Mengapa Peluang Reseller Dropship Akan Segera Mati di Indonesia


prospek bisnis reseller dropshipTidak dapat dipungkiri bahwa peluang reseller/dropship semakin kesini semakin mengkhawatirkan, hal ini disebabkan karena marketplace sudah mendominasi pasar di Indonesia. Kita lihat faktanya saja, berdasarkan data top situs Indonesia dari Alexa sudah jelas e-commerce yang peringkatnya paling tinggi adalah Tokopedia & Bukalapak (disusul oleh B2C seperti Lazada, dll).

Marketplace memang sudah mendominasi e-commerce di Indonesia (sudah loh ya) dan jelas akan membunuh prospek bisnis reseller/dropship cepat atau lambat. Jika Anda sedang menekuni bisnis reseller dropship, maka saya sarankan:

  • Segera siapkan rencana untuk naik level menjadi tangan pertama/distributor/importir
  • Alternatif lainnya adalah coba buat produk Anda sendiri (menjadi produsen)
  • Segera bangun reputasi Anda di marketplace seperti Tokopedia dan Bukalapak

Mengapa?

Karena percaya tidak percaya nantinya masa depan toko online Indonesia akan sepenuhnya berada di marketplace. Inilah beberapa alasannya:


1. Marketplace adalah tempat terbaik untuk membandingkan dan menemukan harga termurah

Kita pasti sudah paham betul mindset konsumen Indonesia yang mayoritas adalah pelacur harga (price whore), sayapun juga seorang pelacur harga, toh jika ada harga yang lebih murah dan kualitasnya sama kenapa harus beli di tempat yang lebih mahal?

Saya juga tidak asal ngomong tanpa meneliti terlebih dahulu, saya sebelumnya adalah reseller/dropshipper aksesoris komputer dan gadget yang menjual lebih dari 2.000 produk. Saya juga pernah menjadi tangan pertama (importir) untuk sebuah produk brand China dan Korea.

Bukannya ingin berpihak kepada marketplace, tapi jujur sepanjang perjalanan saya mencari supplier, membanding-bandingkan harga, dan meneliti harga pasar, dari ribuan produk yang sudah saya jual, saya selalu menemukan harga termurah di Tokopedia dan Bukalapak dibandingkan e-commerce lainnya dalam kategori APAPUN. Satu-satunya harga yang masih kompetitif paling hanyalah produk yang dijual oleh brand resmi seperti handphone dan komputer (itupun karena ada MAP).

Mengapa bisa?

Karena sistem marketplace jauh lebih efisien dan transparan dibandingkan dengan sistem e-commerce lainnya. Marketplace mempertemukan penjual dan pembeli secara langsung dan mengamankan transaksi dengan rekening bersama/escrow.

Bandingkan dengan website B2C dimana barang penjual biasanya dititipkan kepada pihak e-commerce (kecuali self management) dan dikenakan komisi sekian % dari transaksi. Sebagai penjual mau tidak mau kita akan menjual dengan harga lebih tinggi karena harus mengimbangi profit dengan potongan komisi yang ada, sedangkan kita tahu harga masih menjadi tolak ukur yang paling penting bagi konsumen.

2. Menjadi penjual/seller di marketplace tidak memiliki banyak syarat

Kita sebagai orang Indonesia sudah bosan dengan yang namanya birokrasi apalagi kalau berbelit-belit, di marketplace seperti Tokopedia/Bukalapak siapa saja bisa langsung berjualan tanpa harus direpoti urusan formalitas, sedangkan di website B2C kita harus melampirkan data-data seperti KTP, surat usaha, NPWP, dan birokrasi lain yang saya rasa 50% market di Indonesia masih belum dapat memenuhinya.

Artinya produk-produk KW/China yang murah-murah itu kemungkinan tidak akan masuk kedalam e-commerce B2C, sedangkan masih sangat banyak masyarakat Indonesia yang menggemari produk KW bukan karena kualitasnya bagus, tetapi karena cukup layak pakai dan harganya lebih terjangkau.

3. Harga final yang dibayar konsumen adalah yang paling penting

tipuan harga diskonSaya sangat salut betapa gigihnya website-website B2C di Indonesia, tanpa henti-hentinya terus membodohi masyarakat dengan memberikan ongkir gratis, diskon/cashback, dan embel-embel promosi tidak penting lainnya namun ujung-ujungnya tetap saja konsumen malah membayar lebih mahal dari harga yang ada di marketplace (ya jelas karena harganya sudah di mark-up 2-3x lipat).

Seolah konsumen Indonesia itu masih bisa dibodohi dengan tipuan harga/diskon. Dulu supplier saya pernah menggunakan promosi situs daily deals sebut saja “Disdut” namun harganya di mark up malah menjadi lebih mahal. Jadi harga aslinya hanya Rp 80.000,- namun dijual di Disdut seharga Rp 100.000,-. Lucunya Disdut mempromosikan harga barang tersebut Rp 200.000,- lalu di diskon 50% menjadi Rp 100.000,- (ironis), jadi apakah ini termasuk pembodohan publik? Diskon kok jadi lebih mahal ya, luar biasa bukan.

Yang lebih menggelikan lagi adalah mereka membuat cerita-cerita penjual sukses (seller story) dan pengalaman/testimoni pembeli yang terkadang sangat tidak masuk akal. Anda pasti sudah sering melihat bukan tiba-tiba ada cerita anak SMA yang menghasilkan puluhan/ratusan juta dari bisnis online shopnya? Rekam jejaknya saja tidak jelas dan tokonya ga pernah kedengaran tau-tau omset langsung ratusan juta, yah itulah hebatnya pengusaha di negeri ini.

Walaupun hampir semua e-commerce B2C memberikan ongkir gratis jabodetabek (come on man, ongkir jabodetabek hanya Rp 9.000,- tidak ada artinya sama sekali dibanding harga yang sudah di mark-up), namun harga final termurah tetap saja ada di marketplace karena kita membeli langsung dari supplier tanpa biaya komisi pihak ketiga.

Karena itulah mayoritas harga termurah selalu kita temukan di Tokopedia/Bukalapak, tidak adanya komisi apapun terhadap penjual memungkinkan seller untuk memberikan harga terbaik kepada pembeli. Pada akhirnya apa yang paling penting adalah berapa harga final yang konsumen bayar untuk mendapatkan produk tersebut, mereka tidak peduli dengan cicilan, diskon, bunga 0%, cashback, voucher, dan tipuan angka bodoh lainnya.

4. Reseller/dropshipper hampir tidak memiliki peluang sama sekali di marketplace

Website seperti B2C itu sendiri hitungannya adalah reseller. Mereka tidak memiliki produk namun hanya menjualkan produk dari supplier, bisa Anda bayangkan kalau reseller kelas perusahaan saja harus struggle menghadapi dominasi marketplace, bagaimana dengan reseller/dropshipper perorangan yang bahkan tidak memegang kendali sama sekali terhadap produk yang mereka jual?

Supplier-supplier yang saya kenalpun mengatakan saat belanja online mereka akan langsung sortir berdasarkan harga termurah di Tokopedia/Bukalapak, alternatif lainnya adalah sortir berdasarkan penjualan.

Sebagai reseller tentu Anda harus menaikkan harga supaya mendapat profit bukan? Bagaimana Anda bisa menghadapi persaingan harga yang ada? Salah satu kuncinya ya hanya berharap dari sortir penjualan, namun bagaimana bisa mendapatkan penjualan kalau harga yang Anda tawarkan lebih mahal dan sebelumnya tidak memiliki penjualan sama sekali?

Maka dari itu saya selalu berkata Anda tidak akan pernah bisa sukses kalau hanya menjadi reseller/dropshipper, mau tidak mau Anda harus naik level dan betul-betul menyetok barang sebagai tangan pertama.

Persaingan di marketplace itu sangat ketat, belum lagi distributor/importir yang sudah besar masih melakukan dropship juga dari supplier-supllier lainnya. Jadi mereka akan menjual beberapa barang dari toko lain dan me mark-up harganya menjadi lebih mahal untuk mendapat profit. Mereka bisa menghasilkan penjualan dropship karena sudah memiliki reputasi dan rekam penjualan yang bagus.

Jadi apa yang harus dilakukan oleh reseller/dropshipper?

Jika Anda memiliki toko online yang berbasis reseller dropship maka saya sarankan segera bermain pintar dengan memadukan antara reseller tangan pertama dan dropship dari seller lainnya.

Jadi produk yang Anda stok bisa Anda jual di marketplace untuk mulai membangun reputasi kecil-kecilan, lebih bagus lagi kalau menjual produk yang dibeli secara kuantiti, misalnya Anda menjual permen Rp 200,-, jika ada yang membeli seharga Rp 200.000,- saja berarti Anda sudah mencetak penjualan sebanyak 1.000 produk di toko Anda (kebanyakan user hanya peduli pada angka ini tanpa mengecek lebih detail), sehingga di mata konsumen toko Anda sudah menghasilkan 1.000 penjualan produk (seolah reputasi Anda sudah cukup bagus).

Saya juga masih sering melihat penjual yang memanipulasi reputasinya di marketplace, jadi mereka membuat akun bodong (fake) sebagai pembeli lalu memasang produk murah di tokonya yang diorder secara massal, misalnya seperti kertas seharga Rp 100,- per lembar, mereka akan membuat transaksi palsu dengan membeli kertas tersebut sebesar Rp 300.000,- jadi kertas tersebut terhitung sudah terjual sebanyak 3.000 kali dan dengan begitu status tokonya “seolah-olah” sudah berhasil menjual 3.000 produk (padahal dia-dia juga yang beli).

Ya namanya manusia, selama ada celah dalam sistem, mereka pasti akan mencuranginya.


peluang dropship di indonesiaApakah nantinya bisnis dropship bisa bertahan?

Sebagai pelaku dropship saya sendiri merasa usaha ini bukanlah model bisnis yang bagus karena tidak banyak value yang bisa ditawarkan oleh seorang dropshipper.

Ruang gerak dropshipperpun sangat dibatasi dan tidak fleksibel karena sepenuhnya bergantung pada supplier, sebagus apapun pelayanan yang Anda berikan kepada konsumen, semua akan hancur kalau pelayanan supplier Anda tidak berkualitas. Secara tidak langsung bisnis Anda sepenuhnya bergantung di tangan orang lain (supplier).

Anda yang sudah berkecimpung didunia dropship sebaiknya mulai melihat kenyataan dan perkembangan e-commerce dalam negeri ini, apakah menurut Anda masih prospektif membuat toko online yang berbasis reseller dropship?

Mungkin artikel-artikel lain yang Anda baca akan berkata membuat toko online dan menjadi reseller adalah peluang usaha yang bagus dan prospektif, namun saya kurang setuju dengan itu semua. Membuat toko online hanya bagus kalau Anda berniat menjadi tangan pertama atau produsen, jika Anda masih ingin struggle didunia reseller/dropship maka semoga beruntung.

Lagipula jika diperhatikan rata-rata mereka yang mengatakan toko online itu masih prospektif hanyalah orang-orang yang bahkan tidak memiliki online shop (sekedar nulis artikel untuk mendapat views) atau mereka hanyalah pebisnis yang menawarkan jasa pembuatan website toko online. Para pebisnis itu tidak peduli mau Anda hidup atau mati, mereka akan berbohong dan membujuk Anda untuk membeli dari mereka tanpa betul-betul mempedulikan fakta yang ada dilapangan.

Kesimpulannya adalah pintar-pintarlah melihat fakta yang sesungguhnya. Tentu tidak ada yang tahu apakah marketplace akan terus mendominasi e-commerce di Indonesia nantinya, namun menurut saya sampai saat ini marketplace masih menjadi tempat belanja online terbaik dibandingkan dengan e-commerce lainnya.

Bukan hal yang mustahil nantinya marketplace seperti Tokopedia dan Bukalapak akan menjadi seperti Alibaba di China. Jadi jauh lebih baik bangun reputasi toko online Anda disana dan mulai berinvestasi dari sekarang.


Related Posts: