Tips Toko Online: Persaingan Harga Tidak Sehat Tokopedia / Bukalapak


Saat saya dulu menjadi seorang reseller-dropship, ada 1 masalah penting yang selalu menjadi pertanyaan:

Bagaimana saya bisa memenangkan persaingan harga yang tidak sehat di marketplace seperti tokopedia/bukalapak?

Bahkan saya pernah ngobrol-ngobrol dengan seorang supplier yang mengatakan margin/profit untuk produk yang dia jual di tokopedia itu dibawah 1%. Beliau menjual barang seharga Rp 300.500,- sedangkan modal barang tersebut adalah Rp 300.000,- artinya dia hanya memperoleh untung Rp 500,-.

Tentu sangat tidak enak didengar. Ngapain jualan kalau profitnya sekecil itu. Di lain sisi produk tersebut memang dijual dengan harga yang sama bahkan lebih rendah oleh supplier lain (di tokopedia), artinya mereka berharap mendapat keuntungan dari quantity penjualan bukan dari profit/selisih harga.


Setelah saya teliti lebih dalam, ternyata ada hal lain yang menyebabkan para supplier ini rela menekan profit seperti itu.

Mereka ingin meningkatkan angka penjualan supaya reputasi toko mereka semakin bagus.

Memang biasanya di marketplace orang cenderung memilih produk berdasarkan sortir harga (harga termurah), tapi ada satu kategori lagi yang juga banyak dilihat sebagai pertimbangan yaitu “penjualan”. Seperti di tokopedia, ada sistem reputasi yang diberikan untuk user. Dengan semakin banyaknya angka penjualan, transaksi, dan aktivitas suatu toko maka semakin tinggi pula poin/reputasi yang mereka dapat.

Reputasi yang tinggi akan memberikan banyak benefit untuk toko tersebut, ini seperti investasi jangka panjang, walaupun profit sementara kecil, tetapi anggap saja ini sebagai biaya upgrade/marketing/promosi.

Karena pembeli juga mempertimbangkan reputasi toko, banyaknya barang yang sudah terjual, kualitas review, dan feedback/diskusi dari pembeli lain. Jadi “harga” bukanlah satu-satunya harapan dalam memenangkan persaingan ketat di marketplace.

Itulah sebabnya banyak toko yang rela mendiskon harganya untuk memenangkan angka penjualan tersebut.

Tetapi sebagai reseller kita tidak bisa follow seperti itu, hal itu hanya efektif jika kita adalah pemain besar yang memang sudah mendedikasikan diri untuk menjual produk di marketplace tersebut, tetapi bagaimana kalau kita adalah reseller yang tidak mungkin bisa memenangkan persaingan harga?

Jawabannya adalah jangan bermain disana.

Beralih ke saingan terberat para marketplace tersebut yaitu “Social media”.

Para pemain e-commerce besarpun mengatakan bahwa saingan terberat mereka bukanlah B2C (seperti lazada, bhinneka), atau C2C (seperti olx, fjb kaskus) melainkan social media seperti:

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram (yang sedang hot-hotnya)
  • BBM / Line

Apa yang saya lakukan?

Saya membuat website sendiri (domain .com) dan memanfaatkan Fanspage & Instagram (sangat reccommended). Saya juga memakai Facebook Ads & Kaskus Ad untuk mempromosikan website tersebut, tetapi justru penjualan terbanyak datang dari instagram yang free.

Banyak cara yang bisa Anda lakukan untuk berpromosi di Instagram dan cara yang paling saya sarankan (dan sangat efektif) adalah dengan meng-endorse publik figur yang sesuai dengan segmen/audience produk yang Anda jual.

Dengan membuat toko online sendiri (website + social media) maka Anda lebih bebas berimprovisasi dan memberikan value pada customer Anda, berbeda dengan para customer marketplace yang hanya mempertimbangkan harga & penjualan.

Baca juga: Sharing pengalaman membangun toko online dengan sistem reseller-dropship


Beberapa alasan mengapa Anda harus menghindari marketplace jika Anda adalah reseller adalah:

– Marketplace = perang harga & reputasi

Bersaing harga sama saja bunuh diri jika Anda reseller, karena Anda tidak mungkin menurunkan harga, persaingan harga yang tidak sehat akan terus berlanjut sampai ke dasar/bawah dan jelas Anda akan kalah. Sebelum memutuskan berjualan di marketplace, lihatlah terlebih dahulu produk yang ingin Anda jual apakah dijual dengan harga yang tidak wajar disana, akan lebih baik jika Anda menjual produk yang belum ada atau dijual dengan harga yang masih kompetitif & wajar.

– Customer marketplace hanya setia pada harga

Tentu tidak semua buyer di marketplace hanya mencari harga termurah, tetapi pertimbangan utama seseorang berbelanja di marketplace sudah jelas adalah harga & penjualan yang artinya tidak akan menolong banyak jika Anda adalah seorang reseller.

– Profit adalah hal yang paling penting

Apa tujuan Anda menjadi reseller? Tentunya untuk mendapatkan profit dari selisih harga yang Anda jual. Anda tidak bisa hidup/makan dari omset penjualan, memainkan harga untuk meningkatkan omset dengan mengorbankan profit adalah hal yang sia-sia. Untuk apa menghasilkan penjualan total 100 juta tetapi Anda hanya mendapat profit keseluruhan Rp 100.000,-?


Lalu bagaimana kalau saya adalah supplier/tangan pertama dan ingin berjualan di marketplace (tokopedia/bukalapak)?

Tentu Anda harus memanfaatkan marketplace tersebut. Entah dengan membangun reputasi toko Anda disana atau membuat website sendiri dan memanfaatkan social media.

Saya sangat menyarankan Anda untuk membuat toko di tokopedia/bukalapak (dengan catatan Anda adalah tangan pertama), karena:

  • Sistem yang aman dan banyak pembeli sudah berkumpul disana
  • Tidak perlu repot mengurus website, SEO, dan semacamnya, sehingga Anda hanya fokus pada menjual
  • Banyaknya promo yang mereka berikan, sehingga memaksimalkan keuntungan/omset Anda

Sebenarnya tidak ada alasan untuk tidak membuka toko di marketplace tersebut jika Anda adalah supplier yang memiliki stok, hanya saja kembali pada pilihan Anda sebagai penjual, strategi apa yang ingin Anda lakukan.

Apakah sebagai tangan pertama perlu bersaing harga di marketplace?

Saya sendiri tidak terlalu memikirkan soal harga jika selisihnya masih bisa ditolerir, tetapi jelas reputasi toko Anda di marketplace harus diperjuangkan dan salah satu caranya adalah dengan menawarkan harga termurah diawal (setelah Anda mulai mendapat sejumlah market share, barulah Anda mulai meningkatkan harga).

Kesulitan bermain di marketplace adalah Anda tidak memiliki reputasi apapun, tidak ada review/feedback dari pembeli, dan tidak ada penjualan. Bagaimana bisa orang lain tertarik berbelanja disana? Ya salah satunya adalah dengan taktik “harga”. Cara lainnya adalah dengan memberi promo/hadiah khusus.

Baca juga: Top Seller Tokopedia Berbagi Tips Membuat Toko Online yang Sukses

Mana yang lebih baik, marketplace atau website/sosmed sendiri?

Lebih baik jika Anda mencoba semuanya, tetapi jika Anda memilih fokus pada salah satu saja, maka pilihan terbaik (urutan berdasarkan opini saya) adalah:

  1. Membangun reputasi toko di marketplace (seperti tokopedia/bukalapak)
  2. Membangun brand/toko di social media (melalui instagram, facebook, twitter, BBM/Line, dll)
  3. Membangun toko di website sendiri

Kenapa website ada di urutan terakhir? Karena dengan membuat website sendiri berarti Anda harus berurusan dengan coding/hosting, SEO, marketing online, dan sebagainya. Website sendiri sangat cocok jika Anda memiliki brand Anda sendiri seperti brodo footwear.

Perlu diingat bahwa tokopedia/bukalapak itu sendiri belum tentu akan bertahan selamanya, mungkin saja suatu saat mereka akan bangkrut. Lalu bagaimana nasib Anda jika Anda hanya bergantung pada marketplace tersebut? Karena itu cobalah semuanya, manfaatkan social media dan buatlah website/toko online sendiri sehingga peluang Anda untuk sukses semakin besar 🙂


Related Posts: