Mengapa Ada Kebencian (Iri, Dendam, Dengki) Dalam Hidup Ini


Mengapa ada kebencian (rasa benci, iri, dendam, dengki, dll) dalam hidup ini terutama didunia maya (internet) kita sering sekali melihat isu agama, rasis, politik, perdebatan dan berbagai kontroversi lainnya. Pembenci (haters) tersebut selalu ada disetiap golongan dan kelas/level manapun baik itu dari agama x, atau ras y, ataupun golongan pendukung presiden z.

rasa benci iri dendam dengkiNow the question is why? Why this happened? Mengapa ada kebencian? Mengapa kita membenci a atau b? Mengapa ada orang yang membenci golongan/agama/ras tertentu?

Beberapa akan menjawab:

  • Ah, memang udah dari sananya begitu dan bla.bla.bla
  • Salah dia-lah jelas-jelas mereka itu ga bener, ga bisa bla.bla.bla
  • Golongan ini sejak awal memang cuma kumpulan orang-orang sampah dan bla.bla.bla

Jawaban LOGIS-nya adalah KEBENCIAN itu sebagian besar DIAJARKAN.


Saya percaya bahwa setiap manusia sejatinya adalah orang baik (berhati nurani baik) dan kita semua pada dasarnya lahir kedunia ini sama rata (sama-sama tidak tahu apa-apa). Hanya saja kita lahir dalam keadaan/kondisi yang berbeda, dengan lingkungan dan pengaruh yang berbeda pula.

Lalu apa maksud dari kebencian itu diajarkan?

Pada dasarnya kita semua lahir kedunia sebagai orang baik yang tidak tahu apa-apa, dan untuk meraih pengetahuan/rasa/emosi/informasi apapun itu didunia ini hanya bisa dilakukan dengan 2 cara yaitu:

  1. Learn (Diajarkan oleh orang lain, entah itu orang tua/keluarga/guru/teman/lingkungan)
  2. Experience/pengalaman (Kita mengalami/melakukannya sendiri dan belajar dari pengalaman tersebut)

Kita ambil contoh simpel:

Toni lahir dikeluarga ras X yang diajarkan untuk tidak bergaul dengan ras Y, lalu Budi lahir dikeluarga ras Y yang juga diajarkan untuk tidak bergaul dengan ras X. Ras X dan ras Y ini memiliki stereotip yang saling negatif satu sama lain, ditambah lagi adanya sejarah yang buruk antara ras X dan ras Y membuat keduanya semakin sulit menerima satu sama lain.

Walaupun Toni tidak mengenal Budi secara langsung (experience) tetapi ajaran keluarga dan stereotip yang ada membuat Toni menjauhi Budi begitu pula sebaliknya, dan mereka akan saling berdebat didunia maya (internet) bahwa ras merekalah yang lebih baik.

Tentu tidak 100% semua kebencian itu diajarkan, ada pula yang terjadi karena pengalaman dan menjadi dendam yang kemudian diajarkan kepada orang lain (tetapi pada dasarnya satu/beberapa pengalaman tidak mewakili keseluruhan atau semua keadaan yang terjadi).

Jika A mengalami perlakuan yang buruk dari B, maka A akan mengajarkan pada orang lain/lingkungannya bahwa B adalah orang yang tidak baik (berdasarkan pengalamannya) padahal belum tentu B itu orang yang tidak baik.

Masalahnya adalah di Indonesia hal tersebut sangat sering terjadi. Ajaran (kebencian) tersebut ditelan mentah-mentah tanpa proses berpikir/sudut pandang lain dan diterima sebagai kebenaran yang mutlak (kita biasa sebut itu sebagai ANARKIS/FANATIK). Ditambah lagi di Indonesia juga terdapat beberapa stereotip yang sulit untuk diubah seperti:

  • Ajaran orang tua/guru selalu mutlak dan harus diterima (selalu benar)
  • Pendapat umum/status quo sangat sulit untuk dilawan (melawan arus sama saja bunuh diri)
  • Opini (dan sedikit alasan untuk mendukung opini tersebut) sudah cukup untuk diterima sebagai FAKTA
  • Kentalnya pemikiran adat/budaya/ras yang kurang menerima pemikiran diluar golongan mereka (kurangnya pemikiran open-minded)

Bukan berarti poin-poin yang disebutkan diatas itu salah/tidak baik, tetapi kita harus belajar tidak melihat koin dari satu sisi saja atau hanya melihat melalui satu sudut pandang, tetapi belajar melihat dari sudut pandang yang berbeda.

Jadi jika ada yang bertanya mengapa ada haters/pembenci, isu rasis, politik, agama dan sebagainya jawabannya simpel karena kebencian itu DIAJARKAN. Stupidity is contagious, and so is hatred. Kebodohan itu sangat mudah menular, begitu pula dengan kebencian (rasa benci, iri, dendam, dengki). Ingat bahwa manusia itu pada dasarnya sangat mudah dimanipulasi terutama dalam berkelompok/bergolongan, karena itu berhati-hatilah dalam bergaul dan memilih lingkungan Anda.


Related Posts: