Sisi Gelap Bekerja di Dunia Bisnis Online Marketing / Digital Agensi


Sebagian besar dari Anda mungkin mengira industri online/digital marketing adalah pekerjaan yang menyenangkan, kerjaannya cuma didepan komputer dan main-main internet terus. Pada prakteknya dunia bisnis online marketing (digital agensi) bisa jauh lebih gelap dari yang Anda bayangkan terutama di Indonesia, banyak sekali agensi yang saya lihat menghalalkan segala cara demi mencapai target, sulitnya bertahan hidup (survive) diranah ini, jam kerja yang gila dan bayaran yang terkadang tidak “worth it” untuk diperjuangkan.

Saya tidak mencap dunia bisnis digital marketing adalah bisnis yang buruk/tidak menyenangkan, banyak sekali achievement dan penghargaan yang sudah diraih oleh beberapa digital agensi dalam negeri ini, namun yang ingin saya soroti kali ini adalah bahwa dibalik semua pencapaian itu ada pengorbanan dan “sisi gelap” yang mungkin tidak dilihat oleh sebagian besar orang lainnya.

Kesuksesan pebisnis yang sering Anda lihat diluar sana hanyalah 1% dibalik kegagalan 99% pebisnis-pebisnis lainnya, banyak cerita-cerita gagal yang jarang Anda dengar, padahal “fail story” tersebut mungkin bisa memberi Anda lebih banyak pelajaran dalam menghadapi realita bisnis dan karir dalam hidup ini, jadi pelajarilah beberapa kisah duka berikut ini supaya Andapun menjadi semakin bijak dan berwawasan.

Note: artikel ini isinya subjektif karena berdasarkan pengalaman saya pribadi selama bekerja dibeberapa perusahaan agensi, memang tidak mewakili semua agensi yang ada, namun setidaknya sharing ini bisa membuka sedikit pandangan Anda tentang industri digital marketing menjadi lebih realistis.


1. Penuh cara yang tidak etis

cara marketing yang tidak etisKadang saya suka mempertanyakan eksistensi diri saya sebagai bagian dari perusahaan agensi, apakah yang kami lakukan ini betul-betul bermanfaat untuk user? Kenyataannya walau kami membanggakan diri sebagai agensi yang jujur dan bermain bersih (white hat), namun tidak jarang kami juga bermain kotor (black hat) demi mencapai target (KPI) yang ditentukan oleh klien.

Beberapa jenis jasa (services) yang umumnya ditawarkan suatu agensi adalah:

  • Jasa pembuatan website (web development), aplikasi (apps) dan desain (web design & branding)
  • Jasa SEO, sosial media marketing, dan digital campaign
  • Jasa ads management (Google ads, Facebook ads, Twitter ads, Instagram, etc)
  • Jasa advertising, sponsored post, endorsement, dll

Potensi bisnis digital marketing memang terlihat sangat menggiurkan secara Indonesia adalah market yang terus tumbuh dengan penetrasi internet lebih dari 100 juta pengguna, pekerjaan klien yang bervariasi, dan kita selalu belajar hal-hal baru (mau tidak mau) setiap harinya. Dan yang lebih menguntungkan lagi adalah bisnis ini sangat mudah dimasuki oleh siapapun (saya berani katakan bisnis digital marketing merupakan salah satu bisnis online termudah yang bisa setiap orang kerjakan), modal yang Anda perlukan hanyalah laptop dan akses internet.

Masalahnya adalah idealisme sering (bahkan selalu) tidak berjalan seindah teorinya, dalam industri kreatif (agensi) secara tidak langsung klien adalah “bos” dan nasib kita sangat bergantung pada kepuasan mereka. Kadang kita mendapat bos (klien) yang baik namun seringkali kita mendapat bos yang “sulit”.

Bos-bos yang sulit ini biasanya dengan budget terbatas menginginkan hasil “tanpa batas”, minta revisi berulang-ulang, mau hasil bintang lima dengan harga kaki lima, dan menuntut ekspektasi (target/KPI) yang menurut saya tidak realistis, namun apa boleh buat, perusahaan perlu pemasukan (income) dan harus terus jalan apapun yang terjadi, akhirnya seringkali kami melakukan deal dengan klien yang seharusnya sejak awal kami tahu kami tidak perlu berurusan (deal) dengan mereka.

Tanpa garansi target/KPI jelas klien tidak akan mau bekerja sama, dilain sisi perusahaan harus memiliki klien untuk terus hidup, yang jadi persoalan adalah biasanya KPI ini berupa target “angka” dan seringkali angka ini tidak realistis untuk dicapai, akhirnya agensi akan melakukan segala cara untuk mencapai angka tersebut, beberapa diantaranya seperti:

  • Membeli likes/followers melalui pihak ketiga
  • Bekerja sama dengan “orang dalam” untuk memanipulasi suatu campaign
  • Melakukan spamming yang tidak etis
  • Melakukan black hat SEO seperti membangun Private Blog Network dan membeli backlink (paid link)
  • Mengadakan “fake campaign” atau kampanye palsu
  • Melempar tanggung jawab pekerjaan pada freelancer/perusahaan/agensi lain

Ironisnya adalah kami tahu ini salah, tapi apa boleh buat demi memuaskan klien kami harus melakukannya, karena klien yang tidak puas tidak akan membayar walau sebagus apapun kontrak yang telah dibuat, agensi yang mengecewakan klien tidak akan bisa bertahan hidup untuk jangka panjang (1 reputasi buruk bisa menghancurkan semua kerja keras perusahaan bertahun-tahun), dan untuk terus survive perusahaan harus memberikan ekspektasi yang lebih tinggi, bekerja sama dengan orang-orang dan klien yang sulit, perlahan tapi pasti idealisme akan mati ditengah jalan, karena lebih baik idealisme yang mati daripada kami (karyawan & perusahaan) yang harus mati.

Tidak jarang mereka yang mengaku praktisi white hat ujung-ujungnya bermain kotor (black hat) dan membunuh idealismenya sendiri di industri ini. Dan lucunya adalah mereka semua sadar apa yang mereka lakukan itu bisa merugikan klien dimasa depan, namun toh apa boleh buat fokus klien saat ini hanya peduli pada angka target yang ditetapkan (KPI). Biasanya ini pula yang menyebabkan banyak judul clickbait di media karena mereka-mereka ini (pembuat konten) ditargetkan dengan KPI berupa angka (pageviews) yang entah bagaimana caranya harus tercapai.

2. Sangat sulit menjadi perusahaan yang besar

sulit membangun & menjadi perusahaan besarSalah satu resiko bekerja di industri yang mudah dimasuki siapa saja adalah siapapun juga bisa menggantikan Anda kapan saja (termasuk bisnis Anda). Faktanya adalah digital marketing bukanlah investasi skill yang bagus (bukan berarti ilmunya jelek dan tidak berguna), mungkin lebih cocok dikatakan skill ini akan semakin membiasa seperti kemampuan MS. Word/Excell, toh semua orang pasti menggunakan sosial media seperti Facebook, Twitter, Instagram, dll.

Asal klien mau mempelajarinya platform yang ada seperti FB ads dan Google (SEO/SEM), sebenarnya merekapun bisa melakukannya sendirian, value yang ditawarkan agensipun biasanya cenderung lebih ke konten seperti isi materi artikel, desain gambar yang menarik, ide/eksekusi campaign dan pengembangan website/aplikasi. Namun untuk sisi marketingnya saya rasa klienpun bisa melakukannya (bahkan lebih baik) karena mereka yang betul-betul paham apa tujuan dan value dari bisnisnya sendiri.

Pada awalnya kita mungkin berpikir bisa membedakan diri dari kompetitor yang ada diluar sana, namun pada kenyataannya kami hanyalah satu dari ribuan agensi yang ada ditengah lautan freelancer dan entrepreneur. Gap antara yang terbaik (the best) dengan yang biasa-biasa saja (average) sangat sulit dirasakan, mungkin perbedaan tersebut hanya sekitar 20-30%, alhasil tidak banyak digital marketer yang bisa memiliki gaji diatas 10 juta walaupun levelnya sudah senior bahkan manager.

Secara karir jangka panjang, online marketing (di Indonesia) terlihat kurang menjanjikan, tak peduli berapa lama pengalaman Anda, perusahaan bisa saja mengganti Anda dengan karyawan baru (entry level) bahkan menggunakan freelancer di marketplace jasa, toh seperti yang saya katakan diatas perbedaannya paling hanya 20-30% namun perusahaan jelas lebih untung karena tidak perlu membayar lebih mahal untuk karyawan yang masih entry level.

Secara bisnispun (untuk jangka panjang) digital marketing juga terlihat kurang menjanjikan, jarang sekali ada agensi yang bisa mendapatkan 1% market yang ada, ibarat kue besar maka 1 potongan kue kecil (1%) harus dibagi-bagi oleh ribuan agensi lain disekitar Anda, Anda juga tidak bisa memakan beberapa kue kecil sekaligus, biasanya agensi hanya bisa menangani 3-10 klien secara bersamaan untuk perusahaan dengan 5-10 karyawan, seperti biasa ada deal harga diawal yang telah disepakati bersama klien dan jika proyek tersebut sukses besar maka hasil yang kita dapatkan tetap sama (tidak ada bonus apapun), paling-paling klien hanya akan memperpanjang kontraknya (new deal) dan kita mendapatkan kerjaan ekstra (more work).

Berbeda dengan bisnis pada umumnya dimana kita bisa menentukan nasib kita sendiri, di industri ini nasib kitalah yang ditentukan oleh klien selama-lamanya, selain itu lokasi juga menjadi salah satu faktor penghambat, mungkin kita mengira karena ini adalah bisnis online maka marketnya juga global, namun dalam dunia digital agensi hal seperti ini tidak berlaku, ada beberapa proyek yang mau tidak mau kita harus face to face bertemu muka dengan klien dan perlahan faktor geografispun menjadi hambatan yang sangat terasa (padahal bisnis online).

Agensi yang paling sukses biasanya adalah mereka yang berada di kota besar (seperti Jakarta), jika Anda adalah perusahaan agensi di Bandung dan ingin mengambil market di Jakarta maka Anda akan sangat kesulitan bersaing dengan agensi yang sudah ada di Jakarta walaupun reputasi/skill Anda diatas rata-rata. Lama-kelamaan faktor lokasi membatasi perkembangan perusahaan, semakin jauh lokasi klien semakin mahal pengeluaran operasional yang ada (ongkos transportasi, dll), alternatifnya mungkin adalah dengan pindah lokasi yang lebih strategis atau melakukan ekspansi namun dari segi biaya sangat tidak make sense karena ada beberapa hal yang harus dikorbankan seperti lokasi rumah karyawan, koneksi yang sudah dibangun, termasuk reputasi perusahaan.

3. Orang-orang mudah datang dan pergi begitu saja

mudah datang dan pergi begitu sajaSeperti yang saya katakan sebelumnya, dalam industri ini siapa saja bisa digantikan kapan saja, ditempat saya bekerja dulu bahkan saya mengalami reshuffle karyawan sebanyak 2-3 kali dalam 1 tahun, artinya kita akan sering kehilangan teman lama dan berkenalan dengan orang-orang baru (bisa positif/negatif tergantung sudut pandang pribadi), dari segi gajipun juga cukup mengkhawatirkan.

Digital marketer dengan pengalaman bertahun-tahun bahkan level manager jarang sekali memiliki gaji diatas 10 juta, bahkan mayoritas didunia agensi semua gaji karyawan hampir dipukul rata, artinya tidak peduli posisi dan job desc yang kita miliki, gaji kita memiliki standar yang sama (tergantung besar perusahaannya juga), paling-paling karyawan hanya mendapat tunjangan jabatan/kenaikan gaji per tahun. Ini jugalah yang menyebabkan banyak karyawan pindah haluan (mencoba peruntungan di industri lain) supaya bisa memperbaiki masa depannya, entah itu dengan bekerja ditempat lain, mengasah skill lain diluar digital marketing, atau membuka usahanya sendiri.

Memang suasana industri agensi sudah terbiasa dengan fleksibilitas yang tinggi, kadang hari Sabtu-Minggu kita masih ditagih kerjaan oleh klien, bahkan ada yang jam 12 malam ditelepon oleh klien/bos untuk revisi dan semacamnya. Sebagai seseorang yang pernah menjalani pekerjaan dan bisnis dibidang ini, industri agensi terbilang cocok untuk mereka yang suka dengan perubahan dan dinamika secara terus menerus, mau tidak mau Andapun harus belajar industri-industri lain (bisnis klien) dan terkadang hal ini bisa sangat melelahkan, Anda harus mencari ide-ide segar untuk berbagai campaign dan menyusun strategi yang berbeda-beda untuk setiap klien yang ada.

Secara harga jualpun perusahaan terkadang harus membanting harga sekompetitif mungkin untuk mendapatkan order klien, tidak jarang perusahaan juga mengambil order klien yang permintaannya tidak sesuai dengan kapabilitas karyawan, sudah bukan rahasia lagi bahwa perusahaan-perusahaan agensi melempar order ibarat dropshipper jasa, jadi yang mereka lakukan adalah mengambil order dari klien yang ada lalu meminta agensi lain yang mengerjakannya dan mereka bagi hasil, kurang lebih konsepnya seperti reseller-dropship dalam bentuk jasa.

Perusahaan juga suka merumahkan karyawan (memecat) secara tiba-tiba disaat keuangan sedang sekarat, saat klien sedang sepi/sedikit maka perusahaan tidak memiliki pemasukan untuk membayar operasional seperti biaya gedung, internet, gaji karyawan, dll. Namun karyawan tetap harus digaji, akhirnya pilihan yang diambil adalah dengan melakukan PHK atau meng-freelance-kan karyawan yang ada.

Bahkan saya sering melihat sebenarnya perusahaan agensi itu sedang tidak mendapatkan profit, mereka hanya sekedar bertahan hidup (ngambang) namun tidak profitable, tidak heran banyak karyawan yang gajinya telat, hanya dibayar setengah, dan bahkan tidak dibayar sampai berbulan-bulan.

Parahnya lagi dengan kondisi seperti inipun manajemen/atasan tetap memilih untuk terus menghire/menerima karyawan baru dan memperluas services (jasa) yang diberikan. Intinya adalah disini idealisme tidak akan bisa membantu banyak, kita harus berpikir lebih realistis melihat keadaan dan mempertimbangkan keputusan secara jangka panjang.



Pada akhirnya memang dunia bisnis online itu tidak seindah cerita-cerita entrepreneur sukses yang sering Anda lihat dibuku dan internet. Banyak sekali kegagalan, pengorbanan, bahkan derita dibaliknya yang mungkin tidak pernah kita lihat. Tentunya apa yang saya sampaikan disini tidaklah 100% benar namun juga tidak 100% salah, semoga sharing ini bermanfaat dan bisa membuka wawasan Anda menjadi lebih baik dalam memandang dunia bisnis khususnya bisnis online marketing (digital agensi) dan juga membuat Anda bisa mengambil keputusan dengan lebih bijak dimasa depan.


Related Posts: