Fenomena Bullying (Ijime) dan Penyebab Kasus Bully di Jepang


Bullying adalah suatu tindakan yang bisa membuat seseorang tertekan dan terkucilkan, tidak ada siapapun yang suka mengalami kasus bully. Di Indonesia, fenomena bullying juga menjadi hal yang mengkhawatirkan, apakah Anda ingat bagaimana viralnya kasus penganiayaan seorang siswa SMP yang sampai heboh di sosial media? Bayangkan jika anak atau saudara Anda yang dipukul, ditendang hingga dipermalukan didepan banyak orang, siapapun tak terima dengan bullying, namun karena mungkin banyaknya tayangan mengenai bullying dan video yang bisa diakses bebas diinternet, maka bibit-bibit kekerasan itu muncul, terutama pada jiwa anak-anak dan remaja.

Ternyata masalah bullying tak hanya terjadi di negara Barat dan Indonesia, Jepang juga memiliki masalah serupa. Bullying di Jepang dikenal dengan ijime. Ijime berasal dari kata kerja ijimeru yang berarti menyakiti, menyiksa dan mengganggu orang lain. Banyak orang yang memutuskan menjadi hikikomori (mengasingkan diri) hingga melakukan jisatsu (bunuh diri) karena terlalu lama dibully. Sebelum kita mengupas lebih jauh mengenai fenomena ijime di Jepang, Anda harus memahami apa saja faktor penyebab seseorang bisa menjadi pembully.

1. Kurang perhatian dari orang tua

Jika dikaitkan dengan karakter orang Jepang yang sangat mendewakan pekerjaan, bisa jadi hal ini juga menjadi faktor mengapa anak dan remaja dinegeri tersebut ada yang tumbuh menjadi tukang bully. Seorang anak yang sering dititipkan pada orang lain, atau jikalau sering bertemu pun ternyata komunikasi di rumah sangat minim, maka melakukan bullying dianggap bisa menjadi penarik perhatian orang tua. Pelaku bully selalu mendapat hukuman, apalagi di Jepang sistem pendidikannya sangat melibatkan orang tua dalam memantau perkembangan anak. Masih ingat dengan karakter Pak Guru di film Doraemon yang rajin mengunjungi rumah Nobita untuk bertemu ibunya? Guru akan melaporkan tindakan nakal si anak sehingga orang tua dapat lebih memperhatikan putra dan putrinya.


2. Ingin dianggap pemimpin

Di kartun dan komik Jepang, sering sekali diangkat mengenai masalah ijime. Seorang pelaku ijime memiliki karakter bossy atau cenderung nekat, mereka yang memiliki karakter bossy, selalu ingin dianggap hebat dan diandalkan oleh teman-teman sebayanya. Ditakuti adalah sebuah kebanggaan, sebenarnya karakter pemimpinnya kuat, namun menjadi salah arah karena dibumbui rasa ingin pamer kekuatan didepan orang lain.

3. Pola asuh orang tua

Cara mendidik orang tua di rumah juga berpengaruh besar terhadap perkembangan karakter anak. Orang tua yang sering memarahi dan menghardik, ditambah memberi hukuman fisik pada anak, secara tidak langsung akan membuat anak depresi dan menyimpan kemarahan. Menyiksa dan mengganggu temannya di sekolah adalah sebuah ekspresi kemarahan yang tidak bisa diluapkan. Perilaku agresif pada anak bisa muncul jika orang tua tidak bisa mengontrol amarahnya.


Bullying atau ijime di Jepang juga mendapat perhatian dari para ahli salah satunya seorang sosiolog bernama Mitsuru Taki. Menurut Mitsuru Taki, ijime seringkali terjadi di lingkungan terdekat karena pelaku ingin melegitimasi kekuasaannya. Pelaku ijime akan memberi teror mental korban. Penganiayaan fisik, pengucilan dan penghasutan lingkungan agar turut menjauhi korban adalah untuk menjatuhkan mental. Masyarakat Jepang memiliki sebuah pola yang disebut shuudan shugi. Pola tersebut menjelaskan jika seorang individu akan dilihat identitasnya dalam suatu kelompok, atau bisa disebut sebagai struktur masyarakat kelompok. Individu tidak dipandang bagaimana diri seutuhnya secara personal namun karena ia bergabung pada kelompok yang sama dengannya, misalnya satu profesi, kesamaan strata sosial atau kesamaan tingkat pendidikan.

Sejak masih usia dini, anak-anak Jepang sudah dibentuk pola pemikirannya untuk memahami shuudan ishiki (kesadaran untuk hidup berkelompok). Sejak usia taman kanak-kanak, mereka akan bergabung dalam sebuah kelompok kecil atau disebut kumi. Jika sudah menjadi teman sepermainan satu kumi,maka akan menjadi hal yang tidak wajar kalau seorang anggota kumi bermain dengan teman diluar kelompok. Hal ini berkembang terus sampai seseorang memasuki usia remaja dan dewasa. Diusia remaja dimana masa pencarian jati diri seseorang sedang terjadi, akan muncul kelompok-kelompok yang terbagi karena kesamaan jati diri, kondisi fisik, dan juga karena satu ekstrakurikuler. Mulai muncullah geng anak cantik, geng populer, geng anak pintar, geng olahraga dan lain-lain.

Ketika ada seseorang yang terlihat mencolok perbedaannya dari kelompok-kelompok lain, biasanya akan memancing ketidaksukaan lalu menjadi korban potensial untuk dibully. Yang cukup sering terjadi di dunia remaja Jepang adalah saat melihat individu yang kurang percaya diri, terlalu pintar, memiliki kekurangan fisik atau hal lain yang membuat diri mereka berbeda, pasti akan sering diganggu kelompok remaja yang lebih kuat. Bisa dikatakan sebagian masyarakat Jepang kurang memiliki keterbukaan soal perbedaan.

Kasus ijime atau bullying menjadi perhatian cukup serius dari pemerintah Jepang sejak tahun 1980. Di tahun-tahun tersebut banyak sekali kasus bunuh diri yang setelah diselidiki ternyata disebabkan oleh bullying. Korban mengalami siksaan fisik, dilecehkan bahkan diminta untuk segera mati hingga mentalnya benar-benar jatuh. Mengalami ijime selama berbulan-bulan tentunya akan memicu tekanan mental untuk korban. Kini pemerintah dan institusi pendidikan Jepang berusaha menekankan agar siswa-siswanya bisa saling menghargai dan menerima segala macam perbedaan.

Tentu bullying adalah fenomena yang tidak boleh dilestarikan, jika Anda atau seseorang yang Anda kenal mengalami pembulian baik disekolah maupun lingkungan sekitar, jangan segan-segan untuk membantu atau melawan balik, karena pada akhirnya cara terbaik untuk melawan pembulian bukan hanya sekedar bertahan tetapi juga dengan melawan balik si pembully supaya mereka tidak menganggu lagi.


Related Post: