Alasan Kualitas Film & Bisnis Entertainment Indonesia Begitu Buruk


Kenapa kualitas film Indonesia entah itu sinetron, film bioskop, dan acara-acara di TV begitu buruk? Mengapa bisnis entertainment/hiburan di Indonesia terasa begitu meaningless dalam artian lebih banyak yang merusak daripada yang mendidik. Bahkan konten-konten YouTube di Indonesia pun sudah mulai seperti TV, isinya cuma drama sampah settingan, kontroversi ga jelas, trending sampah, dan daily vlog ga penting yang ga ada isinya.

Tentu ada sebab mengapa kualitas hiburan/entertainment di Indonesia seperti ini, kita akan coba bahas dari 2 sisi yaitu dari sisi supply (penyedia) dan sisi demand (permintaan):

1. Supply

Dari sisi penyedia seperti produser film, konten kreator, dan pekerja seni lainnya tentu mereka membuat karya atau apapun itu dengan tujuan untuk dikonsumsi oleh masyarakat, namun yang jadi masalah utamanya adalah keberhasilan/kesuksesan suatu karya di Indonesia seringkali dinilai berdasarkan seberapa banyak attention/perhatian yang bisa mereka dapat, seberapa banyak uang yang bisa mereka hasilkan, dan seberapa populer yang bisa mereka raih dengan karya atau drama yang mereka buat.


Bisnis entertainment Indonesia = Popularity contest

Stigma bahwa kepopuleran cenderung erat hubungannya dengan kesuksesan suatu karya, menyebabkan kualitas dinilai berdasarkan “kuantitas”, jadi kualitas hiburan dinilai berdasarkan angka/banyak-banyakan bukan lagi masalah selera/taste, sehingga banyak produser film/acara TV yang tutup mata melihat banyaknya hate/kritik dari acara-acara sampah yang mereka buat, toh yang nonton tetap banyak, karena yang nonton banyak jelas uang yang mereka hasilkan juga banyak.

Hal ini menyebabkan “populer” menjadi lebih penting daripada “pengalaman”, hal ini menyebabkan “jumlah followers/audience” lebih penting daripada “skill”. Contohnya pada tahun 2011 saat fenomena boyband dan girlband sedang hype dimasyarakat, bisnis entertainment di Indonesia langsung berubah dalam sekejap, tiba-tiba semua acara musik, sinetron, sampai film bioskop diisi oleh anggota boyband dan girlband saat itu, yang lebih parah adalah kualitas menyanyi mereka itu bisa dibilang bad (modal lipsync), belum lagi akting mereka juga tidak berkualitas, ya wajar karena belum ada pengalaman, lalu pertanyaannya kemana mereka sekarang? Punah?

Hal yang sama juga terjadi belakangan ini dengan fenomena youtuber di Indonesia. Mulai bermunculan film bioskop dengan youtuber sebagai para pemainnya, entah mereka bisa akting atau tidak, kehadiran mereka di industri film membuktikan bahwa influence/followers yang mereka miliki jauh lebih penting daripada skill/pengalaman yang ada, mungkin dari sisi produser juga mereka ingin memanfaatkan popularitas nama influencer tersebut supaya sebagian followersnya mau nonton (yang artinya promosi gratis), alhasil standart kualitas film/entertainment di Indonesia semakin rusak dengan fenomena-fenomena seperti ini.

Kepopuleran menjadi lebih penting daripada isi, siapa yang main jauh lebih penting daripada konten, tidak heran banyak artis terkenal diperas habis-habisan untuk rating dan uang, mereka yang awalnya cuma aktor film, mulai jadi pelawak, MC acara musik, bahkan penyanyi (padahal ga bisa nyanyi), inilah yang menyebabkan kualitas hiburan dinegeri ini terus membusuk, intinya di Indonesia popularitas atau seberapa terkenal Anda jauh lebih penting daripada value/skill yang bisa Anda berikan pada penonton (yes, ini fakta dan sudah terbukti nyata).

Kalau kamu bingung cara jadi terkenal di Indonesia, sebenarnya simpel kok, biasanya ada 3 cara yaitu:

  1. Kamu punya muka yang enak diliat/rupawan (looks = attention), selama kamu punya “looks” terserah deh mau ngapain, mau ngegongong sambil kayang juga toh fans/followers kamu akan tetap nonton selama muka kamu masih ada.
  2. Kamu punya kelakuan yang unik (alias aneh/freak), sering-seringlah berulah dan bikin drama.
  3. Kamu punya value/manfaat buat penonton (which is cara ini sudah boring dan makan waktu lama).

Intinya daripada repot-repot membangun skill dan ujung-ujungnya ga kepake juga, daripada kamu cape-cape sekolah film/performing art/les nyanyi/dll, mending belajar jadi influencer, artis YouTube, daily vlogger, seleb instagram, belajar buat drama settingan, clickbait dan kontroversi karena jauh lebih mudah dan bakal lebih laku di industri entertainment ketimbang menggunakan jalur konvensional yang sudah kuno (don’t take this seriously, but maybe it works).

2. Demand

Ini yang jauh lebih ironis dari fakta-fakta diatas, karena sebenarnya semua hal diatas ga akan pernah terjadi kalau ga ada yang minta/mau nonton. Apa yang kita lihat di TV/YouTube termasuk film-film bioskop di Indonesia adalah “cerminan” bangsa kita (ga semua tapi mayoritas), kalau menurut kita acara-acara hiburan di Indonesia alay ya berarti memang kebanyakan selera masyarakatnya alay.

Jadi yang sebenarnya merusak kualitas film/entertainment di Indonesia adalah ya penontonnya sendiri, selama masih banyak orang yang nonton film dan acara sampah, film-film sampah itu akan terus diproduksi, selama acara musik, acara lawak, sinetron, daily vlog sampah di YouTube, drama youtuber, dll itu masih ditonton ya kualitas industri entertainment di Indonesia akan begitu-begitu saja.

Contohnya kenapa sih youtuber/daily vlogger yang ga ada isinya aja bisa terkenal, ada beberapa sebab yaitu:

  • Orang-orang/netizen pada kepo (ada drama dikit langsung nimbrung nonton, komen, dll)
  • Banyak orang yang ga ada kerjaan jadinya nontonin hidup orang lain terus (sad but true)
  • Terlalu mengidolakan seseorang (biasanya anak-anak yang baru nonton YouTube)
  • Banyak haters (uniknya haters di Indonesia jauh lebih bermanfaat daripada fans/followers)

Kenapa haters itu bermanfaat? Gimana engga, mereka rajin banget mengikuti update dari orang yang dibencinya, mereka rajin dislike dan komen (malah jadi engagement), dan yang paling luar biasa mereka rajin mempromosikan/mention orang tersebut dimana-mana, di YouTube, Twitter, Instagram, kalau saya jadi public figure yang punya haters seperti ini saya malah bersyukur karena mereka sudah dengan baik hati tanpa kenal lelah mempromote eksistensi saya di internet.

bisnis entertainment hiburan di indonesiaSaya sendiri sekarang sudah ga pernah nonton TV, saya juga ga pernah nonton film bioskop Indonesia lagi karena trauma dan menyesal, jadi saya pernah nonton film bioskop Indonesia (the first and the last) dan kualitasnya benar-benar sampah isinya cuma cerita ga jelas dan pamer toket, yang lebih parah lagi 2 minggu kemudian film itu tayang di TV (mungkin karena takut filmnya dibajak makanya cepet-cepet dijual ke TV setelah profit di bioskop selesai). Pembajakan mungkin juga menjadi alasan produser/konten kreator malas buat konten berkualitas, toh mending bikin yang gampang dan terbukti laku, daripada bikin yang bagus dan belum tentu laku, dan ujung-ujungnya dibajak orang.

Saya juga kurang suka dengan promosi yang mengatakan “hargai karya anak bangsa”, namanya seni ya persaingannya global, mau yang buat karyanya monyet juga bakal saya tonton kalau emang bagus bukan karena faktor satu negara and some bullshit like that. Ibarat kalian pergi ke warteg ada 2 pilihan makanan, yang satu perkedel yang satu lagi pizza, harganya sama, ya jangan heran kalau lebih banyak yang pilih pizza karena jelas lebih enak, namun jangan salah sangka karena masih banyak juga karya anak lokal yang kualitasnya setara bahkan lebih bagus daripada karya-karya luar negeri, walaupun sebenarnya lebih banyak orang-orang kreatif di Indonesia yang jadi pekerja diluar negeri membantu karya luar negeri (karena lebih dihargai disana).

Di YouTube juga saya hanya menonton 4-5 channel yang saya sukai, karena jujur sekarang saya sudah tidak tahan berada di YouTube lebih dari setengah jam (too much cancer), mulai dari drama, trending, youtuber/vlogger ampas, clickbait, dan para reuploader, ya semoga saja nasib YouTube tidak sama dengan TV dan film bioskop di Indonesia. Sebenarnya konten-konten yang bagus di Indonesia masih ada (banyak) hanya saja ironisnya sering kalah pamor dengan yang sampah-sampah hingga akhirnya ketendang dan kurang mendapat exposure.



Kesimpulannya adalah kualitas industri hiburan yang buruk di Indonesia sebenarnya disebabkan oleh konsumennya sendiri, kitalah yang membentuk kualitas entertainment di Indonesia melalui perhatian kita, apa yang kita tonton dan apa yang kita beli, kitalah yang sebenarnya memiliki kekuatan untuk mengubah industri, namun kita juga tidak bisa memaksakan selera/kehendak semua orang sama seperti kita, kalau orang lain mau kepo ya silahkan saja, kalau orang lain mau jadi alay ya silahkan saja, toh mereka juga punya waktu dan perhatiannya sendiri, dan itu hak mereka sepenuhnya.

Pada akhirnya semua kreator (termasuk saya) memberikan apa yang masyarakat ingin konsumsi, kalau penonton mau drama mereka akan buat drama, kalau mereka mau kontroversi maka mereka akan buat settingan, jadi jangan heran kalau nanti kalian ketemu artikel “cara pake pembalut tanpa pembalut” di blog ini. So good luck with your life.


Related Posts: