Mengenal Jenis-jenis Pakaian Adat & Baju Tradisional Jepang


Pakaian adalah sebuah identitas, kita tahu bahwa pakaian adalah salah satu tren yang sangat cepat mengalami perubahan. Industri tekstil dan garmen memiliki banyak pekerja yang sibuk menjahit atau menyelesaikan produksi massal sebuah pakaian, desainer juga berlomba-lomba menghasilan karya terbaik agar pakaian rancangannya bisa menarik pembeli. Lalu bagaimana dengan pakaian adat tradisional? Apakah masih menarik untuk dikenakan meski di zaman modern seperti ini? Apakah baju tradisional Jepang yang kita lihat di film/kisah jadul itu masih eksis digunakan hingga saat ini?

Ya, tentu saja.

Pakaian tradisional adalah identitas bangsa, jika tak dijaga dan dilestarikan, pasti akan punah suatu hari nanti. Di Indonesia sudah banyak desainer yang membuat pakaian dengan unsur nusantara contohnya batik dan kebaya. Dua bahan tersebut tak hanya digunakan untuk acara formal atau kepesta pernikahan saja, kini unsur tradisional juga bisa menjadi pakaian unik nan santai.

Salah satu negara yang menjadi kiblat fashion dunia adalah Jepang. Jepang membuat banyak desain pakaian namun juga masih menjaga pakaian adat khas tradisionalnya.


Berikut ini adalah jenis-jenis baju tradional Jepang:

1. Kimono

baju kimono jepangKimono adalah pakaian khas baju tradisional Jepang yang paling terkenal. Bagi Anda yang bisa berkesempatan ke Jepang pasti punya keinginan untuk mencoba berfoto dengan latar belakang bunga sakura sambil memakai kimono. Kimono berasal dari kata ki dan mono, ki berarti memakai sedangkan mono berarti barang.

Perempuan Jepang sering menggunakan kimono untuk acara-acara tertentu misalnya pesta pernikahan. Kimono ternyata menunjukkan makna tersembunyi yang bisa menunjukan usia pemakai, status pernikahan dan juga strata sosial di masyarakat.

Jenis-jenis kimono terbagi menjadi beberapa jenis lagi, yaitu:

– Kurotomesode

Kurotomesode adalah kimono berwarna hitam dengan simbol (lambang) di tiga bagian. Salah satu ciri yang mencolok adalah motif yang cantik disekitar bagian kaki (suso) dan biasanya pakaian ini dikenakan di acara sangat formal seperti resepsi perkawinan. Pakaian ini hanya bisa dikenakan oleh perempuan yang sudah menikah.

– Irotomesode

Irotomesode adalah jenis kimono yang bisa dipakai wanita baik yang sudah menikah atau belum. Berbeda dnegan kurotomesode, warnanya bisa berwarna-warni selain hitam dan jumlah lambang keluarga juga tak ditentukan. Irotomesode boleh dipakai di acara resmi selain pesta pernikahan di istana kaisar.

– Furisode

baju jepang furisodeFurisode adalah jenis kimono yang bisa dipakai gadis lajang atau belum menikah. Bagian lengannya menjuntai sampai ke bawah, berbeda dengan jenis kimono lain. Coraknya bisa memenuhi kain dengan pilihan warna yang lebih ceria. Furisode biasa dipakai di upacara kedewasaan (seijin shiki), upacara kelulusan seperti wisuda dan juga acara pernikahan teman sebaya.

– Komon

Komon adalah jenis kimono untuk acara yang lebih santai. Jenis kimono ini bisa dikenakan oleh gadis lajang atau wanita yang sudah menikah. Biasanya komon sering digunakan di pesta reuni sekolah atau menonton pertunjukan yang dilaksanakan didalam gedung semacam kabuki, noh, dan lain-lain.

2. Yukata

baju khas jepang yukataYukata adalah sejenis kimono versi lebih tipis dan juga digunakan di acara yang jauh lebih santai. Kimono memiliki lapisan kain yang lebih banyak dibanding yukata. Yukata biasa juga disebut sebagai kimono musim panas karena bahannya yang kebanyakan terbuat dari katun serta menyerap keringat.

Yukata mmeiliki warna dan motif yang lebih ceria dan cerah. Perempuan Jepang biasa mengenakan yukata ketika menghadiri pesta kembang api atau hanabi taikai dimusim panas dan festival obon.

3. Hakama

pakaian tradisional jepang hakamaHakama adalah sejenis celana panjang yang berbentuk seperti celana kulot tapi cara pakainya diikat dipinggang. Ukuran panjangnya mencapai mata kaki dan dikenakan diatas kimono (pada umumnya kimono pria, bukan wanita). Hakama dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu umanori dan andon bakama. Hakama menggunakan empat tali (himo) sebagai pengikat, dua tali tersebut berbentuk panjang dan pendek.

Saat ini pria Jepang menggunakan hakama untuk acara-acara formal seperti upacara minum teh, upacara pernikahan dan pemakaman. Hakama juga sering dipakai pada beladiri Jepang seperti judo, kendo dan aikido. Para pendeta Shinto mengenakan hakama di kuil sebagai pakaian sehari-hari.

4. Jinbei

baju tradisional jepang jinbeiJinbei biasanya dikenakan laki-laki untuk mendampingi perempuan yang memakai yukata. Modelnya seperti pakaian santai dengan model celana pendek. Bisa dipakai perempuan juga di acara-acara festival. Karena motifnya cenderung biasa dan berwarna gelap, jinbei lebih sering dikenakan laki-laki yang kadangkala dipakai sebagai baju tidur.

Itulah beberapa jenis baju tradisional Jepang baik yang dikenakan laki-laki dan perempuan. Saat memakai pakaian tradisional, maka tidak akan lengkap tanpa memakai geta (alas kaki tradisional). Geta adalah alas kaki tradisional jepang yang terbuat dari kayu dan sekilas desainnya seperti bakiak Indonesia.

geta alas kaki jepangGeta memiliki tiga lubang sebagai tempat memasukkan dan menyambungkan tali dilapisi kain (hanao). Ada dua hak di bagian bawah alas geta. Tujuan dari dibuatnya hak tersebut agar pemakai geta tidak repot ketika berjalan di tanah becek atau di saat hujan. Anda bisa memakai geta seperti memakai sandal jepit atau melapisi kaki dengan kaus kaki yang disebut tabi saat memakai yukata.

Baca juga: Mengenal ragam budaya dan tradisi Jepang

Itulah beberapa penjelasan mengenai pakaian/baju tradisional Jepang. Ternyata cukup banyak jenis sesuai fungsi dan juga coraknya. Semoga menambah khazanah wawasan Anda mengenai budaya tradisional Jepang.


Related Post: