Waspadalah! Waktu dan Perhatian Anda Sedang Dijual


Kita berada pada jaman dimana segalanya bisa dijual, termasuk waktu dan perhatian Anda. Sistem ekonomi kita sekarang memungkinkan untuk orang lain bisa memonetize perhatian (attention) Anda, bahkan terlepas dari Anda menyukainya atau tidak.

Kita hidup di era informasi (information age) dimana teknologi telah merevolusi semuanya termasuk gaya hidup kita sehari-hari (digital lifestyle), dan kenyataannya adalah sekarang informasi sudah tidak begitu penting, mengapa?

Karena hampir semua informasi yang Anda butuhkan sudah tersedia, informasi apapun bisa Anda akses di internet, kita memiliki akses tanpa batas untuk segala informasi yang ada didunia ini, jadi apa lagi yang kita butuhkan?

Fokus.


Kita harus memfokuskan waktu dan perhatian kita pada hal yang betul-betul penting dan mengendalikan diri untuk mengabaikan informasi-informasi sampah yang ada diluar sana. Aset paling berharga dalam ekonomi kita sekarang adalah fokus dan perhatian.

Dengan adanya peluang dan informasi tanpa batas di internet justru membuat kita semakin sulit menentukan fokus dan semua bisnis/media diluar sana akan selalu berlomba-lomba untuk mencuri perhatian Anda (termasuk saya), semuanya demi sekedar menjual waktu/perhatian Anda kepada orang lain (advertiser).

Cobalah lihat news feed Facebook/YouTube dan Anda akan menemukan kurang lebih konten seperti:

  • Kontroversi artis X yang sedang kepergok bla.bla.bla atau drama settingan lainnya
  • Fakta ngawur yang asal heboh seperti “kakek 80 tahun ini bisa salto 10 meter”
  • Cerita hoax tanpa latar belakang yang jelas seperti “bocah 8 tahun ini hasilkan ratusan juta dari bermain bekel”
  • Curhat cinta gegalauan ga jelas seperti “kepada mantan yang kurindukan …”
  • Info ga penting seperti “10 tipe mantan” atau “8 ciri kamu anak 90-an”

Yang lebih parah lagi masih saja ada konten clickbait/missleading seperti:

kebodohan orang facebookGambar diatas adalah salah satu postingan yang muncul di news feed Facebook saya, coba lihat angkanya (likes, komen, shares) luar biasa bukan? Memang memanfaatkan kebodohan manusia itu sangat-sangat menguntungkan karena resourcenya tidak terbatas (stupidity has no limit).

Inilah potret kehidupan digital kita sekarang. Konten tanpa arti (meaningless) yang kita tidak suka namun entah kenapa ujung-ujungnya tetap mendapat perhatian dan semakin sulit kita abaikan. Sebaliknya konten yang betul-betul berisi dan berkualitas malah lebih sulit mendapatkan perhatian sehingga semakin jarang kita temui. Toh logikanya kalau buat konten sampah bisa lebih menghasilkan kenapa harus capek-capek bikin yang berkualitas?

Inilah yang menyebabkan banyak konten/artikel sampah berkeliaran, karena orang-orang hanya peduli pada “perhatian” namun tidak mempertimbangkan “kualitas dari perhatian” tersebut. Angka/kuantitas ini yang biasanya menjadi indikator kesuksesan seperti berapa banyaknya views/likes yang bisa didapat sebuah konten.

Misal seorang figur dengan teladan yang buruk seperti suka ngomong kasar atau hanya bisa bercanda soal selangkangan (sex jokes) tetapi jika followersnya banyak maka media/brand pasti tetap akan mengendorsenya karena mereka hanya peduli pada banyaknya perhatian yang bisa mereka dapatkan. It’s ironic but very true.

Waktu dan perhatian orang sangat terbatas, karena itu banyak orang berusaha mencari perhatian (attention whore), mereka sudah tidak peduli apakah konten yang mereka buat akan bermanfaat untuk konsumennya atau tidak, apakah konten ini memberi value atau tidak, selama itu mendapat perhatian maka mereka akan melakukannya.

Lalu pertanyaannya mengapa konten sampah lebih sering mendapat perhatian?

Ada beberapa alasan mengapa konten sampah/meaningless lebih sering populer yaitu karena:

  1. Direkomendasikan (ingat kebodohan itu menular)
  2. Banyak orang yang ga ada kerjaan atau iseng
  3. Sedang trend atau ramai diperbincangkan (bandwagon effect)
  4. Banyak orang kepo

Selain itu konten sampah jauh lebih mudah diproduksi dan ironisnya lebih sering menghasilkan (views/attention) daripada konten yang berkualitas.

Daripada buat konsep kreatif atau acara baru yang beresiko tidak ditonton masyarakat, bukankah jauh lebih mudah membuat konten plagiat atau buat drama sampah (settingan) yang walaupun masyarakat sudah tahu itu plagiat/settingan toh mereka ujung-ujungnya tetap nonton dan membicarakannya. Make sense bukan?

Inilah sebab media/berita tidak henti-hentinya memberikan kita konten hoax dan sampah karena sudah terbukti laku sepanjang tahun, apalagi konten-konten yang berbau sex/dewasa itu selalu 100% efektif mendapat perhatian. Tidak heran mengapa format berita dan dunia politikpun sekarang terlihat seperti “drama”, ya karena itulah yang bisa mendapatkan perhatian masyarakat.

Konsumenlah yang membentuk industri ini, karena sebagian orang malas berpikir dan mencerna informasi yang ada, mereka lebih suka melihat sesuatu yang “fun” seperti kontroversi, drama, sex, horor, hiburan, dan semacamnya.

Bukan berarti semua konten yang ada itu sampah dan semua konsumen itu malas, namun secara data dan angka kita tidak bisa berkelit bahwa mayoritas masyarakat khususnya di Indonesia memang lebih tertarik dengan konten-konten “fun” daripada konten yang memiliki value seperti edukasi atau hiburan mendidik lainnya.

orang bodoh terkenalApa dampak negatif dari ini semua?

Masyarakat akan semakin bodoh (betul-betul semakin bodoh) karena menghabiskan waktu dan perhatiannya untuk hal-hal meaningless sedangkan kita tahu kalau dijaman sekarang fokus, waktu, dan perhatian adalah resource yang paling penting.

Saya ulangi lagi “fokus”, “waktu”, dan “perhatian” adalah resource/sumber daya yang paling penting, dijaman dimana segalanya sudah tersedia (informasi) maka menentukan fokus pada sebuah tujuan adalah kunci kesuksesan yang paling penting. Karena fokus bukan saja mengatakan “ya” pada 1 hal, tetapi juga mengatakan “tidak” pada ribuan alternatif lainnya.

Bisa dibilang kita hidup disaat yang paling sulit untuk fokus, karena setiap hari selalu ada ribuan “pengalih perhatian” entah itu di sosial media, berita, TV, YouTube, dan sebagainya, jika Anda tidak memiliki tembok untuk melindungi diri Anda, maka Anda tidak akan pernah mencapai tujuan apapun dalam hidup Anda, Anda hanya akan menjadi “penonton hidup” bukan sebagai “pelaku hidup”.

So stop it.

Mulailah:

  • Block acara/media/orang yang menyebarkan konten sampah. Termasuk mereka yang suka menyia-nyiakan waktu Anda dengan judul clickbait/missleading.
  • Kurang-kurangi menonton TV, main sosial media, menonton YouTube, membaca berbagai artikel termasuk blog ini. Carilah sesuatu yang relevan dan betul-betul penting untuk merealisasikan tujuan Anda. Live your own life.
  • Update hal-hal yang memang perlu saja seperti keadaan lingkungan dan informasi/fakta terbaru.
  • Berhenti kepo ngurusin apakah “Joko” betul-betul anak kandungnya Mario Teguh atau bukan. Intinya berhentilah mempedulikan urusan-urusan orang lain.
  • Gunakan sisa waktu Anda untuk menyibukkan diri dengan hal-hal produktif seperti usaha kecil-kecilan atau habiskan waktu dengan teman/keluarga yang Anda cintai.
  • Berhenti komen/membicarakan konten-konten sampah, percaya atau tidak Anda hanya membuat konten sampah semakin viral dengan membicarakannya, biarkan saja konten sampah dinikmati oleh audiencenya masing-masing.

Waktu dan perhatian Anda sangat mahal, diluar sana selalu ada orang yang berusaha menjual perhatian Anda. Kita semua hanya memiliki 24 jam dalam sehari. gunakan waktu untuk hal-hal yang menurut Anda pantas (worth it) untuk mendapat perhatian dan jangan sia-siakan itu untuk mereka yang hanya ingin memanfaatkan perhatian Anda.

Ingatlah bahwa waktu dan perhatian Anda terbatas. Use it wisely.


Related Post: