Inilah Cara Media Menipu Anda Untuk Sebuah Klik

clickbait dimana-manaSudah bukan rahasia lagi bahwa semua orang berusaha menarik perhatian Anda untuk sekedar view, klik, dan sales. Tidak sedikit dari mereka akan menggunakan cara-cara licik dan cenderung “menipu” untuk menarik perhatian Anda. Faktanya hampir semua media pasti pernah memainkan trik/tipuan clickbait didalam headline artikelnya.

Apakah Anda sering merasa frustasi dengan media-media yang ada karena sudah menghabiskan banyak waktu untuk menelusuri judul demi judul dan artikel demi artikel namun tetap tidak mendapatkan apa-apa pada akhirnya?

Pada artikel kali ini saya akan tuntas habis bagaimana cara media-media ini mempermainkan Anda, apa saja trik yang mereka lakukan, bagaimana kita sebagai pembaca dapat mengenali dan menghindarinya.

Biasanya trik ini sering terjadi di media sosial khususnya Facebook. Ada 3 trik yang sering dilakukan dan ironisnya terbukti efektif, yaitu:

  1. Judul clickbait
  2. Konten ego bait (dan misleading thumbnail)
  3. Kontroversi (yang disertai drama atau hoax)

Mari kita bahas satu per satu.


1. Judul clickbait

judul clickbaitMiris sekali bahwa judul-judul clickbait seperti ini sering dilakukan oleh media-media besar dengan jutaan views setiap bulannya, tidak heran banyak blog dan media lain akhirnya meniru strategi yang sama.

Masalahnya adalah mayoritas konten dengan judul clickbait seperti ini tidak ada isinya (tidak berkualitas) dan pembaca hanya akan menyia-nyiakan waktunya begitu saja.

Ada 2 sebab mengapa hal ini bisa terjadi:

  • Dari sisi media yang menekan penulis/karyawannya, mereka (para penulis) biasanya ditarget dengan jumlah PV (pageviews) sebagai KPI, sehingga memaksa penulis menggunakan segala cara termasuk clickbait untuk mendapatkan views yang ditargetkan.
  • Dari sisi masyarakat Indonesia yang malas membaca, mayoritas pembaca selalu terjebak dengan judul clickbait berkali-kali, artinya walaupun tahu itu adalah judul clickbait, toh mereka tetap akan mengecek isi artikel tersebut (karena judulnya).

Jadi media hanya memberikan thin content (konten tidak berkualitas) dan diberi judul fantastis, lalu pembaca mengeklik judul tersebut dan hanya melakukan scan kilat (hanya melihat poin-poin atau sub-judul) terhadap artikel tersebut.

Bagi media tidak penting apakah artikel tersebut dibaca atau tidak, toh mereka sudah dapat klik/views yang diharapkan, dilain sisi pembaca juga malas membaca konten secara keseluruhan sehingga media ini hanya memberikan konten seadanya saja, akhirnya yang sering terjadi adalah artikel dengan judul heboh namun hanya berisi paragraf/kalimat pembuka kosong dan isi yang tipis tanpa makna.

Hal ini juga pernah dibahas Tech in Asia dalam artikel: judul clickbait dan kebiasaan malas membaca orang Indonesia. Namun masalah sebenarnya adalah dari sisi pembaca yang tetap saja mengeklik judul-judul seperti itu, sehingga kasus seperti ini terus terjadi lagi, lagi, dan lagi.

Pembaca harus pintar membedakan antara clickbait positif dengan clickbait negatif yang merugikan. Sebenarnya clickbait itu sendiri bukan sesuatu yang salah, ini hanyalah strategi marketing namun penggunaannya sering disalah gunakan demi mencari trafik & profit.

Perhatikan judul-judul seperti:

  • 10 tips mendapatkan gelar S1 tanpa kuliah, tips no. 4 sangat brilian.
  • Reaksi artis ini saat ditanya mengenai istrinya sangat mengharukan.
  • Cara mendapatkan ratusan juta bahkan milyaran dari AdSense (biasanya blogger nih yang sering begini)
  • Tikus got ini makan buaya hidup-hidup, apa yang terjadi selanjutnya betul-betul mengejutkan.

Dengan membaca judulnya saja sudah terlihat kemungkinan besar isinya sampah dan tidak berguna. Perhatikan bahwa media yang melakukan clickbait negatif (judul lebay, isi sampah) selalu melakukan hal yang sama berulang-ulang, sehingga cara terbaik menghindari trik seperti ini adalah dengan memblack-list/block medianya (websitenya), saya tidak akan sebut media apapun disini, tapi media-media seperti ini banyak sekali berkeliaran di Facebook.

Selama judul clickbait masih ada pengekliknya maka hal itu akan dilakukan terus-menerus, jadi kitalah yang harus pintar memilah-milah mana judul clickbait yang positif dan mana yang hanya merugikan.

Inilah beberapa ciri judul clickbait negatif:

  • Biasanya bersifat “too good to be true”, terlalu bagus untuk menjadi kenyataan atau terlihat mustahil
  • Cenderung heboh, dibuat-buat dan memicu kontroversi
  • Tidak menjelaskan/mewakilkan isi artikel dan hanya memancing rasa penasaran, intinya pembaca hanya dibuat bertanya-tanya tanpa tahu gambaran dari isi artikel tersebut

2. Konten ego bait + miss-leading thumbnail

konten ego baitsumber gambar: Mashable.com

Trik ini jauh lebih berbahaya karena biasanya mereka yang tertipu tidak sadar dirinya sedang dimanfaatkan. Konten ego bait (memancing emosi/ego pembaca) sering terjadi disosial media khususnya Facebook. Saya akan jelaskan teori singkatnya.

Begini, jika Anda punya akun Facebook, saat memposting suatu status/foto maka sistem Facebook akan memfilter postingan Anda dan hanya memperlihatkan postingan tersebut kepada beberapa teman Anda yang betul-betul tertarik (engage) dengan Anda.

Ini dinamakan organic reach, hal ini berlaku pula untuk Fanpage bahkan Youtube juga melakukan hal yang sama. Artinya kalau saya punya Facebook Page dengan 5.000 likes atau channel Youtube dengan 5.000 subscriber, maka jumlah fans/subscriber yang betul-betul mendapatkan notifikasi dari postingan artikel/upload video baru tidak akan mencapai 5.000 orang.

Hal ini tentu bikin media frustasi, harus ada “engagement” dalam bentuk klik, like, komen, dan share, karena sinyal-sinyal inilah yang menandakan adanya ketertarikan Anda dengan postingan tersebut. Itulah sebab biasanya apa yang sering muncul di halaman depan Facebook kebanyakan adalah foto-foto bayi, foto pernikahan, atau artikel-artikel kontroversi yang memiliki banyak klik/share/likes/komentar.

Namun bukan manusia namanya kalau tidak selalu mencari celah, filter engagement ini membuat orang-orang semakin pintar untuk menyurangi sistem dengan ego bait. Disini pembaca dipancing habis-habisan untuk melakukan interaksi entah positif atau negatif, contohnya (skala ringan) seperti gambar berikut:

konten yang memancing emosiGambar ini diposting oleh salah satu media penggemar anime di Fanpage-nya, tentu saja ini menjadi viral karena sudah jelas banyak yang like, komen dan share gambar tersebut.

Ini strategi marketing yang masih positif karena sifatnya hanya entertaining/hiburan semata, namun yang jadi masalah adalah ketika media lain menggunakan trik ego bait ini dengan cara yang menipu seperti menggunakan foto bayi cacat atau musibah dan meminta pembacanya untuk like atau “share kalau masih punya hati nurani” atau “katakan Amin” dan semacamnya.

Ini jelas-jelas penipuan, media hanya ingin kontennya viral tapi caranya menyesatkan karena Anda sebagai pembaca hanya dijadikan umpan/pion supaya postingan tersebut menjadi populer.

penipuan di facebookYang lebih buruk lagi beberapa media menggunakan misleading thumbnail (thumbnail = gambar pada sebuah postingan), gambar ini biasanya seperti foto-foto aneh, gambar porno, dan apapun yang memancing pembacanya untuk klik/melihat gambar tersebut.

Setelah di klik ternyata isinya berbeda dengan apa yang diharapkan, namun apa mau dikata, Anda sudah terlanjur menyumbang klik/views untuk postingan tersebut dan dengannya semakin mudah postingan tersebut menjadi viral.

Biasanya artikel/kontennya cenderung dewasa, seperti “10 pose artis seksi ini bisa bikin mata melongo, celana sempit, sesak nafas, dan bla.bla.bla.” lalu disertakan gambar/thumbnail wanita seksi yang hampir telanjang atau disensor dan yang lebih parah lagi setelah masuk artikel tersebut isinya dibuat dalam beberapa page (1 pose 1 halaman), sehingga Anda harus membuka 10 halaman untuk melihat semua pose-pose tersebut (jebakan super).

Ingat Facebook menilai engagement dari: klik, view, like, comment dan share.

Tidak peduli apakah interaksinya positif atau negatif yang penting ada engagement, sehingga media akan menggunakan cara apapun untuk membuat Anda berinteraksi dengan sebuah postingan.

Solusinya adalah cuekin aja (just ignore it). Kalau Anda pernah tertipu dengan konten ego bait atau misleading thumbnail jangan memberikan komentar apapun karena justru Anda membuat artikel tersebut semakin tersebar ke lingkaran teman-teman Anda, solusi terbaik adalah dengan mengabaikannya (di block kalau perlu).

menghadapi penipuan sosial media


3. Kontroversi

jebakan kontroversiJika konten ego bait adalah King of bait (raja jebakan), maka kontroversi adalah God of bait (dewa dari semua jebakan).

Karena hebatnya sebuah kontroversi adalah “it works” walaupun orang-orang tahu itu hanyalah sandiwara ataupun hoax. Bayangkan kalau ada seorang pengacara ngajak tinju anak musisi terkenal siapa yang tidak terpancing?

Pada akhirnya semua media ini hanya ingin mengalihkan mata Anda kepada para advertiser (termasuk saya), dan cara tercepat untuk menjadi perhatian adalah dengan kontroversi. Inilah sebab artis sering bikin kasus settingan, berita hoax dimana-mana, dan isu-isu/drama politik sering menjadi topik perbincangan.

Karena kontroversi adalah cara termudah dan tercepat untuk menjadi viral. Ini adalah strategi cheap marketing yang paling efektif, contoh jika saya ingin menciptakan kontroversi cukup lakukan:

Cari orang yang populer –> fitnah dia –> fans-fansnya akan membelanya dan trafik berdatangan.

media hoax dan settinganContoh, misalkan bayar saja seorang artis bernama Rahmad untuk menyerang Ahox, pasti fans-fans atau “sahabat Ahox” yang setia akan membelanya habis-habisan, dan kebetulan juga si Ahox ini ada pembencinya (haters) jadi semakin seru dan penuh kontroversi.

Media tidak peduli mau diserang atau dibela, entah positif atau negatif, toh yang penting “jadi omongan”, semakin kontroversi semakin viral (efek bola salju), dengan terus membicarakannya kita membuat topik ini menjadi semakin populer dan dengannya semakin banyak headline-headline baru yang bisa diupdate.

Bahkan beberapa media rela mempertaruhkan reputasi untuk sekedar judul kontroversi ini (shameless headline), mereka mau mengambil resiko dicela hanya untuk sebuah views/klik. Pada akhirnya media hanya ingin perhatian Anda, waktu Anda, karena itu ada istilah bad news is a good news. Tidak ada yang namanya bad publish selama hal itu bisa mendatangkan trafik.

Memang kontroversi ini sangat mudah dilakukan (dan sudah sering terjadi), masyarakat mudah sekali terpancing emosinya, sehingga media juga sudah tidak peduli mau ketahuan atau tidak, yang jelas trik ini sangat efektif dan sudah terbukti nyata.

Jadi bagaimana solusinya?

Solusinya adalah jika Anda melihat sebuah kontroversi janganlah mudah terpancing, jika Anda melihat idola/publik figur yang Anda kagumi difitnah/diserang jangan bereaksi karena memang itulah yang diharapkan oleh pemfitnah tersebut.

Dengan membela atau menyerang pihak lain, kita hanya akan membuat topik tersebut semakin populer dan dengannya menambah seri-seri kontroversi yang berikutnya. Jangan memberikan respon (ingat reaksi apapun khususnya di sosial media akan dianggap sebagai engagement dan membuat konten tersebut semakin viral), abaikan saja, stay smart, dan bantu mengedukasi masyarakat menjadi lebih baik.



Itulah jenis-jenis trik yang dilakukan oleh berbagai media untuk menarik perhatian Anda, semua ini dilakukan hanya demi sekedar klik & view. Pada akhirnya apa yang ada dimedia adalah hasil bentukan dari perilaku Anda, sebagai konsumen Andalah yang menentukan, media hanya memberikan apa yang Anda mau.

Tugas media (termasuk blog ini) adalah menentukan konten apa yang ingin Anda konsumsi, jika Anda mau kontroversi maka mereka akan memberikannya, jika Anda ingin berita hoax maka mereka akan memberikannya, Andalah yang sebenarnya memiliki kekuatan.

masyarakat yang menentukanNamun sayangnya tidak semua orang sadar akan hal ini, masih banyak masyarakat yang membabi buta terus mengomentari berita-berita kontroversi, mencaci maki program-program yang tidak mendidik, menyebarkan konten-konten hoax, menyerang atau membela pihak tertentu dan terus seperti itu sehingga masalah ini tidak akan pernah selesai.

Mari jadi konsumen yang cerdas, abaikan semua kontroversi dan drama yang ada, bantu mengedukasi masyarakat menjadi lebih baik, sehingga dengannya mendorong media untuk memberikan program-program dan konten yang berkualitas untuk negeri ini.

Stay passion, stay smart, help to educate, and just ignore the bullshit.

abaikan media hoax


Related Post: