Dilema Terbesar Manusia Antara Logika Pikiran dan Perasaan Hati

Manakah yang lebih penting, logika pikiran atau perasaan hati? Mungkin Anda merasa kegalauan, rasa sedih, dan perasaan Anda adalah sesuatu yang penting, namun pada kenyataannya itu tidaklah begitu penting (tidak sepenting yang Anda kira), singkatnya perasaan hanyalah emosi sesaat yang terjadi begitu saja dan bisa berubah-ubah setiap waktu, kitalah yang menentukan seberapa penting atau tidaknya perasaan/feeling tersebut.

Pada dasarnya kita melakukan sesuatu berlandaskan 2 hal yaitu karena itu terasa baik (perasaan) dan karena itu sesuatu yang kita pikir adalah hal yang benar untuk dilakukan. Terkadang 2 alasan ini saling berdampingan (sesuatu yang baik dan benar), namun seringkali kedua alasan ini saling bertolak belakang, contoh saat kita bangun pagi-pagi dan joging sesaat padahal kita merasa malas (bukan sesuatu yang terasa baik tapi hal yang benar untuk dilakukan), atau sebaliknya saat kita sedang malas-malasan menonton TV/YouTube seharian mungkin kita menikmatinya tapi ini bukanlah kebiasaan yang baik secara jangka panjang (sesuatu yang terasa baik tapi tidak benar).

Bertindak berlandaskan perasaan adalah hal yang mudah dilakukan, kita merasakan sesuatu lalu kita bertindak, sama seperti menggaruk rasa gatal dikulit, ada rasa puas sesaat ketika kita melakukannya, tapi kepuasan/kenikmatan ini hanyalah sementara (cepat datang dan cepat pergi). Bertindak berlandaskan apa yang benar menggunakan logika pikiran adalah hal yang sulit dilakukan, pertama kita sendiri masih sering keliru dalam menentukan apa yang benar dan mana yang salah, kita harus berpikir keras menentukan dulu diawal apakah ini adalah hal yang tepat atau tidak, namun begitu kita berhasil melakukannya kepuasan dan efek positifnya akan terasa dalam jangka panjang, bahkan kita akan bangga dengan pencapaian tersebut sampai mati, melakukan sesuatu yang benar (berdasarkan pikiran/logika) akan membentuk siapa diri Anda dan memberikan makna dalam kesuksesan Anda.

Jadi supaya sukses kita tinggal mengabaikan perasaan dan melakukan hal-hal yang kita pikir benar? Simpel bukan?


Ya teorinya memang simpel, tapi bukan berarti hal ini mudah dilakukan, masalahnya otak kita selalu mempengaruhi keputusan kita sehari-hari, kita cenderung tidak menyukai sesuatu yang tidak pasti dan hasilnya tidak instan, otak kita akan melakukan berbagai cara untuk mempengaruhi pikiran kita bahwa apa yang terasa baik/feels good (perasaan) adalah hal yang benar untuk dilakukan.

Contoh perokok yang mulai mengalami gangguan pernapasan tahu benar bahwa sudah saatnya ia berhenti merokok, tapi otaknya selalu berkata “1 batang lagi ga akan bikin gw mati”, dan terus menerus ia merokok sebatang demi sebatang sampai akhirnya ia terkena kanker paru-paru (this is true story of my friend). No more is no more, jika Anda ingin betul-betul berhenti maka tidak ada lagi kata “one more”, karena alasan “1 lagi”, “ini yang terakhir”, dan sebagainya hanyalah alasan yang diciptakan otak kita untuk membuat sesuatu yang terasa baik/enak menjadi hal yang benar untuk dilakukan.

Contoh lain karyawan yang gabut (gaji buta) disuatu perusahaan, ia berpikir “ah gw kerja ala kadarnya juga dapet gajinya sama aja”, dan akhirnya ia malas-malasan bekerja sehingga posisi dan gajinya cenderung stuck disitu-situ saja, sesuatu yang ia “rasa” benar menjadi hal yang menurutnya betul-betul benar untuk dilakukan.

Jika kita terus melakukan hal ini secara jangka panjang, jika kita selalu meyakinkan diri bahwa “sesuatu yang terasa baik/nikmat” adalah hal yang benar untuk dilakukan, maka otak kita akan berpikir bahwa hidup ini hanyalah untuk mencari kenikmatan, kita hanya memikirkan ego diri sendiri dan berusaha memuaskan (perasaan) diri kita sesering mungkin. Hal inilah yang sering terjadi pada para koruptor, seorang koruptor punya otak dan tahu benar bahwa melakukan korupsi bukanlah perbuatan yang benar (mereka sadar korupsi itu salah), tapi mereka merasa bahwa dirinyalah yang lebih penting, perasaannya sendiri (individual) jauh lebih penting dari hidup/perasaan banyak orang lainnya, dan tidak heran mereka tega merebut kesejahteraan banyak orang hanya untuk dirinya sendiri, karena ia merasa hidup ini hanyalah untuk memuaskan perasaannya.

Cobalah renungkan diri sesaat, hampir segala permasalahan dalam hidup Anda kemungkinan besar terjadi karena kita terlalu baper dan cenderung mengabaikan logika/pikiran. Kita selalu merasa bahwa kitalah pusat/inti dari dunia ini (self center), kita selalu menganggap bahwa perasaan kita adalah keberadaan terpenting dalam hidup ini yang dimana itu benar dan juga salah, benar karena wajar saja semua orang menganggap dirinya adalah yang paling penting sebab ini adalah hidup kita sendiri, salah karena pada kenyataannya perasaan Anda tidak penting sama sekali bagi dunia dan orang lain.

  • Perasaan kita cenderung egois, perasaan kita hanya bisa dirasakan oleh diri kita sendiri, apa yang kita rasa baik belum tentu baik untuk orang lain, apa yang kita rasa enak belum tentu enak untuk orang lain, kita tidak bisa menentukan apa yang terbaik untuk masyarakat/lingkungan sekitar kita, yang bisa perasaan kita lakukan adalah menentukan apa yang terbaik untuk diri kita sendiri dan itupun terkadang juga bisa salah. Tentu Anda pernah merasa sesuatu yang kelihatannya menyenangkan dan akan menikmatinya jika hal itu terjadi tapi begitu kejadian ternyata hal ini tidak semenarik yang Anda kira (bahkan Anda tidak menyukainya).
  • Perasaan kita hanya bersifat sementara dan tidak pasti, perasaan hanya terjadi sesaat pada momen-momen tertentu, perasaan kita tidak bisa menentukan apa yang baik untuk kita dimasa depan, kita hanya bisa merasakan apa yang terjadi sekarang, dan terlebih perasaan kita seringkali salah dalam menentukan pilihan, saya punya teman yang dulu naksir dengan seorang wanita dan ia berkata “beruntung banget ya pacarnya, kalo gw jadi pacarnya pasti bakal bahagia banget”, beberapa bulan kemudian wanita itu putus dengan pacarnya dan jadian dengan temen saya tersebut, lalu tidak sampai setahun merekapun putus, ironisnya adalah temen saya yang awalnya memuja-muja wanita tersebut malah jadi benci pada akhirnya. Intinya adalah perasaan kita mudah sekali berubah-ubah dan sangat bersifat jangka pendek.

Mengapa sulit sekali mengatasi masalah perasaan?

Masalahnya adalah semakin Anda berusaha mengontrol perasaan maka emosi tersebut semakin menjadi-jadi dan tidak terkendali, pada dasarnya perasaan memang tidak bisa dikendalikan karena itu terjadi secara alamiah, sama seperti insting hewan, saat melihat sesuatu kita langsung menduga-duga (berprasangka), saat sesuatu terjadi kita langsung merasakan, bahkan pikiran kitapun terkadang juga sulit dikendalikan dan mudah dimanipulasi, contoh jika saya berkata “jangan membayangkan kelinci” apa yang muncul dikepala Anda sekarang? Kelinci bukan?

Kendalikan tindakan dan tujuan, bukan emosi/perasaan.

Itulah sebabnya kita menentukan impian, mimpi, cita-cita, goal, dan berbagai tujuan hidup, supaya kita tetap ingat apa yang betul-betul penting/berharga untuk dilakukan dalam hidup ini dan tidak mudah dimanipulasi oleh perasaan.

Kita tidak bisa mengendalikan perasaan, tapi kita bisa mengendalikan tindakan dan memikirkan tujuan kita dengan jelas, perasaan hanyalah emosi sesaat yang terjadi begitu saja, terkadang sesuatu yang baik bisa membuat kita merasa buruk, atau sesuatu yang buruk bisa membuat kita merasa baik, terkadang perasaan kita tersakiti untuk alasan yang benar, atau alasan yang salah, atau bahkan tanpa alasan sama sekali, perasaan tersebut tidak akan mengubah apapun kenyataan yang sudah terjadi, entah Anda merasa baik/buruk tidak ada yang peduli dengan semua itu, dunia tetap akan berputar.

Bukan berarti perasaan itu tidak penting sama sekali dan kita harus mengabaikan perasaan sepenuhnya, perasaan itu penting karena pada dasarnya inilah yang membuat kita menjadi manusia (terkadang perasaan ini juga yang membuat kita seperti binatang), namun perasaan tidaklah sepenting apa yang kita kira, pada realitanya pentingnya perasaan hanya bergantung pada seberapa besar kita ingin mengartikannya, sama seperti definisi kesuksesan, kita sendiri yang menentukan definisi perasaan tersebut, kita menentukan apa arti dari penderitaan yang kita alami, kita menentukan apa arti dari kesuksesan yang kita raih, hal inilah yang sudah mulai dilupakan banyak orang yaitu kita bebas menentukan arti dari perasaan yang kita alami yang dengannya kita sebenarnya juga bisa mengendalikan perasaan kita.

Sometimes it means nothing, sometimes it means the world, and in the end it doesn’t even matter at all.


Related Post: