Kenapa Kita Perlu Menjadi Orang yang Idealis (Sedikit Tidak Realistis)


Semua orang pasti punya mimpi, semua orang pasti punya idealisme, namun kenyataan seringkali (bahkan selalu) tidak berjalan sesuai apa yang kita inginkan, tidak heran sebagian besar orang memilih untuk menjadi orang yang realistis saja, begitupun saya. Menjadi orang idealis dijaman sekarang rasanya seperti mimpi di siang bolong, cuma mengejar bayangan semu yang sebenarnya tidak pernah ada, namun saya ingin berbagi sedikit tentang menjadi orang yang idealis.

Kalau saya tidak idealis, blog ini mungkin tidak akan pernah ada dan tulisan ini tidak akan pernah dibuat, dan mungkin sekarang saya sedang bekerja dikantor atau berdagang atau ternak lele. Don’t get me wrong, saya sendiri orangnya sangat realistis (bisa dilihat dari artikel-artikel di blog ini), tapi saya juga masih memiliki sedikit idealisme yang tersisa dalam diri saya, mengapa? Karena konsisten pada idealisme inilah yang membuat saya semangat untuk terus menulis di blog ini, apa yang paling saya takutkan adalah saya berhenti bermimpi karena menjadi terlalu realistis. Dan saya pernah sampai ditahap itu (terlalu realistis) hingga akhirnya saya tidak lagi bermimpi atau berekspektasi apapun pada orang lain, apa yang terjadi? Hidup saya sangat hampa, hari demi hari terasa tak bermakna, jika seseorang tidak memiliki idealisme, hidup mereka akan benar-benar kosong, apa yang kita pikirkan hanyalah mencari uang/profit dan kebahagiaan-kebahagiaan semu, kita akan hidup seperti robot yang diulang-ulang bagai kaset rekaman.

Setiap orang perlu mengetahui apa yang mereka miliki (realistis), apa yang mereka inginkan (idealis), dan apa yang harus mereka lakukan (eksekusi secara realistis untuk menuju idealisme). Kalau Anda ingin tetap menjadi orang yang sangat realistis (100% realist) itu juga tidak masalah, karena memang faktanya lebih banyak hal yang bisa diselesaikan secara realistis dan logis, ketimbang hanya menggunakan idealisme dan perasaan. Namun ada sesuatu yang lain diuar hal yang kita lihat sehari-hari, there’s something going on here in life, selain hanya bekerja 8 jam sehari, berkeluarga, punya mobil/rumah idaman, there’s something more going on, ada sisi lain dibalik koin yang kita tidak sering bicarakan, dan biasanya baru terasa setelah ada gap/fenomena yang cukup besar, dan biasanya hanya orang yang masih punya idealisme yang mau mencari tahu apa itu.

Inilah yang menyebabkan banyak lulusan sarjana lebih memilih menjadi entrepreneur/membuat startup ketimbang bekerja diperusahaan, inilah yang menyebabkan banyak anak-anak mau jadi youtuber ketimbang karyawan bank, karena mereka ingin mengubah sesuatu, menemukan sesuatu yang baru, dan tentu mengejar mimpi dan cita-citanya.


Secara personal saya sendiri cukup menyesal karena banyak hal-hal idealis yang tidak pernah saya lakukan/coba beberapa tahun yang lalu dan saya memilih untuk melakukan yang pasti-pasti saja, saya hanya takut dimasa tua membayangkan apa yang seharusnya saya lakukan/mulai dimasa lalu dan menyesal, mengapa saya tidak melakukan/mencoba apa yang ingin saya lakukan.

Realistis itu penting, tapi kita juga perlu idealisme untuk mengisi hidup kita dengan sesuatu, kecuali kalau Anda merasa yang penting uang/materi maka hal ini tidak berlaku untuk Anda, memang tidak ada yang salah dengan fokus pada materi karena materipun bisa membeli kebahagiaan dengan caranya sendiri.

Inti yang ingin saya sampaikan dalam artikel ini adalah terkadang kita perlu menjadi sedikit ga realistis dalam artian memiliki idealisme yang setinggi langit namun kaki tetap menginjak tanah, Anda bisa kehilangan segalanya, tapi jangan sampai Anda kehilangan idealisme Anda sepenuhnya, jangan sampai Anda kehilangan mimpi dan harapan Anda. You can lose everything, but don’t lose your dream & your hope.


Related Post: