Kenapa Masyarakat Kita Terasa Makin Bodoh & Terpecah Belah?

Mengapa masyarakat dan netizen Indonesia gampang sekali dibodohi sama acara settingan dan terpecah oleh politik, agama, dll? Padahal informasi sudah bertebaran gratis dimana-mana, asal kita mau cari tahu sedikit kita bisa membedakan mana yang real benar-benar mendidik dan mana yang membodohi, mana yang sifatnya memecah belah (adu domba) demi kepentingan tertentu dan mana yang jujur. Kok masih ada aja orang yang percaya bumi itu datar, kok masih ada aja yang percaya acara setan-setanan di TV, kok masih ada aja orang yang suka mantengin acara alay yang tidak mendidik padahal konten yang lebih baik/berkualitas bisa diakses dengan mudah? Sebegitu sulitnya kah jadi netizen cerdas?

Ini pertanyaan yang sangat bagus dan jawabannya cukup kompleks, sayapun sering bertanya-tanya kenapa ya acara yang udah jelas-jelas bohongan bisa terus populer sampai merambah ke YouTube, sosmed, dll, kenapa settingan receh model begini selalu ada penontonnya dan mendapat tempat di Indonesia, masa iya penonton kita sebodoh itu, jaman begini orang masih ga bisa bedain mana settingan dan yang real, faktanya apapun yang dipertontonkan kepada kita hampir 99% adalah settingan, mau itu acara setan, prank, termasuk sosial eksperimen, toh selama formatnya masih berupa video (direkam secara sadar dan di upload oleh pemiliknya) artinya konten tersebut 100% sudah teratur dengan baik, yang jadi masalahnya adalah konten seperti ini memang ada peminatnya.

Diluar sana ada orang yang betul-betul suka menonton acara alay, acara setan-setanan, dan settingan/drama sejenis, kok bisa?Kenyataan pahitnya adalah memang seperti itulah cerminan mayoritas penonton kita, jadi mau kita sindir/gugat seperti apapun si pembuat acara juga tidak ada gunanya, toh permintaannya (demand) tetap ada dan banyak yang nonton, ini masalah yang tidak akan pernah kelar sama seperti kasus narkoba dan judi, kita berusaha mencegah dari sisi supply (penyedia) seperti memblokir akses situs-situs negatif, menghukum para pengedar, dan sebagainya, namun yang lebih penting adalah kita harus mengedukasi dari sisi peminat (demand), karena selama ada permintaan sampai kapanpun penjual akan mencari cara untuk memenuhinya.

Informasi yang kita konsumsi sama pentingnya seperti makanan yang kita masukkan kedalam tubuh, konten tersebut mempengaruhi cara berpikir kita, cara kita menggunakan logika, cara kita mengontrol emosi, cara kita berkelakuan dan memahami orang lain. Disaat informasi dan konten sudah terlalu banyak apa yang biasanya terjadi? Kita menjadi semakin malas, kita menjadi semakin pasif (malas memilih), kita menerima apa saja yang dipertontonkan pada kita, apa yang ada di depan mata, itulah sebabnya yang trending akan semakin trending, yang kontroversi akan semakin kontroversi, drama akan semakin viral, dan konten yang populer akan semakin dangkal.


Mengapa dengan informasi yang masif ini masyarakat kita bisa semakin bodoh dan terpecah belah? Bukannya dengan semakin mudah akses informasi yang ada kita akan semakin pintar dan bersatu? Ada 3 alasan mengapa informasi yang bertebaran dimana-mana malah bisa menjadi blunder:

1. Ledakan konten membatasi pikiran kita

Semakin banyak informasi yang ada, semakin sedikit perhatian yang bisa kita berikan, karena waktu kita terbatas, jadi kontennya makin banyak sedangkan waktu kita untuk mengkonsumsi konten tetap sama. Diluar sana semua orang berusaha menjual sesuatu kepada Anda, semua kreator berusaha menjual waktu dan perhatian Anda, sebagian konten ada yang berguna dan sebagian lainnya ada yang sampah.

Saya sendiri berusaha sejarang mungkin membuka YouTube, namun disana terdapat banyak konten-konten yang bagus serta beberapa kreator favorit saya, sebenarnya ada banyak sekali konten bermanfaat dan punya high value di internet, namun seringkali mereka terkubur oleh konten-konten clickbait, drama, fake news, dan secamamnya, karena ironisnya engagement konten toxic lebih besar dari konten yang berkualitas, banyak haters yang tidak sadar kalau upaya mereka nyinyir dan terus mencela konten sampah hanya akan membuat konten tersebut makin tersebar dan viral, memang ini sudah jadi penyakit lama yang sulit disembuhkan, kalau ibarat artis penyakitnya narkoba, politisi penyakitnya korupsi, youtuber penyakitnya suka bikin drama dan clickbait, maka netizen penyakitnya adalah hobi nyinyir dan kepo.

Penyakit netizen inilah (nyinyir dan kepo) yang sering dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk terus mengeksploitasi kebodohan di masyarakat, kalau kelakuan netizen kita masih begini terus jangan heran beberapa tahun kedepan bakal ada tayangan jin transgender masuk ke studio TV dan alien yang kesurupan.

2. Sosial media semakin mudah memecah belah kita

masyarakat mudah terpecah belahSaya ingat betul dulu di YouTube ada kejadian yang sangat bodoh dimana netizen membagi youtuber menjadi 2 kubu antara kubu positif dan kubu negatif, perpecahan seperti ini juga sering terjadi di semua sosial media seperti Facebook, Instagram, dll. Inilah yang terjadi jika semua orang dikumpulkan dalam suatu wadah (sosmed), pertama mereka akan mencari orang-orang yang sama/sepemikiran dengan mereka, lalu mereka akan membentuk grup sendiri-sendiri (seperti grup Facebook dan grup fans tertentu), akhirnya mereka membentuk budaya dan bahasanya sendiri, akibatnya akan ada kubu A yang berseberangan dengan kubu B dan seterusnya.

Kehadiran sosial media justru mempermudah kita menjadi semakin intoleran, kita semakin sulit menerima sudut pandang orang lain, kita menjadi tidak open minded, dan kita menggunakan lautan informasi yang ada untuk mencari pembenaran bukan kebenaran, kenapa? Karena kita pada dasarnya sangat mudah dimanipulasi dalam berkelompok, kita sangat mudah dipengaruhi lingkungan, saat sekolah kita membentuk gang, saat kuliah kita membentuk organisasi, dan seterusnya sampai akhirnya dengan internet semua orang dapat dengan mudah membentuk kelompok sendiri-sendiri untuk membedakan dirinya dari kelompok yang lain.

3. FOMO (fear of missing out)

Kita semua punya rasa takut akan ketinggalan, kita semua pada dasarnya itu kepo, namun kita perlu lebih dalam menggali apakah kita ketinggalan sesuatu yang baik atau buruk. Tidak semua hal yang trending atau jadi perbincangan perlu kita ketahui, tidak semua yang sedang viral perlu kita tonton, dan ini cukup sulit mengingat dengan semakin banyaknya informasi yang ada, kita menjadi semakin malas memilih dan menikmati apa saja yang sudah ada di depan mata (no. 1), seperti apa yang sedang trending, apa yang sedang kontroversi, dan juga clickbat/thumbnail yang menggoda.


Lalu apa solusinya supaya kita tidak semakin bodoh dan terpecah di jaman internet seperti ini?

Pertama mulailah dari diri sendiri dulu, jadi netizen cerdas yang tidak nyinyir saat melihat konten sampah/settingan beredar di internet, stop making stupid people famous, jangan kepoin artis/orang yang memang hobi bikin kontroversi, berhenti mengeklik judul yang lebay (yang udah jelas clickbait) dan thumbnail yang miss leading, jangan membuat konten toxic dan kanker semakin menyebar di antara kita.

Kedua (tidak harus tapi tidak ada salahnya dicoba), cobalah mengedukasi masyarakat kita dengan konten yang mendidik, mendidik disini bisa melalui hiburan yang berkualitas (mengedukasi tidak selalu harus dibawa secara serius), bikin artikel/video yang ada isinya, dan buat cara berpikir masyarakat kita menjadi lebih baik.

Walau hampir semua orang memiliki akses internet yang sama, namun tidak semua orang punya paham dan pengertian yang sama untuk memanfaatkan akses tersebut, sebagian orang menggunakan akses informasi yang ada untuk membodohi dan memecah belah, sebagian ada yang menggunakannya untuk mempelajari hal-hal baru, memperoleh skill-skill baru, dan menyatukan perbedaan yang ada, kalau kita sebagai pengguna tidak menggunakan waktu dan perhatian yang kita miliki dengan bijak, maka masyarakat kita hanya akan semakin bodoh dan terpecah di era informasi ini, bagaikan kuda yang mati di ladang rumput.


Related Post: