Tipe Pembeli Online Shop dan Seller di Indonesia


Saya ingin berbagi pengalaman kepada Anda tentang berbagai tipe pembeli online shop yang saya temukan beserta jenis-jenis penjual/seller yang sering bertebaran di Indonesia. Sebelumnya saya adalah seorang reseller/dropshipper dan setelah itu naik level menjadi distributor/importir sehingga sudah cukup berpengalaman dalam berjualan online dan mengenali tipe-tipe pembeli & penjual yang ada di Indonesia.

Apa yang saya bagikan disini adalah berdasarkan pengalaman dan opini, jadi tidak bisa dijadikan acuan kebenaran, Anda sendiri yang bebas menilai benar atau tidaknya.

Menurut saya tipe pembeli online shop/konsumen online ada 2 yaitu:

  1. Konsumen yang malas
  2. Konsumen yang cari murah

1. Tipe konsumen malas


Tipe ini adalah mereka yang berbelanja online karena memang malas belanja offline, malas pergi ketoko mencari-cari produk, malas membaca, dan juga malas mencari sendiri. Tipe-tipe inilah yang biasanya sering:

  • Nanya harga/stok padahal label harga sudah dicantumkan dan ditulis ready stock (antara males baca atau ga percayaan aja). Biasanya pertanyaannya juga kelewat bodoh dan ga penting. Mastiin berkali-kali dan yang suka bikin kesel ujung-ujungnya ga beli 🙁
  • Minta dihitungin ongkir (kaya ga bisa ngitung sendiri), masih nanya kalau beli 2 harganya berapa (ya tinggal dikali 2 toh), nanya spek produk (yang udah dijelasin di katalog), minta gambar (padahal udah ada gambarnya), dan lain-lain, intinya meladeni konsumen seperti ini perlu ekstra kesabaran.

Namun dibalik itu semua tipe konsumen seperti inilah yang harus dikejar oleh para reseller/dropshipper (tips buat reseller dan dropshipper). Jika Anda adalah seorang reseller maka cari tipe konsumen yang malas seperti ini, mengapa? Karena mereka ini bukanlah penggila harga (pencari harga termurah), dan biasanya tipe konsumen malas ini berkeliaran di sosial media dan fjb kaskus (based on my experience).

Mereka lebih suka berkomunikasi langsung dengan penjual tanpa perantara/platform (seperti marketplace), jadi Anda-Anda yang reseller harus rajin mencari konsumen ini dan siapkan kontak yang mudah dihubungi oleh mereka, biasanya mereka menggunakan SMS/WhatsApp/Line/BBM untuk berbelanja online. Cara mencari mereka biasanya melalui Facebook/Twitter/Instagram/BBM/FJB/OLX/website sendiri.

Sebagai reseller dulu saya jelas tidak mungkin bisa memenangkan persaingan di Tokopedia/Bukalapak karena jelas kalah harga dan mayoritas konsumennya adalah tipe konsumen yang cari murah. Maka dari itu target utama saya adalah para konsumen malas ini. Mereka ini masih menggunakan cara konvensional/direct dengan memesan melalui handphone, mereka malas menggunakan Tokopedia/Bukalapak karena antara mereka yang belum tahu atau sudah tahu namun malas karena harus membuat akun dan sebagainya (isi data pribadi, alamat, rekening, dkk), intinya konsumen malas ini adalah target paling potensial untuk para reseller.

Itulah sebabnya hampir 50% lebih seller yang ada di Instagram dan social media lain adalah reseller/dropshipper, Anda bisa lihat dari foto katalog/produk yang mirip satu sama lain, mark-up harga yang ga kira-kira (kemungkinan sudah tangan ketiga), dan kalau ditanya stok lama sekali menjawabnya. Cara paling mudah untuk mengetahui apakah penjual itu reseller/dropshipper adalah dengan minta ketemuan/COD, jika mereka tidak mencantumkan alamat fisik dan tidak bisa diajak ketemuan/COD sudah pasti mereka tidak memegang stok produk tersebut.

Banyak juga kasus yang ternyata sang penjual sudah tangan ketiga (resellernya reseller), bisa dibayangkan betapa lama responnya dan tingginya mark-up harga yang dilakukan oleh penjual seperti ini. Ciri-ciri untuk mengetahui apakah penjual adalah tangan pertama/distributor adalah:

  • Mencantumkan alamat toko atau setidaknya lokasi untuk COD (memegang stok produk)
  • Harga kompetitif/murah dibanding toko lain
  • Mereka biasa berjualan di Tokopedia/Bukalapak. Sudah rahasia umum bahwa mayoritas pembeli di Tokopedia dan Bukalapak adalah para reseller yang membeli untuk dijual kembali kepada user. Ditambah lagi kedua marketplace ini semakin rajin membakar uang untuk promosi, jadi hampir semua rakyat Indonesia juga sudah tahu harus kemana untuk mencari produk termurah. (nenek saya yang gaptekpun tahu kalau harga termurah ada disana)

2. Tipe konsumen yang cari murah

Tipe ini adalah para penggila diskon dan harga. Tipe-tipe yang suka bikin akun dan transaksi palsu pas lagi promo supaya dapat cashback/diskon/voucher. *uhuk*

Tipe ini biasanya cuma belanja di Tokopedia/Bukalapak dan langsung sortir harga termurah. Mereka-mereka ini yang suka bikin para seller jadi banting-bantingan harga dan ngerusak harga pasar. Konsumen ini gampang sekali beralih ke toko lain asal harganya lebih murah (atau ada promo lain), bahkan walau harganya cuma beda 500 perak mereka akan beli ditempat yang lebih murah (ya wajar aja sih).

Sudah pasti reseller/dropshipper tidak memiliki kesempatan untuk menarik minat konsumen seperti ini, bahkan distributor/tangan pertama juga terkadang malas menarik konsumen yang hanya setia kepada harga (murah-murahan). Saat saya menjadi distributor untuk suatu produk impor, jelas bukan hanya saya yang tangan pertama. Ada sekitar 4-5 kompetitor yang menjual produk serupa, dan mereka memasang harga yang lebih murah di Tokopedia/Bukalapak.

Lantas apakah saya juga menurunkan harga? Tergantung. Jika penjualan produk saya sudah tinggi biasanya saya tidak menurunkan harga, karena sudah ada review/testimoni dari pembeli lain yang bisa menjadi nilai lebih selain harga. Namun jika produk tersebut belum pernah laku sama sekali (zero sells) maka biasanya saya akan menurunkan harga sampai setidaknya mendapatkan beberapa pembeli dan review. Karena basicnya perang di marketplace adalah perang harga dan reputasi. Jika produknya sama, maka yang membedakan dimata konsumen adalah harga dan penjualan, seperti apa reputasi tokonya, bagaimana review/testimoni pelanggan lainnya, sudah berapa item terjual, dan faktor lokasi juga (ongkir).

Terkadang saya sendiri sering menemukan ternyata masih ada reseller di Tokopedia/Bukalapak, namun jelas reseller tidak memiliki peluang untuk bermain disini. Ada juga beberapa toko yang melakukan subsidi silang artinya mereka menjual produk mereka sendiri namun mereka juga mendropship beberapa produk di toko lain yang lebih murah. Artinya distributorpun juga merangkap sebagai reseller/dropshipper menjual produk toko lain.


Secara garis besar jenis penjual online shop di Indonesia adalah:

  • Dropshipper (tidak memiliki stok dan hanya memarketingkan produk orang lain atas namanya)
  • Reseller (memiliki stok dalam jumlah kecil)
  • Distributor/importir/tangan pertama (memiliki stok dalam jumlah banyak)
  • Produsen (memproduksi sendiri)

Tentu Anda sudah familiar dengan jenis penjual diatas, karena itu saya akan memberikan tips singkat berdasarkan jenis kategori produknya. Ada banyak sekali jenis kategori produk yang bisa dijual, namun saya hanya membahas 2 kategori yang paling sering laku yaitu:

– Penjual gadget/elektronik

Produk berupa gadget/elektronik adalah jenis produk yang paling sering dibeli melalui online (setelah fashion), masalah terbesar dalam berjualan produk ini adalah persaingan harga yang ketat. Jelas saja karena jika brand dan produknya sama maka satu-satunya yang membedakan hanyalah harga, sehingga pricing menjadi kunci utama dalam menarik perhatian konsumen. Selain itu Anda juga perlu pintar menawarkan mana barang original yang laku dan mana barang KW yang laku. Di Indonesia penikmat produk KW masih sangat banyak, oleh karena itu tidak ada salahnya menjual beberapa produk yang kualitasnya lebih rendah dan harganya lebih murah karena memang terbukti lebih laku dari yang original. Biasanya produk KW yang laku adalah aksesoris gadget dan aksesoris tambahan lainnya.

– Penjual baju/fashion

Hal yang paling harus diperhatikan dalam berjualan produk ini adalah detail dan gambar. Konsumen harus mendapat informasi yang lengkap (detail bahan/ukuran) dan gambar yang jelas supaya mereka tertarik membeli produk tersebut. Keuntungan berjualan produk fashion adalah inovasi yang tak terhingga dari segi kualitas dan desain, sehingga tidak perlu banting-bantingan harga dan juga produk ini jauh lebih awet (tidak kadaluarsa) ketimbang produk elektronik/gadget.


Apa yang disampaikan disini tentu tidak mewakili semua pembeli dan penjual online di Indonesia. Ada juga tipe buyer yang rajin dan cerdas, ada juga tipe yang bodoh dan malas, dan sebagainya. Beberapa dropshipper ada yang bertanya kepada saya, bagaimana caranya supaya sukses menjalankan bisnis dropshipnya? Menurut saya (my personal opinion), persaingan online shop di Indonesia sangatlah berat. Anda juga mungkin sudah tahu beberapa perusahaan e-commerce yang sudah tutup karena tidak mampu bersaing mendapatkan market di negeri ini. Jika ingin sukses dalam menjalankan online shop maka jangan bersaing dari sisi sistem (reseller/dropship) tetapi manfaatkan sistem yang sudah ada seperti marketplace dan e-commerce B2C, dan jadilah seller yang sesungguhnya (tangan pertama).

Bukannya ingin menakut-nakuti, saya sendiri pernah menjadi reseller dan mendropshipkan sekitar 2000 barang (full-time reseller), dan hasilnya sangat-sangat jauh disaat kita memiliki stoknya sendiri (tangan pertama) baik dari segi profit dan penjualan. Jika Anda tidak memiliki rencana kedepan untuk menjadi tangan pertama/distributor/importir/produsen, maka sebaiknya jangan dilanjutkan karena tidak mungkin Anda bisa maju dengan hanya mengandalkan sistem reseller/dropship (menurut pengalaman saya).

Mungkin banyak diluar sana reseller/dropshipper yang ngaku sukses dan mengklaim profitnya sampai puluhan juta per bulan hanya dengan menjalani bisnis dropshipnya, setiap orang punya ceritanya masing-masing, but this is my story, semoga pengalaman ini bermanfaat untuk Anda yang ingin mulai menjalani bisnis online shop.

Baca juga step-by-step lengkap pengalaman reseller-dropship saya disini:

Tips Toko Online: Sharing Pengalaman Reseller Dropship (Part 1)

Tips Toko Online: Sharing Pengalaman Reseller Dropship (Part 2)

Dan tips toko online lainnya disini:

Tips Toko Online


Related Post: