Apa Barang / Produk yang Bisa Dijual di Indonesia dan Laku Keras?

Untuk artikel Q&A (tanya jawab) kali ini saya coba menjawab beberapa email yang masuk sekaligus, karena pertanyaannya cukup simpel dan bisa saya jawab singkat saja disini:


Email 1: Salam kenal min, blognya istimewa karena hanya satu-satunya yang saya tahu blog tentang bisnis & blogging tanpa embel-embel jualan atau skema referral yang biasanya berujung pada skema piramid. Saya penasaran kenapa blognya sekarang tidak aktif dan jarang update? Kenapa banyak blogger lain yang juga sudah punya banyak trafik seperti blog Solusik malah tidak aktif belakangan ini?

Kalau dipikir-pikir memang agak miris, dulu saya rajin sekali post artikel dan memperbarui tampilan blog ini padahal ga ada yang memperhatikan (pengunjung masih sangat sedikit), disaat blog Solusik ini sedang ramai saya malah jarang update. Ada 2 alasan utama mengapa blog ini jarang update, pertama karena saya sedang sibuk di kerjaan lain dan yang kedua saya juga sedang kehabisan ide untuk menulis, itulah sebabnya saya membuat sesi tanya-jawab ini supaya saya juga bisa mendapat ide dan bahan diskusi dari kalian para visitor. Walaupun sekarang saya sudah tidak sering menulis artikel seperti dulu, setidaknya saya selalu usahakan ada postingan baru setiap bulan di blog Solusik ini.


Email 2: Penjelasan tentang peranan Google di masa depan memang keren dan belum bisa tergantikan, kalau peranan sosial media gimana min, contoh seperti grupnya Facebook? Bagaimana prediksi mimin tentang sosial media di masa depan? Sosial media kan membuat kita lebih bebas dan terbuka, saking bebas dan terbukanya sampai menjadi gaduh dan banyak sampah, mohon penjelasannya min.


Menurut saya peranan sosial media di masa depan akan semakin berpengaruh di Indonesia mengingat akan semakin banyak pengakses internet (terutama pengguna mobile) dan masyarakat kita semakin melek dengan perkembangan teknologi yang ada. Kemungkinan besar grup Facebook (termasuk keluarga FB lain seperti Instagram, WhatsApp, Messenger, dll) masih akan mendominasi dunia sosmed di Indonesia, mungkin akan ada beberapa aplikasi sosmed yang viral/booming sesaat namun cepat/lambat akan dilibas oleh grup Facebook (contoh Snapchat yang fiturnya dicopy dan dikalahkan oleh Instagram Stories), jika dunia search sudah didominasi oleh Google, maka dunia sosmed sudah didominasi oleh Facebook.

Masalah sosmed yang terlalu bebas dan terbuka memang merupakan masalah yang sulit diatasi, bahkan saya rasa hal ini bisa terus semakin buruk karena semakin banyak usernya maka akan semakin banyak perbedaan dan terjadi perpecahan, penjelasan lengkap bisa baca disini –> Kenapa masyarakat semakin bodoh dan terpecah belah.

Ironisnya sosmed yang awalnya diciptakan untuk saling mendekatkan dan berinteraksi positif satu sama lain malah menjadi alat penyebar hoax, ujaran kebencian, pemecah belah golongan dan senjata adu domba karena isinya sudah terlalu ramai, karena itu edukasi sangatlah penting, edukasi disini bukan sekedar pendidikan/belajar di sekolah, tapi bagaimana cara kita bisa dengan bijak belajar dari keadaan yang sudah ada dan berusaha memperbaikinya, walau hampir semua orang memiliki akses internet (dan sosial media) yang sama, namun tidak semua orang punya paham dan pengertian yang sama untuk memanfaatkan akses tersebut.


Email 3: Mau tanya min, apa yang bisa dijual dan laku keras di Indonesia?

Sebenarnya saya mau jawab yang simpel-simpel aja seperti produk kebutuhan (needs) dan keinginan (want/passion), tapi saya coba berikan jawaban yang mungkin agak berbeda dan nyeleneh, ini bukan nasihat bisnis/jualan ya, tapi lebih kepada melihat realita yang ada.

Hal-hal yang “menurut saya” bisa dijual dan laku keras di Indonesia:

1. Hutang

Pernah bertanya-tanya kenapa bank bisa banyak banget di Indonesia (dan semuanya profitable)? Apa produk utama dari bank? Kredit bukan? Apa artinya? Ya artinya sebagian besar masyarakat Indonesia suka berhutang entah melalui cicilan atau pinjaman. Ga heran banyak bermunculan startup-startup finance (P2P lending) yang berusaha meminjamkan uang kepada masyarakat kita, bahkan marketplace e-commerce pun mulai memberikan opsi menggiurkan melalui cicilan kartu kredit sampai meminjamkan uang untuk modal usaha (ya intinya semua sama aja hutang).

2. Kebodohan

Salah satu bisnis yang paling menguntungkan adalah bisnis yang memanfaatkan kebodohan manusia karena sumber dayanya tidak terbatas (stupidity has no limit), selama masih ada orang bodoh di dunia ini maka akan selalu ada orang yang mencari uang dari orang bodoh tersebut.

Itulah sebabnya artis/publik figur terus-terusan cari sensasi dan bikin ulah (biar bisa bikin judul HEBOH), itulah kenapa youtuber sering bikin clickbait, itulah mengapa skema uang instan dan cepat kaya akan terus ada karena akan selalu ada orang yang terjebak dengan hal-hal bodoh seperti itu.

Yang menjadi masalah utamanya adalah kebodohan itu menular, disaat ada suatu kebodohan yang viral entah itu prank, setan-setanan, transgender-transgenderan, buka-buka aib, settingan alay, skema piramid/MLM, program cepat kaya dan semacamnya, maka kemungkinan besar akan ada orang yang terpengaruh dan berpotensi menjadi penerus kebodohan tersebut. Entah kenapa hal seperti ini bisa laku dan terus mendapat tempat (perhatian) di Indonesia, bahkan saya rasa akan muncul berbagai anomali lain yang semakin bodoh dan aneh kedepannya.

3. Harapan palsu

Pernah membeli sesuatu lalu kecewa karena tidak sesuai dengan ekspektasi? Pernah berharap bahwa produk/jasa ini bisa mengubah hidup kita namun ternyata tidak? Kenapa obat peninggi badan, penurun berat badan, seminar-seminar yang menjamin kesuksesan/kekayaan dan hal-hal yang sebenarnya kita sadari betul tidak mungkin terjadi tetap saja laku? Kenapa ada orang yang membeli obat peninggi badan padahal ia tahu dan sadar betul usianya tidak memungkinkan lagi untuk bertambah tinggi namun ia tetap membelinya karena berharap siapa tahu bisa tinggi (kali aja terjadi keajaiban)? Itulah the power of harapan palsu.

Sebenarnya ini merupakan hal basic dalam menjual, orang membeli karena emosi dan baru menggunakan logika belakangan untuk membenarkan hal tersebut (people buy emotion and justify it with logic), itulah sebabnya banyak bisnis, produk, dan jasa di sekitar kita yang seringkali “dibumbui” secara emosinal entah itu melalui cerita, pengalaman, harapan/mimpi bahkan sampai mengandung unsur agama (tanpa kita sadari agama juga sering dijadikan alat perang bisnis dan politik).

Mayoritas korban harapan palsu ini adalah mereka yang sedang desperate (putus asa), terlalu malas mencari tahu (ga mau menggali info lebih dalam), dan juga kurang berpikir dengan logika.

4. Masalah

Kedengarannya lucu, bagaimana bisa kita menjual masalah pada orang lain dan laku?

Biasanya kita membeli sesuatu karena ingin menyelesaikan masalah yang ada, contoh kalau saya sedang lapar maka saya akan membeli makanan, kalau saya sering telat ke tempat kerja karena macet naik angkutan umum maka saya akan beli motor pribadi supaya lebih cepat sampai.

Kita membeli karena ada masalah yang ingin diselesaikan, namun terkadang orang bisa salah perspektif dalam menyelesaikan masalah, mereka membeli sesuatu karena ingin keluar dari masalah bukan menyelesaikan masalah.

Bedanya adalah mereka yang “keluar dari masalah” tidak betul-betul menyelesaikan masalahnya dan masalah itu akan kembali lagi (bahkan menjadi semakin parah), kita sering sebut ini sebagai “pelarian”. Contoh orang yang stres dan merasa tidak bisa hilang stresnya kalau tidak merokok  (dimana rokok ini sebenarnya adalah masalah baru), begitu pula dengan orang yang bermain judi, mabuk-mabukan, berhutang, kecanduan pornografi, dll.

Mereka mencari masalah baru untuk keluar dari masalah yang sedang dihadapinya sekarang, dengan kata lain mereka membeli masalah untuk keluar dari masalah.



Sekian untuk artikel tanya jawab kali ini, semoga apa yang saya tulis disini bisa menjawab pertanyaan kalian dengan baik dan silahkan komen di bawah jika ada yang dirasa kurang atau masih ada yang ingin ditanyakan lebih lanjut.

Terima kasih 🙂


Related Post: