Faktor Penyebab dan Cara Mengatasi Kemiskinan di Indonesia


Ada banyak hal yang menyebabkan kemiskinan di Indonesia seperti korupsi dan bobroknya pemerintahan dinegeri ini, namun disini kita tidak akan membahas faktor eksternal karena itu berada diluar kendali kita, apa yang perlu kita pelajari adalah mengapa sebagian besar orang tidak pernah mencapai kekayaan walau sudah bekerja berpuluh-puluh tahun dan bagaimana cara mengatasi mental kemiskinan dalam diri kita.

Pada dasarnya “mental miskin” inilah yang menjadi sumber utama kenapa orang-orang miskin sering membuat keputusan yang bodoh, kita selalu percaya kalau tindakan yang kita ambil dilandaskan dengan logika dan pemikiran yang baik, namun faktanya sering berbicara lain, seringkali orang-orang membuat keputusan yang salah terutama dalam keuangan, inilah beberapa penyebab kita sering mengambil keputusan salah dan cenderung membuat mental kita semakin miskin:

1. Informasi

Kita menganggap bahwa semakin banyak informasi yang kita miliki maka akan semakin baik. Kita menyusun rencana, mengumpulkan lebih banyak informasi, dan akhirnya menunda tindakan. Tidak heran Bob Sadino sering mengatakan orang pintar itu sebenarnya goblok karena terlalu banyak informasi sampai lupa/takut bertindak, masalahnya adalah kebanyakan informasi yang kita dapat itu tidak akan berpengaruh terhadap kehidupan kita secara nyata, sangat mudah mengumpulkan berbagai informasi dijaman serba internet seperti sekarang, yang jadi pertanyaan adalah apa yang sudah kita lakukan untuk membuat hidup menjadi lebih baik? Apakah dengan memendam banyak ilmu/informasi dikepala Anda akan membantu?


Less is more

Seringkali apa yang kita butuhkan sebenarnya sudah kita miliki, kita hanya perlu lebih banyak bertindak, mental miskin yang selalu menganggap kita perlu “mengetahui dulu” sampai akhirnya tidak pernah bertindak, bahkan sebagian orang terus mencari-cari hanya untuk menghindari apa yang sebenarnya harus ia lakukan.

Baca juga: Berhenti mencari passion karena Anda telah menemukannya

2. Hanya melihat hasil

Sebagian besar dari kita bertindak karena menginginkan hasil akhir dari apa yang kita perjuangkan, kalau saya melihat A bisa sukses dan kaya karena bisnis online, kemungkinan besar saya akan mengikuti jejaknya memulai bisnis online supaya bisa ikutan sukses dan kaya.

Ini juga yang sering terjadi pada seorang penjudi (gambler), karena mereka melihat orang lain bisa “kaya mendadak” berkat menang judi/hoki, mereka coba ikut-ikutan bermain, padahal sebenarnya cara terbaik untuk menang judi adalah dengan tidak bermain. Asal Anda tahu semua bisnis perjudian sudah diatur sedemikian rupa supaya bandar tidak pernah rugi (alias player yang akan selalu rugi), mungkin rasio antara player yang menang dengan player yang kalah sekitar 1:10 atau bahkan 1:100.

Kita melihat hasil lalu kita bertindak, namun kita sering melupakan proses yang membawa kita pada hasil tersebut, mereka yang hanya melihat hasil seringkali mengambil tindakan yang ceroboh, tersesat, dan mudah kehilangan tujuan disaat sulit. Jadi pastikan Anda melihat proses untuk mencapai kesuksesan/kekayaan yang Anda inginkan dan tentu kita harus bersedia untuk membayar harga yang memang perlu untuk dibayar.

Kebanyakan orang lebih peduli pada hasil bukan proses, sayapun sebenarnya juga begitu, namun saya sadar dengan pentingnya sebuah proses, biar bagaimanapun saya tetap seorang “result oriented” yang juga menghargai proses.

3. Ikut-ikutan

Kita melihat A bisnis lele dan sukses, kita ikutan coba bisnis lele, kita melihat B bisnis toko online dan sukses, kita ikutan bikin online shop, kita lihat C buat blog dan kaya, kita ikutan buat blog, namun pada akhirnya semua yang kita coba lakukan tetap gagal, mengapa? Karena kita akan selalu menjadi ekor.

Ada orang yang hanya mau bertindak kalau orang lain sudah mencobanya duluan, salah satu masalah terbesar orang Indonesia adalah selalu mencari pendahulu daripada menjadi pendahulu, mencari pembuktian daripada membuktikan sendiri, hanya berani mencoba jika sudah banyak orang lain yang melakukannya, akhirnya apa yang terjadi? Mereka sudah ketinggalan jauh karena terlambat dan sudah keduluan dengan orang lain.

Terlalu lama ragu dan mencari justifikasi daripada langsung memulai menyebabkan banyak orang menjadi bingung dan malah tidak melakukan apa-apa pada akhirnya, mau ini sudah keduluan, mau buat itu marketnya udah didominasi, mau bla.bla.bla dan waktu terus berjalan dan mereka akan semakin ketinggalan selama terus berpikir dan menunggu. Akhirnya dalam banyak aspek kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia masih sangat terbelakang dibanding negara-negara maju seperti Singapura dan Jepang.

Memang harus diakui tidak semua orang bisa bermain dengan resiko karena faktor keadaan dan keberuntungan, namun apakah tidak ada peluang tanpa resiko apapun yang bisa kita ambil? Apakah sekedar memulai blog/toko online di internet itu beresiko mematikan? Sudah banyak kesempatan yang ada, namun sayang sebagian besar orang hanya mempertanyakan bukan bertindak.

Orang kaya bisa melihat peluang dalam kondisi sesulit apapun, orang miskin dengan peluang sebanyak apapun hanya melihat kesulitan & resiko dibalik peluang tersebut. Lucunya adalah sebenarnya masalah ini sebagian besar juga disebabkan oleh kesalahan sistem pendidikan di Indonesia (sekolah) yang berorientasi pada sesuatu yang pasti dan kurangnya penekanan pada pengambilan resiko pada sesuatu yang tidak pasti.

4. Mudah tertipu cerita

Semua bisnis disekitar kita menjual cerita, penipu juga menjual cerita, hanya karena Bill Gates & Mark Zuckerberg sukses setelah drop out, bukan berarti kita juga akan sukses kalau mengikuti langkah yang sama. Sama seperti kasus diatas, kita melihat dan mendengar sebuah cerita lalu menganggap realita akan berjalan sesuai cerita indah yang kita lihat tersebut. Padahal kenyataannya seringkali cerita itu tidak dijelaskan secara utuh dan cenderung sudah direkayasa, kita selalu menganggap apa yang berhasil untuk orang lain akan berhasil juga pada diri kita, kita melihat orang ini bisa sukses menjadi pengusaha, kita ikut-ikutan membuat usaha padahal tidak tahu mau bisnis apa.

Baca juga: Mengapa pelajar DO bisa tetap sukses tanpa ijasah

Inilah yang menyebabkan banyaknya pengusaha-pengusaha bangkrut yang menyesal karena sering dibuai oleh cerita-cerita entrepreneur sukses, padahal untuk setiap 1 cerita entrepreneur sukses yang kita dengar, ada ratusan cerita entrepreneur gagal dibaliknya yang tidak pernah terdengar.

5. Lebih menghargai jabatan dan sesuatu yang semu

Banyak orang yang bekerja hanya mengincar posisi dan otoritas yang lebih tinggi, lebih menghargai posisi daripada skill/kemampuan, mental miskin yang selalu menganggap hierarki dalam organisasi jauh lebih penting daripada kontribusi (mental melayani) dan skill, tidak heran banyak pejabat yang berebut kursi pemerintahan dengan cara licik, apapun dilakukan supaya menang, sistem power play di Indonesia masih sangat buruk.

Masih ingat aturan saat ospek di sekolah: 1. Senior selalu benar, 2. Jika senior salah lihat aturan no. 1.

Dari bangku pendidikan saja kita cenderung diajari untuk menggunakan “power play” yang akhirnya seringkali terbawa sampai kedalam sistem perusahaan/organisasi dan pemerintahan.

Power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely.

Sudah bukan rahasia lagi orang yang berkuasa masih ingin berkuasa, melalui antek-anteknya mereka yang diatas ingin meneruskan tahta kekuasaannya pada keluarga, teman, dan kerabat-kerabatnya (nepotisme). Dan mental yang sama juga menurun pada masyarakat didunia kerja. Kita menganggap lebih baik jadi bos yang bodoh daripada bawahan/kacung yang pintar, namun apakah realitanya seperti itu? Memang bisa jadi bos kalau ga pinter-pinter amat?

Organisasi/perusahaan/lingkungan yang menekankan pada posisi dan jabatan, akan selalu menggunakan posisi dan jabatan pada saat masalah terjadi. Mereka akan menggunakan power play semena-mena, sehingga tidak heran orang-orang disana hanya berpikir bagaimana cara untuk merebut posisi diatas dan mempertahankan kekuasaannya.

Ternyata sebagian besar mental ini disebabkan faktor bawaan sejak jaman penjajahan, negara-negara bekas jajahan secara umum juga memiliki cara pandang yang sama mengenai posisi dan jabatan. Budaya masyarakat Indonesia yang masih sangat menghargai jabatan dan jabatan sangat berkaitan erat dengan kesuksesan di Indonesia (pride). Sebagian besar orang masih lebih menghargai sesuatu yang semu, seperti universitas ternama, bekerja di perusahaan asing, jabatan tinggi, serta gelar pendidikan yang berderet.



Itulah 5 hal yang menyebabkan mental kemiskinan tetap ada di Indonesia, selama kita belum bisa menghilangkan pengaruh dan kebiasaan buruk diatas, maka sampai kapanpun kita tidak akan pernah bisa terlepas dari kemiskinan, pada akhirnya miskin itu hanyalah keadaan sementara, kemiskinan yang sebenarnya adalah miskin mental yang tidak pernah mau berubah dan memperbaiki keadaan.


Related Posts: