Cara Mengatur Keuangan Melalui Sudut Pandang Orang Kaya

Pada artikel kali ini kita akan belajar bagaimana cara mengatur keuangan (manajemen uang) dengan cara yang berbeda yaitu melalui sudut pandang orang kaya.

Memang manajemen orang yang sedang tidak memiliki banyak uang dengan mereka yang kaya (memiliki banyak uang) akan sedikit berbeda, tetapi kita tetap harus mengambil pelajaran penting dari cara orang-orang kaya mengatur keuangannya.

Ada 3 aturan bijak yang sangat penting dalam keuangan dimanapun level Anda berada, yaitu:

  1. Hindari atau jangan pernah berhutang
  2. Cara menghabiskan uang jauh lebih penting dari cara menghasilkan uang
  3. Cara menghasilkan uang jauh lebih penting dari seberapa banyak uang yang dihasilkan

Mari kita bahas satu per satu.



1. Hindari hutang

hindari hutang dan kartu kreditDalam membeli aset atau berbisnis biasanya orang miskin akan berhutang, meminjam uang orang lain dimana nantinya mereka harus membayar lebih banyak dari uang yang sudah mereka pinjam. Sedangkan orang kaya menggunakan uang orang lain untuk berbisnis (join), menanggung resiko bersama, atau mencari investor sehingga resiko tidak sepenuhnya ditanggung sendiri.

Mindset inilah yang perlu kita pelajari dari orang kaya yaitu jangan mempertaruhkan uang Anda sendiri apalagi berhutang.

Aturan terpenting dalam keuangan yang pertama adalah jangan pernah berhutang kecuali memang sudah sangat terpaksa (kepepet). Saya menyarankan untuk menghindari penggunaan kartu kredit dan kalau memang sangat kepepet (butuh uang banget) jauh lebih baik meminjam uang keluarga/saudara/teman daripada berhutang pada pihak ketiga yang mengenakan bunga.

Kartu kredit itu jahat bukan sekedar bunganya saja, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi Anda menjadi orang konsumtif. Tanpa sadar Anda akan membeli barang-barang yang tidak Anda butuhkan, alasannya simpel karena “Anda punya kemampuan untuk membelinya”.

Inilah sisi terjahat dari kartu kredit, biaya administrasi tambahan/bunga itu masih tidak seberapa, memang biaya-biaya itu merugikan tetapi yang jauh lebih membahayakan adalah perubahan gaya hidup/konsumsi Anda yang semakin buruk, belum lagi mereka suka menawarkan promo diskon, program cicilan 0%, voucher gratis, dan hadiah-hadiah apapun yang “seolah” membuat Anda merasa rugi kalau tidak menggunakannya.

Itulah bisnis. Mereka ingin Anda menjadi konsumtif, meningkatkan ego dan gengsi Anda, tentu cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan membuat Anda seolah memiliki kemampuan untuk membelinya. Prinsipnya: Make it available and people will buy it.

Lalu bagaimana dengan mereka yang keuangannya kritis dan tidak memiliki keluarga/kenalan yang bisa membantu?

Tetap hindari berhutang, bisa Anda bayangkan kalau hidup sudah sulit ditambah hutang apa jadinya nanti?

Ada program bantuan pemerintah yang bisa diikuti, ada juga situs penggalangan dana seperti KitaBisa.

Jika Anda bisa menceritakan tujuan atau keadaan yang terjadi dengan baik maka pasti orang lain akan bersedia membantu (selama Anda jujur terbuka dengan kondisi yang sesungguhnya), intinya adalah jangan pernah meminjam uang dari orang lain apalagi kalau mereka mengenakan bunga.

Hutang adalah jalan terakhir (last option), itupun kalau memang sudah menyangkut hidup dan mati, selama masih bisa bertahan hidup maka jauh lebih baik hidup sehemat-hematnya semiskin-miskinnya karena percaya tidak percaya terlilit hutang bisa membunuh seseorang lebih cepat dari yang Anda bayangkan.

2. Cara Anda menghabiskan uang jauh lebih penting dari cara Anda menghasilkan uang

mindset orang kayaSetiap tahun harga barang selalu meningkat, biaya sekolah/kuliah terus naik, harga aset seperti rumah/tanah juga selalu melonjak tak terkendali, jika dibandingkan dengan pertumbuhan income/penghasilan seorang karyawan maka sama sekali tidak ada artinya.

Suka atau tidak suka inflasi ini selalu terjadi, artinya setiap tahun kita akan bekerja lebih keras untuk mendapatkan produk/kebutuhan yang lebih sedikit. Nilai uang (value) yang Anda miliki akan terus menyusut karena itulah selalu ingat bahwa:

Membeli ilmu/pengalaman > membeli produk/barang

Cara terbijak menghabiskan uang Anda adalah menukarnya dengan ilmu dan pengalaman seperti pendidikan (ingat pendidikan bukan hanya sekolah), pengetahuan, skill dan pengalaman-pengalaman berharga lainnya.

Ilmu dan pengalaman adalah aset permanen yang tidak bisa dicuri dari Anda selama-lamanya, dan sayangnya di Indonesia sendiri untuk mendapatkan pengalaman berharga ini mayoritas harus ditempuh melalui jalan formal seperti sekolah dan kuliah.

Jika Anda lihat bagaimana perusahaan-perusahaan disini menghire karyawan jelas gelar adalah “harga mati” yang harus dimiliki sebagai syarat seleksi interview, alternatif lainnya adalah dengan menjual pengalaman tapi kembali lagi untuk mendapat pengalaman tersebut ya Anda harus memiliki sesuatu yang bisa menjadi nilai lebih seperti gelar/prestasi lainnya.

Walaupun sekolah itu sendiri adalah bisnis (bisnis pendidikan) dan mereka juga tidak bisa menjamin Anda mendapat pekerjaan/pasti sukses, sekolah memberikan bekal gelar dan ilmu/skill yang cukup sebagai tiket untuk Anda masuk bekerja di perusahaan-perusahaan tersebut, sehingga bisa dikatakan sekolah/kuliah adalah salah satu investasi yang baik.

Namun tenang saja karena tidak semua pengalaman berharga hanya didapat melalui sekolah dan bekerja, masih ada alternatif seperti menjadi pengusaha dan industri kreatif dimana pendidikan formal bukanlah syarat mutlak yang harus terpenuhi.

Intinya orang kaya menghabiskan uangnya untuk membeli aset seperti pendidikan, pengalaman, berbisnis, dan investasi dalam bentuk lain, sedangkan rata-rata orang miskin akan menghabiskan uangnya dengan membeli barang/produk yang harganya setiap tahun semakin mahal dan nilainya akan menyusut setelah digunakan, terlebih beberapa dari mereka malah menggunakan kartu kredit/utang untuk membelinya.

Habiskan uang dengan bijak. Cara kita menggunakan uang jauh lebih penting dari seberapa banyak uang yang kita miliki, sekaya apapun kita tidak akan pernah merasa cukup karena manusia itu memang tidak akan pernah puas.

Jangankan orang miskin, orang yang sudah kaya saja masih mau menjadi lebih kaya lagi, maka dari itu kita sering melihat orang kaya semakin kaya dan orang miskin semakin miskin, penyebabnya simpel karena cara mereka menghabiskan uang sangat berbeda.

Orang kaya menjadi kaya karena mereka menghabiskan uang untuk mendapatkan uangnya kembali, berbeda dengan orang miskin yang menghabiskan uangnya untuk jangka pendek dan kepuasan sesaat.

3. Cara Anda menghasilkan uang jauh lebih penting dari seberapa banyak uang yang Anda hasilkan

cara pekerjaan menghasilkan uangMana yang Anda pilih:

  • Mendapatkan gaji 10 juta/bulan yang meningkat 10% setiap tahun atau
  • Mendapatkan gaji 100 ribu/bulan namun meningkat 50% setiap bulannya

Secara umum orang-orang akan memilih yang pertama (gaji 10 juta/bulan), namun orang yang betul-betul melihat masa depan jelas akan memilih opsi yang kedua.

Ilustrasi diatas sebenarnya sudah sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, lihatlah bagaimana orang berbondong-bondong mencari angka (gaji besar) ketimbang melihat “potensi” masa depan. Inilah yang membedakan mindset orang kaya dan orang miskin yaitu visi dan pemikiran secara jangka panjang.

  • Orang miskin hidupnya sudah sulit sehingga mau cepat-cepat kaya dan hidup enak.
  • Orang kaya menahan egonya dan bersenang-senang nanti.

Orang kaya lebih tertarik melihat pertumbuhan (growth) dan potensi penghasilan di masa depan itulah sebabnya banyak bisnis sekarang yang “seolah tidak mencari profit”, bukan karena mereka sama sekali tidak peduli dengan keuntungan, namun sebaliknya untuk mendapat profit sebaik mungkin mereka fokus pada pertumbuhan dan potensi di masa depan karena apa yang mereka tanam sekarang akan berbuah manis di tahun-tahun berikutnya.

Jangan hanya sekedar meningkatkan penghasilan Anda, tingkatkan potensi penghasilan di masa depan.

Bagaimana cara meningkatkan potensi penghasilan Anda? Cobalah:

  • Memulai proyek atau usaha sampingan. Faktanya hampir semua bisnis-bisnis besar yang kita lihat sekarang bermula dari sekedar iseng/proyek sampingan.
  • Gunakan sisa waktu yang ada (setelah bekerja) untuk belajar skil dan hal-hal baru yang mungkin bisa memperluas koneksi dan potensi karir Anda.
  • Jika Anda merasa bekerja ditempat yang salah, pertimbangkan untuk memulai usaha sendiri atau pindah ketempat kerja yang lebih potensial.

Mungkin terdegar klise tapi percaya atau tidak hal-hal simpel diatas tidak kita lakukan hanya karena kita merasa sudah cukup sibuk dengan urusan sekolah, kuliah, dan bekerja.



Kesimpulannya adalah pertama kita harus menghindari hutang, disaat kritis hiduplah secukupnya, sehemat-hematnya dan habiskan uang yang Anda miliki dengan bijak.

Cara terbijak menghabiskan uang adalah dengan menukarnya untuk sesuatu yang akan menghasilkan uang kembali di masa depan seperti sekolah/pendidikan, membeli ilmu dan pengalaman. Simpelnya tanyalah ini sebelum membelanjakan uang Anda:

  • Apakah uang yang saya keluarkan ini akan worth it dimasa depan?
  • Perlukah saya membeli barang ini? Kenapa saya harus membelinya?

Pada akhirnya memang kita tidak bisa bertahan dengan terus-terusan hidup hemat, mau tidak mau kita juga harus mencari penghasilan lebih, namun jangan hanya sekedar mengejar angka atau penghasilan yang besar, mulailah meningkatkan potensi penghasilan dimasa depan.

Cara terbaik meningkatkan potensi penghasilan salah satunya dengan berbisnis dan berinvestasi. Perluas wawasan, skill, ilmu, pengalaman, dan koneksi Anda. Fokus pada pengembangan diri dan bertumbuh (growth) setiap harinya bukan sekedar mencari gaji atau angka.

Dan yang jauh lebih penting pilihlah lingkungan yang membawa Anda ketempat yang lebih baik. Lingkungan yang buruk akan menjerumuskan Anda menjadi semiskin-miskinnya manusia, sebaliknya lingkungan yang baik akan membawa Anda pada kesuksesan dan memaksimalkan potensi diri Anda sebaik mungkin.

Hindari hutang, habiskan uang yang ada dengan bijak, dan carilah uang dengan cara yang bijak pula. Tidak peduli seberapa besar penghasilan Anda nantinya, Anda akan kaya dan tercukupi jika melakukan ketiganya dengan baik.


Related Post: