Cara Memenangkan Argumen adalah Dengan Memahami

mengapa saya selalu benarCara memenangkan argumen dengan seseorang adalah dengan memahami orang tersebut. Anda tidak bisa mengajarkan orang lain tentang sesuatu yang mereka tidak mau pahami, Anda tidak bisa memaksakan sebuah sudut pandang kepada orang lain yang tidak mau menerima sudut pandang tersebut.

Karena itu ada istilah “get into their nature”, dekatilah perlahan-lahan, akrablah dengan mereka, Anda harus memenangkan hatinya untuk mendapatkan persetujuan mereka. Jika 2 orang random yang saling tidak mengenal berargumen, maka sebagian besar hal yang terjadi bukanlah “adu argumen” melainkan “pembelaan diri sendiri” dan orang lain akan melihatnya seperti mereka sedang bertengkar (adu bacot).

Anda tidak bisa memberi pemahaman kepada seseorang yang tidak mau menerima pemahaman tersebut.

cara menang argumensumber gambar: lifehack.org


Ada 2 jenis pendekatan untuk memahami seseorang, yaitu pendekatan logis dan pendekatan emosional. Orang yang menggunakan pendekatan logis hanya bisa dipengaruhi melalui logika, sedangkan mereka yang menggunakan pendekatan emosional hanya bisa dipengaruhi dengan perasaan/emosi. Jika Anda ingin mengubah argumen seseorang, maka pertama Anda harus mengerti dulu pendekatan apa yang mereka gunakan.

Itulah sebabnya perdebatan agama, ras, politik, sains dan semacamnya tidak akan pernah selesai karena masing-masing memiliki pendekatannya sendiri, dengan logika selogis apapun Anda tidak akan bisa mempengaruhi orang yang percaya dengan pendekatan emosional, dan dengan perasaan selembut apapun anda tidak akan bisa mempengaruhi orang yang percaya dengan pendekatan logis.

To win logic use logic, to win emotion use emotion. Untuk memenangkan logika hanya bisa dilawan dengan logika, begitu pula sebaliknya untuk memenangkan perasaan/emosi seseorang hanya dapat dilakukan melalui perasaan juga.

Anda tidak bisa berargumen dengan haters, karena mereka tidak berargumen dengan Anda.

apa itu haters adalahKurang lengkap rasanya kalau membahas soal argumen dan perdebatan tanpa menyinggung haters, sampai kapanpun Anda tidak akan bisa berargumen dengan haters karena mereka sebenarnya tidak berargumen dengan Anda.

Saat apa yang Anda lakukan mengundang “kebencian” dari orang lain, maka mereka (haters) akan menyerang. Tentu tidak ada orang yang suka diserang dan pastinya kita cenderung bertahan/membela diri. Tapi itu semua akan sia-sia, karena mereka (haters) tidak membenci Anda, mereka hanya menggunakan “keberadaan Anda” sebagai pelampiasan terhadap sesuatu atau mungkin orang lain.

Contohnya orang-orang yang selalu bilang “hidup ga semudah omongan Mario Teguh”, mereka bukannya membenci Mario Teguh secara personal, tetapi mereka hanya meyakinkan dirinya bahwa ia gagal karena hidup tidak semudah itu (omongan Mario Teguh), sehingga mereka mungkin bisa merasa lebih baik.

Anda hanyalah pelampiasan atau bahkan pelarian dari para haters-haters ini, dan Anda tidak akan bisa memenangkan argumen dengan mereka karena memang sejak awal mereka tidak berargumen dengan Anda.


Kesimpulannya adalah pertama pahami dulu apakah orang lain betul-betul berargumen dengan diri Anda, jika iya maka pahami landasan argumen yang mereka gunakan, apakah berdasarkan logika atau perasaan. Jika Anda bisa mengerti dan memahami dengan siapa Anda berargumen maka kemungkinan besar Anda bisa memenangkan setiap argumen yang ada, dan ingatlah tidak setiap argumen “worth it” untuk diperdebatkan dan dimenangkan, kenyataannya hampir semua argumen tidak menghasilkan apapun karena pada akhirnya orang-orang tetap mempertahankan keputusannya masing-masing, jadi untuk apa berargumen kalau tidak menghasilkan “sesuatu” pada akhirnya?

tujuan berdebat


Related Post: