Cara Negeri Bencana Alam (Jepang) Mengatasi Gempa & Tsunami

Jepang adalah negara Asia yang maju, sejajar dengan Korea Selatan dan Cina yang kini menjadi raksasa ekonomi. Siapa yang tidak kenal produk dari Jepang, alat-alat elektronik dari televisi, sound system, sampai otomotif, produk jepang dikenal dengan jaminan kualitasnya. Kita pasti tidak asing dengan merk Toshiba, Honda, Yamaha, Toyota dan lainnya. Merk asal jepang gaungnya juga mencapai pasaran internasional. Namun, selain dikenal dengan etos kerja yang kuat dan perkembangan ekonomi yang pesat, Jepang juga identik dengan negeri bencana.

Sudah sering kita baca/dengar berita mengenai gempa bumi dan tsunami yang melanda Jepang, bahkan menurut orang-orang yang merasakan tinggal di sana, gempa bumi kecil-kecilan adalah makanan sehari-hari bagi masyarakatnya.

Kali ini kita akan mengenal lebih jauh apa yang menyebabkan Jepang menjadi negara rawan bencana alam dan bagaimana masyarakatnya beradaptasi dengan tantangan alam yang tidak bisa dianggap remeh tersebut.

Inilah 2 jenis bencana yang paling sering terjadi:


– Lempeng tektonik yang saling bertemu

Jepang adalah negara kepulauan yang berada di tengah Smaudera Pasifik. Kepulauan-kepulauan di Jepang ini ada tepat di atas wilayah Pacific Rings of Fire atau nama lainnya Cincin Api Pasifik. Karena berada di daerah Pacific Rings of Fire ini menunjukkan jika wilayah Jepang juga menjadi titik temu tiga lempeng tektonik aktif antara lain lempeng tektonik Pasifik, laut Filipina dan Eurasia. Ketiga lempeng tektonik tersebut saling bergerak dan menimbulkan efek dahsyat di wilayah Jepang. Pergerakan ketiga lempeng juga mempengaruhi kontur tanah di Jepang yang memiliki gunung berapi aktif di banyak daerah.

Seperti di pelajaran Geografi, lapisan kerak bumi itu memiliki banyak bagian. Di bagian yang tidak terlihat, sebenarnya lempengan-lempengan itu terus bergerak. Mengingat Jepang berada tepat di titik temu tiga lempeng tektonik yang bergerak aktif maka tidak heran jika gempa menjadi makanan sehari-hari.

– Tsunami

Banyaknya gunung berapi aktif seperti Gunung Fuji, juga menambah daya aktivitas gempa di tanah Jepang. Magma yang menyembur juga turut menambah parahnya bencana alam jika sampai terjadi. Gempa yang memiliki kekuatan besar dan efeknya sampai mempengaruhi palung laut, berpotensi menimbulkan tsunami. Efek kerusakan dari tsunami ini semakin menambah jumlah korban dan memperburuk kerusakan fasilitas umum atau bangunan.

Sisi baik dari banyaknya gunung berapi adalah tanahnya menjadi subur. Muntahan lava yang sampai ke tanah, lama-lama akan memperbaiki kandungan tanah. Tidak heran jika kita bisa melihat wilayah pertanian Jepang juga sangat hijau serta subur.


Mengingat risiko berbahaya dari kondisi alam dan geografis yang seperti itu, pemerintah Jepang mencanangkan banyak program penanggulangan dan pencegahan bencana yang kini menjadi proyek percontohan negara lain seperti Indonesia.

Terobosan tersebut antara lain sebagai berikut:

1. Bangunan tahan gempa

Dalam membangun gedung bertingkat, fasilitas umum dan terutama untuk kawasan pemukiman, pemerintah Jepang memiliki standar tinggi untuk menilai apakah bangunan tersebut layak berdiri atau tidak. Dua syarat utama agar lolos kualifikasi membangun adalah bangunan tidak akan runtuh akibat gempa dalam jangka waktu seratus tahun ke depan dan tidak akan rusak karena usia atau hal di luar gempa bumi selama sepuluh tahun ke depan. Para kontraktor harus melapokan semua bahan dan material yang digunakan untuk membangun hingga dinyatakan layak, baru bisa memulai pekerjaannya.

2. Teknologi peringatan bencana

Bagi rakyat Jepang yang bermukim di pesisir pantai, maka di daerahnya dilengkapi dengan alat peringatan tsunami. Alat tersebut akan otomatis berbunyi atau memberikan tanda beberapa menit sebelum potensi tsunami terjadi. Tujuannya agar warga bisa mengungsi ke tempat tinggi sebelum bencana terjadi. Selain itu, ponsel di Jepang sudah dilengkapi dengan sistem peringatan gempa. Jika ada getaran tak biasa di tanah, maka akan ada sebuah sinyal yang direspon sistem di ponsel untuk memberikan peringatan pada masyarakat. Sinyal di ponsel bekerja beberapa detik sebelum gempa terjadi sehingga masyarakat bisa segera mencari tempat berlindung.

3. Pendidikan/edukasi menghadapi bencana

Mengingat lokasi yang rawan gempa, pendidikan menghadapi bencana sudah dimasukkan di dalam kurikulum pendidikan Jepang. Siswa-siswa sekolah dilatih sejak usia taman kanak-kanak agar tidak panik saat gempa terjadi. Simulasi bencana juga sering dilakukan dan ini juga diaplikasikan hingga orang dewasa. Mereka akan diajarkan untuk segera merunduk di bawah meja atau mencari sudut yang nantinya memiliki risiko paling kecil tertimpa reruntuhan. Membiasakan diri untuk berlari dalam urutan teratur dan tidak berebutan akan membantu untuk mengurangi jumlah korban.

Masyarakat Jepang juga diberi petunjuk untuk mempersiapkan bekal jika bencana sampai terjadi agar bisa bertahan hidup sampai tim penyelamat datang untuk melakukan evakuasi. Ransel darurat yang berisi obat, bekal makanan, selimut hangat dan perbekalan lainnya juga harus disiapkan agar bisa sewaktu-waktu dibawa di lokasi pengungsian.



Kita bisa mempelajari banyak hal dari Jepang, tak hanya dari budaya dan etos kerja mereka. Kesiapan dalam menghadapi bencana alam ini patut diteladani terutama bagi kita masyarakat Indonesia yang wilayahnya juga sering tertimpa bencana.