernah memulai bisnis online, karena kalau Anda perhatikan semua isi blog ini seperti diary catatan perjalanan hidup saya mulai dari sekolah, bekerja, menjalani berbagai bisnis online, freelance, bahkan sampai bermain game.

Faktanya saya tidak tahu apakah saya akan memiliki kehidupan yang lebih baik jika melanjutkan kuliah/tidak, saya rasa keduanya akan berakhir baik selama kita keep moving forward dan tetap bekerja keras setiap hari untuk memperbaiki hidup ini, jadi pada akhirnya semua tetap kembali lagi pada usaha masing-masing orang.

Jujur bertahan hidup sebagai seorang DO jauh lebih keras ketimbang menjadi lulusan S1 yang lebih dihargai orang, namun kita ambil positifnya saja setidaknya kita bisa hidup tanpa harus mengandalkan gelar/sesuatu diluar diri kita, jika gelar hanyalah satu-satunya alasan untuk Anda merasa berharga dalam hidup ini maka jelas ada yang salah dengan diri Anda.

2. Belajar otodidak

Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, karena banyaknya penolakan yang terjadi pada saya, maka satu-satunya jalan untuk mencari tahu dan mengalami adalah dengan langsung melakukannya sendiri, saya mengambil pekerjaan freelance, mencari ilmu tentang digital marketing, e-commerce, blogging, dll dengan melakukan semuanya sendiri, mulai dari membuat website toko online, membuat blog Solusik ini, membuat channel YouTube, menjual jasa sosial media, sampai akhirnya ada digital agensi yang mau menerima saya (berkat portofolio), dan bahkan penghasilan yang saya dapat dari bisnis online yang ada sudah jauh lebih besar dari pekerjaan saya di kantor.

Ketika tidak ada yang mau mengajari, tidak ada yang mau menerima, ketika sistem sudah tidak mengijinkan dan memberi kita akses, maka satu-satunya cara adalah dengan melampaui sistem tersebut (bypass the rule) dengan mengambil tindakan sendiri entah memulai bisnis online Anda sendiri, menjual karya Anda secara langsung, sudah banyak platform dan medium yang bisa memfasilitasi skill dan kemampuan Anda, sosial media, YouTube, blog/website, internet sudah memberikan kita peluang tanpa batas, jadi yang perlu kita lakukan hanyalah show off dan tunjukan pada dunia apa yang kita bisa.



pilih lanjut sekolah kuliah atau langsung bekerjaTerlepas dari baik buruknya DO, saya tetap tidak menganjurkan siapapun yang sedang menjalani perkuliahan untuk berhenti sekolah, saya tahu rasanya ketika malas dan tidak niat ditengah-tengah kuliah, faktanya hal yang sama juga akan terjadi pada Anda diluar setelah kehidupan sekolah, ketika kita bekerja hal yang sama juga akan terjadi, ketikan kita berbisnis, saat saya ngeblog selama 1 tahun saya sempat merasa stuck, bosan, malas dan tidak ada niat lagi untuk melanjutkan (sewa domain hosting sempat ingin saya putus), namun disinilah saya menulis artikel ini dan terus ngeblog selama 2,5 tahun (menuju tahun ketiga), alasan kenapa saya bisa bertahan adalah karena saya menyukai apa yang saya lakukan, saya suka membagikan perspektif sudut pandang dan opini saya, karena diluar sana tidak akan ada orang yang mau mendengar “bacotan anak DO” sedangkan disini saya memiliki puluhan ribu pembaca setiap harinya yang datang untuk membaca artikel-artikel baru yang saya berikan.

Saya sarankan tetaplah kuliah jika Anda:

  • Anda tidak memiliki plan-B atau rencana cadangan, jauh lebih baik tetap kuliah walaupun bingung, setidaknya Anda akan mendapat gelar, daripada luntang-lantung ga jelas tidak tahu mau melakukan apa dan tidak memiliki gelar untuk mencari pekerjaan yang stabil. Banyak orang yang bingung mau melakukan apa dalam hidupnya namun tidak melakukan apa-apa untuk mencari tahu hal tersebut, melakukan sesuatu apapun itu adalah cara terbaik untuk menemukan apa yang ingin Anda lakukan dan sekolah/kuliah adalah salah satu bagian dari pencarian tersebut, jadi tetap lebih baik kuliah dan kebingungan daripada nganggur dan kebingungan.
  • Anda sudah memasuki semester akhir, ibaratnya tanggung kalau Anda berhenti pada semester 7 karena hanya dalam setahun Anda akan mendapat gelar yang akan menjadi nama baik seumur hidup Anda, biar bagaimanapun gelar dalam bidang apapun jauh lebih baik daripada tidak ada gelar sama sekali, predikat lulusan A jauh lebih baik daripada cap “anak bekas DO”, inilah salah satu hal yang paling saya sesali dari berhenti kuliah.
  • Anda ingin menapaki dunia karir di perkantoran, percayalah di Indonesia gelar dan status pendidikan masih sangat penting, tanpa gelar walau Anda memiliki skill yang diperlukan tetaplah sulit untuk bisa masuk kedalam perusahaan-perusahaan top apalagi level internasional.

Sebaliknya kalaupun Anda tetap memutuskan untuk DO pikirkanlah dulu dengan matang (sayapun tidak berhak memaksa/melarang karena saya sendiri juga melakukannya), saya sadar bahwa semakin kita larang orang malah akan semakin memberontak, sama seperti pengguna narkoba kalau mereka ingin memakai narkoba mereka akan tetap melakukannya walau kita larang sekeras apapun dengan penjelasan logika dan pendekatan apapun, realitanya manusia itu lebih kompleks dari sekedar teori-teori idealis yang ada, kita bisa membantu dan mengarahkan namun semua tetap kembali pada kemauan individu tersebut, memberikan jalan/solusi tidak lantas menjamin seseorang akan menjalaninya, so if you wanna do it, you gonna do it anyway, artikel inipun tidak akan membantu/menghentikan Anda kalau Anda memang sudah memutuskan untuk DO, namun setidaknya cobalah lakukan beberapa hal berikut:

  • Komunikasikan dengan keluarga Anda terlebih dahulu, apalagi jika kita masih dibiayai oleh orang tua, karena pada akhirnya mereka akan tahu, jadi sebaiknya bicara dan diskusikan bersama alasan kenapa Anda ingin DO dan dengarkan pandangan/nasihat yang mereka berikan.
  • Tanyalah pada diri Anda mengapa Anda ingin DO, apakah karena ingin memulai suatu bisnis, ingin menghindari pelajaran, malas dengan dosen/lingkungan yang ada, kekurangan biaya, apapun itu jika faktornya adalah internal (karena diri sendiri) coba tanya kembali apakah hal itu bisa diperbaiki, jika memang tidak, tanya lagi apakah DO adalah jalan yang tepat?
  • Bisakah Anda bertahan hidup diluar sana, apa yang akan Anda lakukan setelah berhenti sekolah? Bekerja? Apakah Anda memiliki tabungan untuk membiayai hidup Anda? Atau lebih parah Anda masih berharap uang dari orang tua? Kalau Anda nganggur apakah Anda bisa mendapat suatu pekerjaan? Apakah Anda sudah menentukan apa yang ingin Anda lakukan jika sudah tidak memiliki kegiatan sekolah? Pertimbangkanlah hal ini karena dunia nyata tidak semudah yang Anda kira, jangan asal nekat melepas pendidikan dan berharap semua akan baik-baik saja, karena sekolah dan kuliah hanyalah simulasi, dunia kerja dan realita bisa sangat jauh berbeda dari apa yang Anda bayangkan selama ini, kalaupun Anda tidak yakin coba saja cuti 1 semester terlebih dahulu dan rasakan pengalaman mencari kerja dan uang tanpa gelar apapun. Jika dalam kurun waktu 6 bulan Anda tidak sanggup bertahan hidup/mencari kerja, maka sebaiknya tetaplah kuliah dan lanjutkan belajar dengan baik.
  • Seberapa penting faktor kuliah dalam karir Anda, jika Anda ingin menggeluti bidang seperti kedokteran, medis, hukum, dll dimana kuliah adalah satu-satunya jalan, tentu mau tidak mau Anda harus menyelesaikan studi yang ada, lain cerita kalau Anda ingin berbisnis, menjadi seniman, berdagang, dan semacamnya yang tidak perlu syarat pendidikan formal untuk melakukannya.

Mengarahkan seseorang tidak lantas membawanya kepada jalan yang kita inginkan, kita bisa membimbing dan memberi jalan, tapi belum tentu orang tersebut akan menjalaninya, hidup terlalu penuh misteri, siapa saja bisa berubah kapanpun secara tiba-tiba, sayapun bisa saja berubah dan memberi nasihat yang kontradiktif dengan apa yang sudah saya tulis sebelumnya, jadi pada akhirnya keputusan tetap berada di tangan Anda sendiri.

Akhir kata saya tidak menganjurkan siapapun untuk berhenti sekolah namun saya juga tidak bisa mencegah siapapun yang memang sudah memutuskan untuk drop out dari dunia pendidikan, apa yang bisa saya lakukan adalah memberi masukkan sudut pandang pribadi (sebagai orang yang juga telah mengalaminya), memberikan contoh plus minus yang mungkin akan terjadi, dan berharap Anda bisa menentukan jalan hidup yang lebih baik, pada akhirnya dunia kuliah memang penuh pertimbangan dan dilema karena banyak hal-hal yang bisa kita kritisi dari sistem pendidikan terutama di Indonesia, tapi yang terpenting adalah jangan pernah berhenti belajar karena pelajaran yang sebenarnya baru akan dimulai setelah Anda meninggalkan bangku pendidikan.


Related Post: