Ciri Ciri Orang Berbohong (Cara Efektif Mendeteksi Kebohongan)

Mungkin Anda sudah sering mendengar berbagai cara mengetahui/mendeteksi kebohongan dengan memperhatikan gestur tubuh (body language), namun sayangnya gejala-gejala seperti menghindari kontak mata, memegang hidung, dan berbagai gerakan tangan tidak memiliki hubungan sama sekali dengan ciri ciri orang berbohong. Begitu pula dengan lie detector, jika sebuah alat bisa dengan akurat 100% mendeteksi pembohong mungkin penjara sudah penuh, lie detector hanya bisa mendeteksi gejala sistem tubuh yang gugup/gelisah, tidak ada bukti pasti kalau reaksi psikologis bisa membedakan antara kebenaran dengan kebohongan, orang yang jujur bisa saja grogi/nervous saat menceritakan kebenaran, sebaliknya orang yang berbohong bisa saja menjawab dengan santai tanpa rasa gelisah sedikitpun.

Lalu bagaimana cara yang lebih efektif untuk mendeteksi kebohongan? Sebenarnya ada cara yang lebih baik untuk mengetahui ciri ciri orang berbohong namun diperlukan situasi yang mendukung untuk bisa menjalankan trik tersebut, salah satunya adalah dengan jebakan pertanyaan. Seorang pembohong harus berpikir ekstra keras untuk mengcover semua kebohongan-kebohongannya, mereka harus konsisten berbohong dan mengarang cerita untuk bisa membuat kebohongannya terlihat nyata/real, tentu akan sangat melelahkan jika kita harus terus-terusan memonitor setiap perkataan kita dan memastikan setiap cerita yang kita lontarkan tidak bertentangan satu sama lain.

Jika kita terus-terusan bertanya mengenai cerita kebohongan yang dikarang oleh si pembohong, akan tiba saatnya dimana pembohong tidak bisa lagi mengcover kebohongannya karena beban pikiran yang berlebihan, itulah sebabnya dalam proses hukum kita mengandalkan penyidik, contoh pertanyaan yang paling efektif dalam mendeteksi kebohongan adalah dengan meminta pembohong untuk menceritakan kasusnya secara terbalik, atau cobalah tanya sesuatu yang diluar dugaan mereka, walau demikian metode inipun juga tidaklah 100% akurat dalam mendeteksi kebohongan karena pasti ada saja orang yang memang sudah siap mengcover/membuat cerita kebohongannya dengan sempurna karena itu diperlukan juga bukti-bukti fisik yang ada untuk bisa mendeteksi ciri-ciri orang yang sedang berbohong, intinya adalah jangan terlalu berpatokan pada gerakan tubuh atau reaksi psikologis dalam mendeteksi suatu kebohongan tetapi lebih banyaklah menggunakan analisa logis dalam memeriksa setiap perkataan dan cerita yang disampaikan, jika memungkinkan cobalah tanya sesuatu dimana terdapat celah yang tidak berkesinambungan dengan cerita si pembohong tersebut.

Pada akhirnya lebih banyak masalah yang bisa diselesaikan dengan pikiran dan logika ketimbang hanya menggunakan perasaan semata, jangan terlalu bergantung pada emosi karena pemikiran analitis lebih diperlukan dalam menganalisa situasi yang ada. Sayangnya sampai detik ini belum ada cara yang akurat 100% dalam mendeteksi/mengetahui orang yang berbohong, tanpa sadar banyak dari kita hidup dalam kebohongan karena cerita-cerita palsu yang sudah diwariskan oleh lingkungan dan masyarakat hingga akhirnya mau tidak mau kita harus menerima kebohongan tersebut supaya bisa berbaur dan diterima oleh masyarakat.

Baca juga: Kapan harus jujur dan berbohong

Banyak sekali isu-isu di Indonesia yang berawal dari sebuah kebohongan lalu dibungkus dengan sesuatu yang sudah melekat dengan bangsa kita seperti budaya, ras, agama, politik, hukum, dan semacamnya. Polosnya masyarakat kita mudah menerima kebohongan tersebut tanpa mempertanyakannya lebih jauh lagi, mereka menerima mentah-mentah kebohongan yang ada hanya karena sudah diajarkan secara turun-menurun oleh lingkungan/keluarganya (by default) dan tidak mau mencari lebih dalam tentang apa yang telah mereka pelajari.

Kesimpulannya adalah lebih berhati-hatilah dan berpikir kritis dalam menerima sebuah sistem/aturan yang ada karena dibaliknya ada bisnis yang sedang bermain, segala hal yang diciptakan oleh manusia memiliki kepentingannya sendiri-sendiri khususnya bagi yang menciptakan sistem/aturan tersebut. Tidak heran hukum dan keadilan bisa diputar balik, aturan/sistem bisa dimonopoli dan tentunya yang berkuasa semakin berkuasa. Karena itulah kita mendengar dalam politik ada istilah “tidak ada yang namanya teman/musuh dalam dunia ini, yang ada hanya kepentingan”.


Related Posts: