Hatarakibachi Budaya & Etos Kerja Orang Jepang yang Workaholic


Workaholic adalah salah satu bagian kehidupan masyarakat Jepang yang sulit dilepaskan, bagi Anda yang bekerja di perusahan Jepang atau bekerjasama dengan rekan dari negara tersebut, pasti mengenal dengan baik bagaimana budaya hatarakibachi dan kerja keras itu sudah mendarah daging. Tak hanya soal ketepatan waktu, orang Jepang dikenal tak menyukai kesia-siaan dalam bekerja dan sangat menjunjung tinggi idiom time is money.

Jika Anda menyempatkan diri untuk bepergian ke negeri yang jumlah penduduknya tak terlalu banyak itu dihari kerja, maka jangan salah jika yang akan terlihat adalah orang-orang yang berjalan cepat menuju transportasi masing-masing. Mereka tak akan berjalan santai karena datang terlambat adalah hal sangat dihindari orang Jepang.

Budaya workaholic itu bisa dilihat pada banyak drama Jepang atau film kartun. Jika Anda pernah menonton film kartun Crayon Sinchan, pasti tak asing lagi dengan tokoh Papa yang selalu berangkat pagi dan berdesak-desakan dengan pekerja lain di kereta untuk menuju kantor. Selesai jam kerja pun, tokoh Papa sering tak langsung pulang ke rumah, akan ada acara makan malam atau malah melakukan lembur untuk menyelesaikan pekerjaan yang sangat menggunung. Istilah Jepang untuk kebiasaan workaholic ini adalah hatarakibachi.

Asal kata hatarakibachi yaitu dari dua frasa “hataraku” dan “hachi”. Hataraku berarti bekerja sedangkan hachi bermakna lebah. Lebah dinilai sebagai binatang yang bekerja keras terutama dalam menghasilkan madu dan juga turut berperan serta dalam proses penyerbukan bunga. Istilah hatarakibachi kini juga menjadi lifestyle para pekerja Jepang.


Inilah beberapa budaya kerja di Jepang yang selalu diterapkan oleh para penganut hatarakibachi.

1. Kedisiplinan

Datang di kantor/tempat kerja tepat waktu adalah hal yang wajib dilakukan. Orang Jepang tidak akan menoleransi keterlambatan apalagi dengan alasan yang klise. Jika di Indonesia kita masih bisa menolerir alasan terlambat seperti jalan macet, banjir atau ban bocor, maka jangan sering melakukan itu jika Anda bekerja di perusahaan Jepang (di Indonesia pun juga jangan).

Apabila rumah Anda jauh dari kantor misalnya, maka sudah seharusnya Anda berangkat 2 jam lebih awal dari jam masuk. Bahkan menurut beberapa pekerja Indonesia yang pernah bekerja di Jepang menyatakan jika kedisiplinan itu membuat orang Jepang sangat sungkan jika ingin mengambil cuti, bekerja adalah kegiatan utama dan liburan masih bisa dikesampingkan.

2. Fokus pada detail

Rahasia utama mengapa produk buatan Jepang itu berkualitas tinggi adalah karena mereka fokus sampai detail terkecil ditiap pekerjaan yang mereka lakukan. Tak ada yang namanya pekerjaan sepele, bagian yang tak terlihat oleh mata pun menjadi fokus yang tidak boleh dikesampingkan. Contohnya jika sebuah perusahaan memproduksi kursi, barangkali Anda akan berpikir bagaimana bentuk kursi tersebut, warna, desainnya dan material apa yang bagus tetapi tidak mahal, kalau di perusahaan Jepang, maka sebuah kursi yang tampaknya sederhana akan dipikirkan juga sampai detail yang tak terhitung secara ekonomis misalnya apakah kursi tersbeut aman digunakan anak-anak dan apakah tahan terhadap serangan rayap dan cuaca.

3. Melemburkan diri

Mengapa disebut sebagai melemburkan diri? Di Jepang sudah hal yang lumrah jika seorang pekerja pulang minimal satu jam setelah jam kantor usai. Pulang kerja tepat waktu dipandang sebagai tanda bahwa seseorang tak terlalu tekun dan giat. Berangkat lebih pagi dan pulang lebih malam adalah sebuah fenomena yang biasa, mereka akan memandang aneh orang yang pulang tepat waktu apalagi kalau atasan masih belum pulang. Begitu banyaknya pekerja yang sengaja bekerja lembur meskipun tak ada deadline yang menunggu, membuat pemerintah Jepang sampai membuat peraturan untuk membatasi jumlah jam lembur.

4. Budaya sopan kepada senior dan atasan

Salah satu hal positif yang dapat diambil dari sistem kerja Jepang adalah teamwork yang kuat. Seorang senior akan mengajari juniornya sampai bisa, sangat jarang ditemukan saling iri dengan porsi pekerjaan orang lain. Sopan santun pun sangat kuat dipegang para pakerja Jepang, junior akan sangat menghormati seniornya terlebih lagi kepada atasan.

Kalimat yang digunakan juga selau memakai bahasa sopan, bukannya bahasa non-formal. Misalnya, jika bertemu dengan sesama rekan kerja yang junior, mereka akan menyapa hanya dengan menundukkan sedikit kepala, berbeda jika bertemu senior maka mereka akan menunduk lebih dalam. Jika atasan yang mereka sapa, maka orang Jepang bisa membungkuk hampir setengah badan demi menunjukkan penghormatan.

5. Bekerja tanpa musik

Suasana sepi sangat disukai oleh perusahaan di Jepang, bekerja didampingi musik dianggap akan memecah konsentrasi dan juga kurang sopan (menganggu). Bekerja dalam kondisi hening, fokus dan tidak banyak omong akan membuat pekerjaan segera selesai lebih cepat dan membawa hasil yang baik. Kita tidak akan menemukan sesama rekan kerja yang bekerja sambil ngobrol meski hanya sebentar.

Walau kerja keras itu sangat baik untuk produktivitas dan kesuksesan, budaya hatarakibachi yang berlebihan juga sebenarnya tidak baik dan tak selalu membawa dampak positif. Banyak sekali kejadian kematian ditempat kerja akibat kelelahan dan stres yang disebut karoshi. Oleh sebab itu kebiasaan bekerja berlebihan sedang dikurangi oleh banyak perusahaan agar pekerjanya memiliki kehidupan yang lebih sehat dan seimbang.


Related Post: