Kerukunan & Toleransi Antar Umat Beragama (Stop Debat Agama)


Agama adalah topik yang sangat sensitif dan sebisa mungkin ingin saya hindari jauh-jauh dari blog ini, Anda boleh percaya atau tidak dengan apa yang saya sampaikan, entah agama Anda Islam, Kristen, Budha, dll yang penting adalah Anda tetap membaca tulisan ini sampai akhir karena membahas sesuatu yang sensitif seperti agama tidak boleh disampaikan setengah-setengah. Melihat banyaknya debat agama yang terjadi di Indonesia, mungkinkah kerukunan dan toleransi antar umat beragama terjadi? Bukankah kita adalah bangsa yang sangat menghargai perbedaan? Itulah sebab semboyan bangsa kita “Bhinneka Tunggal Ika” yang artinya walaupun berbeda-beda tapi tetap satu.

Entah apa agama Anda, menjadi orang beragama harusnya membuat kita menjadi orang yang lebih baik apapun agamanya. Agama bukan diciptakan untuk membuat diri merasa paling benar, karena ketika seseorang merasa dirinya paling benar maka ia cenderung mengkoreksi apa yang menurutnya salah, dan saat kita mengkoreksi suatu kesalahan disitulah terjadi perpecahan. Why? Mengapa dengan mengkoreksi sesuatu malah menimbulkan perpecahan? Jawabannya simpel karena setiap orang memiliki pandangan hidup (worldview) yang berbeda-beda, mereka memiliki keyakinannya sendiri tentang apa yang benar dan apa yang salah sesuai dengan moral yang entah telah dipelajarinya selama hidup ataupun diturunkan oleh keluarga/orang tua dan lingkungannya.

Selain itu sangatlah berbahaya jika Anda mengkoreksi agama lain yang bukan agama Anda, jangankan mengkoreksi, Anda menyenggol sedikit saja agama lain bisa berakhir dipenjara (masih ingat kasus Ahok?), itulah masalah terbesar manusia, itulah sebab bangsa kita sangat mudah dipecah oleh agama, ras, dan politik, saat manusia merasa benar, ia merasa boleh melakukan apapun kepada yang menurutnya salah, tidak heran banyak kasus maling yang mati dikeroyok warga sekitar, walaupun maling itu salah namun tidak lantas membuat kita berhak memukulinya sampai mati apapun alasannya (bukankah membunuh itu lebih kejam dari mencuri?), saat manusia merasa lebih mulia, dia merasa boleh melakukan apapun kepada yang “menurutnya” tidak/kurang mulia.

Lalu bagaimana cara membuat kerukunan & toleransi antar umat beragama?


kerukunan & toleransi antar umat beragamaMasalahnya kita tidak bisa menghilangkan semua perbedaan pandangan itu begitu saja, semua orang by default pasti memiliki keyakinan, budaya, moral, agama, pandangan politik, termasuk stereotip terhadap ras/agama tertentu yang berbeda-beda, itulah sebab kita bisa menerima beberapa pandangan dan tidak bisa menerima sudut pandang lain terutama jika berlawanan dengan kepercayaan kita, itulah sebab dalam debat agama sering terjadi perpecahan, semakin Anda memaksa dan membuktikan pandangan orang lain salah maka semakin mudah mereka terbawa emosi dan akhirnya timbul konflik yang lebih jauh, semakin Anda berusaha mengubah pandangan/keyakinan seseorang, maka semakin mereka tidak percaya dengan apa yang Anda katakan.

Fenomena ini sering disebut juga dengan backfire effect, dan ini adalah gejala psikologis yang sangat wajar terjadi dalam setiap konflik opini, saat Anda mengkoreksi pandangan hidup/agama/keyakinan seseorang, hal ini sama saja seperti Anda menyerang orang tersebut secara fisik, tentu mereka akan bertahan sampai titik dimana mereka tidak lagi bisa bertahan dan akhirnya menyerang balik (backfire), ada bagian otak manusia yang disebut “amygdala” dan ini adalah bagian inti dari pusat emosi pikiran Anda, inilah yang membuat kita merasa seperti “diserang” saat orang lain menyatakan bahwa pandangan/kepercayaan kita salah.

Setiap manusia pasti memiliki pusat/inti keyakinan (core beliefs), sesuatu yang betul-betul dihargainya dan dianggap sebagai pedoman hidupnya, biasanya keyakinan ini berasal dari keluarga (diturunkan oleh orang tua), pengaruh lingkungan, dan terus berkembang seiring bertambahnya pengalaman hidup. Core beliefs atau inti keyakinan ini sangatlah sensitif dan cenderung sangat sulit dirubah, inilah yang membuat orang rela mati-matian membela keyakinannya, inilah yang menyebabkan debat agama/politik mudah berakhir dengan konflik emosional, otak kita tentu ingin konsisten, saat kita percaya “A”, kita ingin “A” ini adalah kebenaran karena kita hidup sesuai dengan pedoman “A” dan “A” sudah menjadi fondasi dasar hidup kita, semua stereotip yang berlawanan dengan “A” sama saja seperti menghancurkan pandangan hidup yang selama ini Anda pegang, tentu Anda tidak bisa menerima begitu saja jika seseorang datang dan mengatakan bahwa selama ini Anda hidup dalam kebohongan, itulah sebab otak Anda merespon dan melindungi Anda dengan “menolak” pandangan yang berbeda.

Itulah sebab kita memiliki backfire effect, ini adalah reaksi biologis manusia untuk melindungi pandangan hidupnya, namun ingat bahwa pandangan hidup kita tidaklah sempurna, sebaliknya seiring berjalannya waktu Anda akan merasa sebagian keyakinan hidup Anda ternyata adalah sampah (sesuatu yang dipaksakan hanya karena orang lain ingin Anda berpikir seperti itu).

Jadi apa yang harus kita lakukan?

Realitanya saya sendiri tidak memiliki nasihat/saran brilian apapun untuk Anda, saya sendiri juga sering berargumen dengan orang lain saat berbeda pandangan dan cenderung emosi dan menyerang balik (backfire), saya tidak punya cara untuk mengubah perilaku ratusan juta orang Indonesia yang masing-masing memiliki keyakinannya (core beliefs) sendiri-sendiri, apalagi menghentikan berbagai debat tentang agama dan perpecahan apapun yang ada di internet, cara terbaik yang bisa saya lakukan adalah membuat Anda setidaknya sadar (aware) dengan fenomena ini (backfire effect), sehingga Anda bisa mengidentifikasi gejala backfire dipikiran Anda sendiri.

Memang kenyataan tidak semudah kata-kata, otak kita tidak bisa memisahkan begitu saja antara logika dan perasaan (emosional), sebagian dari kita mengatakan bahwa perasaan (emosi) inilah yang membuat kita menjadi manusia (that’s what makes us human), tapi itulah juga yang membuat kita bisa menjadi binatang (animal).

Jadi tidak ada yang salah dengan berbagai perbedaan yang ada disekitar kita, biarkan perbedaan itu tetap ada, biarkan diri Anda emosi sesaat, biarkan diri Anda mendengar, dan biarkan diri Anda berubah.

So, it’s okay to stop, it’s okay to listen, then it’s okay to change.

debat agamaKarena saya percaya setiap orang menginginkan hal yang sama (kebahagiaan), kita semua menuju rumah yang sama, hidup di dunia ini adalah kesempatan yang sangat indah dan sangat disayangkan jika harus dihabiskan untuk berdebat, karena pada akhirnya kita semua memandang langit yang sama.

Saya tidak akan mengatakan Anda harus percaya “A” atau “B”, saya tidak berada disini untuk memegang kendali, atau mengubah perspektif dan pandangan hidup Anda, saya hanya ingin mengatakan bahwa tidak apa-apa jika kita berhenti sejenak, kita mendengar dan kita berubah. Karena pada akhirnya saya percaya bahwa agama terbaik adalah agama yang keimanannya ditemukan bukan diturunkan by default oleh orang tua, dan keyakinan terbaik adalah sesuatu yang ditemukan/dirasakan bukan karena sekedar diajarkan oleh orang lain.


Related Posts: