9 Kebiasaan Baik dan Positif Orang Jepang yang Perlu Kita Tiru


Banyak orang beranggapan jika orang Jepang tidak memiliki agama, memang negara Jepang membebaskan warganya untuk menganut sautu agama dan tidak ada kolom nama agama didalam kartu identitas mereka. Meskipun begitu, masyarakat Jepang yang disebut-sebut sebagai keturunan suku Ainu mempercayai adanya kekuasaan tertinggi dialam semesta dan berusaha menerapkan kebiasaan-kebiasaan baik yang menjadi ciri khas karakter bangsanya, sehingga akan jarang sekali kita temui orang Jepang yang bersikap terlalu santai dan menghambur-hamburkan waktu.

Indonesia sebagai negara yang masih memegang adat ketimuran sebenarnya juga mempunyai segudang kebiasaan baik dan positif yang bisa dikembangkan, namun setelah budaya asing masuk ditambah perkembangan internet yang sangat signifikan, membuat sebagian masyarakat lokal mulai melupakan identitas nasionalnya sendiri.

Kita bisa belajar dari kebiasaan-kebiasaan baik dan positif orang Jepang yang kelihatannya sederhana namun bisa memberikan dampak yang luar biasa pada kemajuan bangsa.

Inilah 9 kebiasaan baik orang Jepang yang perlu kita tiru dalam kehidupan sehari-hari:


1. Mau antri

Apakah Anda sering dibuat kesal oleh seseorang yang tiba-tiba menyerobot antrian? Lihat saja orang-orang disekitar Anda seperti di mal, loket kereta api atau tempat makan misalnya, masih sering kita temui orang-orang yang tidak mau antri saat berada di tempat umum. Jika ada yang mengingatkan, kadang si penyerebot malah kesal dan menyebutkan ribuan alasan yang seolah bisa membenarkan kesalahannya.

Berbeda dengan orang Jepang yang sudah terkenal dengan disiplin antrinya, antri adalah hal yang lumrah dilakukan agar barisan lebih tertib dan aktivitas dapat berjalan lebih efisien. Bayangkan betapa lelahnya seorang penjual karcis bioskop jika pengunjungnya berebutan membeli tiket. Antri adalah budaya positif dan sederhana yang melekat pada diri orang Jepang, bahkan ketika Jepang sempat dilanda musibah tsunami besar beberapa tahun lalu, orang-orang Jepang masih mau antri ketika bantuan sedang dibagikan. Tak ada saling sikut dan mendahului sehingga proses pemberian bantuan berjalan lancar serta adil.

2. Tepat waktu

Datang terlambat adalah tindakan yang kurang pantas menurut orang Jepangn, bagi orang Jepang pemborosan waktu adalah hal yang sangat sia-sia. Datang tempat waktu menunjukkan tanda hormat kepada si pengundang, terutama jika Anda berbisnis atau bekerja dengan orang Jepang, maka jangan pernah sekali-kali datang terlambat tanpa alasan yang jelas.

Jika memang ada masalah mendadak ditengah jalan misalnya jalanan macet karena kecelakaan lalu lintas yang tidak bisa diprediksi, Anda harus segera menelepon dan mencari solusi apakah pertemuan bisa dijadwal ulang atau mencari alternatif lokasi meeting yang lebih dekat. Budaya datang tepat waktu sudah dibiasakan sejak usia anak-anak dikeluarga Jepang.

3. Hobi membaca

Membaca adalah salah satu rutinitas yang mudah ditemui ketika Anda berada di Jepang. Orang Jepang memang memiliki kemajuan teknologi yang pesat namun masyarakatnya masih sangat menyukai buku. Anda akan mudah menemukan orang Jepang membaca di transportasi umum, mereka tidak akan menghabiskan waktu dengan bergosip dan justru orang yang berbincang terlalu keras di transportasi umum akan mendapat teguran.

4. Sopan-santun

Sopan-santun adalah kultur yang tak bisa dilepaskan dari Jepang. Dalam bahasa pun ada perbedaan bahasa percakapan informal, bahasa gaul dan bahasa sopan. Contohnya membungkukkan badan sebagai penghormatan ketika menyapa atasan, berbicara dengan bahasa sopan kepada senior di kantor atau sekolah dan juga sikap sopan lain yang masih terjaga dengan sangat baik.

5. Memiliki rasa malu yang tinggi

Kita sering sekali menonton atau membaca berita mengenai politikus Indonesia yang tersandung kasus namun masih saja berani tampil didepan media dan tetap ingin duduk dikursi jabatannya. Atau berita tentang selebritis yang hobi pamer kekayaan dan membuat skandal agar naik pamor. Hal-hal seperti itu akan sangat jarang terjadi di dunia politik serta panggung hiburan Jepang.

Pernah ada satu kasus yang menimpa salah satu petinggi pemerintahan Jepang dan dengan penuh kesadaran pejabat tersebut meminta maaf kepada masyarakat dan menjalani proses hukum setelah mundur dari jabatannya. Tak jarang pihak yang terkena masalah memalukan akan memilih jalan bunuh diri. Kita tak perlu mencontoh kasus bunuh dirinya, namun teladanilah sikap malu yang masih terjaga pada orang Jepang.

6. Tidak boros

Biaya hidup di Jepang terkenal cukup tinggi, oleh sebab itu orang Jepang tidak mau boros berlebihan untuk barang-barang yang tidak terlalu penting. Mereka rata-rata tinggal di apartemen atau flat sederhana (untuk keluarga menengah) yang tidak memiliki banyak perabot. Orang Jepang sangat suka menabung sebab kehidupan yang cukup membutuhkan biaya, apalagi tinggal di negara yang mudah terkena bencana alam membuat mereka tidak mau terlalu repot menyimpan benda-benda mewah.

7. Loyalitas tinggi

Perusahaan Jepang membangun teamwork yang sangat kuat diantara karyawan-karyawannya. Anda akan sulit menemukan seseorang yang pindah-pindah pekerjaan karena kutu loncat akan tidak disukai didunia profesionalitas Jepang. Etos kerja dan loyalitas tinggi sangat terjaga didalam sebuah perusahaan.

8. Rasa terima kasih yang tinggi

Jepang mengenal budaya ongaeshi atau memberi hadiah sebagai ucapan terima kasih. Mereka akan memberikan oleh-oleh pada rekan yang dirasa sering menolong atau ketika pindah rumah, mereka akan menyapa tetangga dengan membawa bingkisan kecil sebagai tanda perkenalan.

9. Semangat pantang menyerah

Orang Jepang adalah sosok yang berjiwa kuat dan tidak mudah menyerah meski dihadang kesulitan. Lihat saja betapa cepat mereka pulih setelah digoncang bom atom saat Perang Dunia dan juga bencana tsunami. Semangat itu menjadi slogan mereka dalam kehidupan sehari-hari.



Itulah 9 kebiasaan baik orang Jepang yang sangat bagus untuk kita teladani. Indonesia juga memiliki ciri khas dan kebiasaan positifnya sendiri, namun tetap tidak ada salahnya kita belajar dari kesuksesan negara-negara lain dimulai dari hal-hal yang kecil dan sepele karena pada akhirnya untuk mengubah hal yang besar kita perlu mulai dari yang sederhana terlebih dahulu.


Related Post: