Ekonomi Industri Kreatif & Realita Bisnis / Pekerja Seni di Indonesia


Sudah bukan hal yang asing lagi bahwa pelaku industri kreatif di Indonesia sering sekali struggle antara realita dan idealisme karena banyaknya para “starving artist” yang berkecimpung di industri kreatif ini. Tentu kita tahu banyak sekali pencipta karya/konten yang tidak bisa hidup dari karyanya sendiri, hal ini memang tidak lepas dari beberapa stigma dan faktor keadaan yang ada di Indonesia tentang industri seni, beberapa diantaranya adalah:

1. Pandangan bahwa artis/seniman itu sudah kaya

Kita tahu Indonesia masih sangat akrab dengan yang namanya “bajakan”, setelah saya bertanya kepada beberapa orang kenapa mereka masih suka menggunakan bajakan “emang ga kasihan sama yang punya karya, mereka kan juga perlu makan”, rata-rata mereka akan menjawab “artis/seniman kan udah kaya, toh ga bakal rugi-rugi amat kalau dibajak”.

Masalahnya adalah perbandingan antara seniman yang kaya dengan yang masih struggle (starving artist) itu adalah 1:1000. Banyak sekali para pelaku seni yang tidak bisa hidup dari karyanya sendiri karena masih sering dibajak dan sulitnya memonetize/menjual karya-karya mereka.


Untuk masalah copyright sendiri juga masih merepotkan . Masyarakat masih suka menikmati karya yang gratis. Padahal kalau begitu, yang membuat karya nanti makan apa? Mental gratisan inilah yang membuat para kreator sangat sulit untuk bisa survive di Indonesia, budaya membeli “karya” secara legal masih kurang akrab di masyarakat karena prinsipnya “kalau bisa gratis ngapain bayar?”.

Karena itulah para kreator juga harus pintar berbisnis, mereka harus belajar bagaimana beradaptasi dengan adanya bajakan ini, jadi bukan melawan pembajakan (karena tidak mungkin bisa menang) melainkan memanfaatkan situasi ini untuk menciptakan momentum bagi diri mereka sendiri, contohnya dengan menggratiskan karya mereka di sosial media seperti Youtube/Instagram mereka bisa mendapatkan exposure lebih dan justru menciptakan efek marketing yang viral dimasyarakat (viral marketing & free promotion).

Intinya adalah para kreator harus bisa memikirkan cara untuk mengakali budaya pembajakan dan juga mendapatkan penghasilan dari karyanya, jadi bukan hanya sekedar menciptakan karya saja.

2. Belum ada wadah yang bisa mendukung para kreator di Indonesia

Diluar negeri ada platform bernama Patreon dimana semua orang bisa menggalang dana untuk mensupport kreator/seniman favorit mereka, sedangkan di Indonesia sendiri belum ada wadah serupa yang bisa mendanai para kreator/pekerja seni dalam negeri, padahal hasil karya kreator Indonesia itu tidak kalah bagusnya dengan kreator-kreator di luar negeri.

Sebenarnya ada salah satu situs yang mencoba mewujudkan hal ini seperti situs Wujudkan.com namun sayangnya mereka sudah menutup operasionalnya karena tidak banyak campaign atau dana yang sukses terkumpul . Di Indonesia sendiri sepertinya platform crowdfunding/penggalangan dana masih terfokus sebatas bantuan sosial dan kemanusiaan, sementara untuk industri kreatif nampaknya kita masih belum sampai ditahap itu.

3. Banyaknya tukang bajak dan tukang copas yang semena-mena

Saya seringkali menemukan beberapa tulisan saya dicopas mentah-mentah oleh blogger lain, Anda juga pasti sering melihat seperti di YouTube orang-orang hanya mengambil video orang lain lalu di reupload dengan judul dan thumbnail yang berbeda (bahkan cenderung clickbait/miss leading).

Sayangnya masih banyak orang-orang yang suka berbisnis secara tidak etis yang pada akhirnya malah melukai para kreator dalam negeri sehingga merekapun jadi semakin malas membuat karya-karya kreatif di Indonesia. Yang lebih menyakitkan adalah terkadang mereka yang melakukan copas entah itu reupload video, rewrite konten (spin artikel), dll malah mendapatkan lebih banyak trafik/views dari hasil jiplakannya, sedangkan pemiliki konten originalnya malah tidak mendapat kredit sama sekali.

Baca juga: Cara agar blog tidak dicopas



suka duka pekerja seniIntinya adalah sangat penting mengedukasi masyarakat tentang bagaimana cara mengkonsumsi karya seni seperti film, tulisan, gambar dan musik dengan bijak khususnya di era digital ini. Hal ini perlu dilakukan agar masyarakat Indonesia sendiri bisa lebih menghargai/mengapresiasi sebuah karya dan menghancurkan beberapa stigma-stigma yang salah tentang para artist/kreator di tanah air.

Dengan begitu semoga kedepannya industri kreatif di Indonesia akan semakin makmur dan akan banyak lahir seniman-seniman hebat dalam negeri yang sukses dikancah internasional. Anda bisa mensupport para kreator dalam negeri dengan tidak mengcopas konten-konten mereka, memberi likes/komen (engagement) dan share karya-karya mereka di sosial media atau platform apapun karena bantuan sekecil apapun sebenarnya sangat berarti bagi kehidupan mereka.


Related Posts: