Cara Mendidik Anak yang Baik (Pendidikan Psikologi Anak)


Bagaimana cara mendidik psikologi anak yang baik dan benar sebagai orang tua? Penting sekali bagi seorang ibu/ayah memahami pendidikan yang tepat untuk anak Anda kelak, pada dasarnya sifat dan karakter anak ditentukan oleh 2 hal yaitu keluarga dan lingkungan tempat ia bermain (sekolah dan masyarakat). Pendidikan diawal ini akan membentuk nasib masa depan anak seperti profesi/karir seperti apa yang akan ia jalani termasuk tipe jodoh seperti apa yang akan ia sukai.

Tentunya disini orang tua memiliki peran krusial dalam membentuk karakter dan memahami psikologi anak sedini mungkin, cara mendidik anak sekarang sudah berbeda dengan jaman dahulu, sekarang sudah jamannya informasi teknologi, anak-anak Anda dengan mudah mengakses berbagai ilmu dan informasi, termasuk konten-konten negatif yang ada di internet, karena itu pengawasan orang tua amat sangat penting. Saran saya selalu berikan batasan pada akses internet/gadget mereka, kalau perlu bimbing mereka saat sedang bermain internet. Selain itu perhatikan juga apa minat anak Anda sedini mungkin, tanpa disadari orang tua kadang suka mengintervensi bakat/passion sang anak dengan memaksakan kehendak seperti memasukkan anak kedalam kursus/les yang ia tidak sukai, atau memasukkannya kedalam lingkungan pergaulan yang salah.

Saat anak Anda beranjak dewasa khususnya saat remaja, pengaruh lingkungan sangat jauh lebih kuat dari apapun, tidak peduli sebagus apapun pendidikan dasarnya (entah itu genetik atau berasal dari keluarga baik-baik), anak Anda akan rusak moralnya jika bergaul dengan orang dan sistem yang salah. Lingkungan ini dimulai dari saat anak Anda mulai sekolah, teman bermain mereka secara tidak langsung mempengaruhi psikologi anak Anda, mereka cenderung meniru apa yang lingkungannya berikan pada mereka, tidak heran banyak orang tua rela membayar mahal untuk menyekolahkan anaknya disekolah swasta, mengapa? Karena faktor lingkungan. Bagi saya sendiri yang paling penting dari sekolah bukan ilmu, nilai, atau akreditasinya, tapi lebih kepada siapa teman-teman yang akan kita dapatkan, seperti apa lingkungannya, seperti apa kualitas gurunya, termasuk bagaimana keadaan disekitar sekolah tersebut.

Apa yang terjadi kalau kita memasukkan anak kita kedalam lingkungan sekolah yang salah? Mereka inilah yang biasa sering kita lihat tawuran dijalan, gaya-gayaan merokok dan mabuk-mabukan, jadi alay dan cabe-cabean, dan yang paling parah malas sekolah/belajar (sering ga naik kelas bahkan drop out). Tulisan ini lebih saya ajukan kepada orang tua atau mereka yang kelak akan menjadi orang tua, khususnya jika anak Anda mulai beranjak remaja, PERHATIKAN LINGKUNGAN MEREKA, dimasa remaja peran dan pengaruh Anda sebagai orang tua sudah mulai menipis (toh mereka juga punya pemikiran sendiri), mereka akan lebih terpengaruh oleh teman dan lingkungan mereka, hal terbaik yang bisa Anda lakukan sebagai orang tua adalah memastikan mereka mendapatkan fasilitas dan lingkungan yang baik, terutama lingkungan masyarakat dan sekolah mereka.


Selain itu janganlah memaksakan kehendak Anda seperti anak Anda harus kuliah jurusan engineering (teknik), atau saat SMA mereka harus mengambil jurusan IPA (saya sudah sering melihat anak yang jurusannya dipaksakan dan akhirnya mereka stres karena terpaksa mengambil sesuatu yang bukan minat/passion mereka), saya punya teman SMA yang dipaksa mengambil jurusan IPA oleh orang tuanya (karena orang tuanya ingin anaknya mengambil jurusan kedokteran saat kuliah), apa yang terjadi? Anak tersebut jadi malas-malasan karena tidak menyukai bidangnya, nilai biologinya jelek (sehingga tidak lolos seleksi masuk kedokteran), dan sekarang malah kuliah dijurusan akuntansi, saya sempat tanya kenapa ambil IPA kalau memang ga ada niat jadi dokter? Dia menjawab karena merasa jadi “anak durhaka” kalau saat itu melawan keputusan orang tuanya, kalau begini apakah sang anak benar-benar durhaka, atau malah orang tuanya yang durhaka? Masih bagus dia tidak mengambil kuliah dokter yang mahal (sampai ratusan juta) dan drop out ditengah jalan, sebagai orang tua kita ada untuk mendukung keputusan anak APAPUN itu (selama masih positif) bukan membuat mereka dilema dengan kehendak pribadi.

Ingat anak Anda bukanlah milik Anda sepenuhnya, mereka punya pikiran dan keinginannya sendiri, orang tua yang bijak tentu memahami hal ini dan membiarkan anaknya melakukan apa yang mereka inginkan, disinilah peran orang tua ada sebagai safety net (memberikan jaminan keamanan disaat anak gagal), bukan malah menjadi dinding penghalang dan memaksakan anak harus sukses dengan jalur yang sudah ditentukan, Anda cukup memberikan pandangan, opini dan share pengalaman (jika ada) mengenai kelebihan dan kekurangan dari opsi-opsi yang ada (entah opsi itu adalah jurusan kuliah, karir, jodoh, maupun usaha/bisnis), selebihnya serahkan sepenuhnya pilihan kepada anak Anda.

pendidikan psikologi anakJika anak sudah memutuskan jalan hidupnya, kita harus dukung sepenuh hati, terkadang orang tua yang tidak mensupport anaknya bisa menjadi faktor kegagalan si anak, walaupun sebenarnya kesuksesan seseorang merupakan tanggung jawab pribadi, namun tidak dapat dipungkiri peran keluarga terutama orang tua sangat berpengaruh pada kesuksesan anak, dimulai dari pembentukan karakter dan psikologi anak, sampai memberikan fasilitas, sekolah, lingkungan, dan modal yang diperlukan untuk berkarir.

Akhir kata kita bisa memberikan cinta kepada anak, tapi tidak memaksakan pikiran dan sudut pandang kita, karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri, Anda bisa memberikan mereka rumah, tapi Anda tidak bisa mengurung jiwa mereka yang bebas berkeliaran mencari tahu tentang dunia, Anda bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan pernah coba menjadikan mereka seperti Anda, karena hidup ini terus berjalan, kita tidak lagi berada dimasa lalu, anak kita memiliki masa depannya sendiri dan tentu kita wajib mendukungnya dengan apapun yang kita miliki sebaik mungkin.


Related Post: