Belajar Dari Pengalaman Bisnis / Usaha Kecil Kecilan yang Bangkrut


Kita sudah biasa mendengar kisah tentang bisnis/perusahaan besar yang gagal, Andapun pasti sering mendengar berbagai “kisah entrepreneur sukses” yang mengalami masa pahit dan kegagalan/kebangkrutan lalu akhirnya berhasil menjadi pengusaha besar sekarang. Namun kali ini saya ingin bagikan dari perspektif/sudut pandang yang sedikit berbeda, kita akan belajar dari sesuatu yang kecil dan dekat dengan realita kita, disini saya akan berbagi (share) pengalaman pribadi tentang bagaimana bisnis sederhana atau usaha kecil kecilan bisa bangkrut sehingga Anda bisa belajar untuk tidak jatuh kedalam lubang yang sama.

Saya akan ceritakan tentang 3 usaha sederhana/kecil-kecilan yang bangkrut (gagal), yaitu:

  1. Usaha toko online/e-commerce (pengalaman pribadi)
  2. Usaha/bisnis media online (tempat saya bekerja dulu)
  3. Usaha/bisnis konvensional (milik teman) yaitu dagang sepatu

Pertama saya akan ceritakan tentang kegagalan saya yaitu usaha toko online lebih tepatnya usaha reseller dropship dan jualan barang online sebagai tangan pertama (e-commerce). Sebenarnya dibilang gagal-gagal amat juga engga, karena selama berjualan saya terus mendapatkan profit sampai akhirnya mulai menipis dan saya segera putuskan untuk stop.

Kalau Anda ingin baca share pengalaman bagaimana membangun toko online dari nol dengan dropship tanpa modal, mencari supplier, marketing, menghasilkan penjualan, hingga akhirnya menjadi seller yang memiliki stok, Anda bisa baca kisahnya disini: Sharing cara jualan online.


Pelajaran kisah 1: Tidak memperhatikan persaingan & keadaan market

Yup ini adalah alasan gagal yang baru saya sadari setelah 1 tahun berkecimpung didunia e-commerce Indonesia, waktu saat itu baru memulai, saya tidak paham bagaimana prospek reseller-dropship dalam tahun-tahun mendatang, percayalah selama saya berbisnis toko online ini sudah ada puluhan teman saya mulai dari dropshipper, reseller, tangan pertama, bisnis startup dan bahkan e-commerce besar yang bangkrut ditelan ganasnya persaingan e-commerce dalam negeri ini.

Pasti kita tahu bahwa e-commerce saat ini didominasi 2 raksasa yaitu Tokopedia dan Bukalapak, melihat keadaannya sekarang, sepertinya Tokopedia cenderung lebih unggul ketimbang Bukalapak, tidak heran Alibaba sampai meluncurkan dana investasi hingga 1 miliar dolar lebih (sekitar 14 triliun rupiah) padahal sebelumnya mereka pernah invest di e-commerce lain yaitu Lazada.

Saya masih ingat banyak sekali startup-startup berguguran, kebetulan sebelumnya saya bekerja sebagai agensi digital marketing dimana tidak sedikit para klien kami adalah para startup e-commerce yang mungkin masih polos tidak sadar betapa gilanya persaingan e-commerce di Indonesia, mau mendominasi pasar online di negeri ini tapi budget masih unyu-unyu, bahkan saya berani katakan memulai startup e-commerce seperti B2C apalagi C2C disini sudah telat banget, marketnya 95% sudah dilahap pemain besar (Tokopedia/Bukalapak), dan model bisnis ini tipenya adalah “winner takes all”.

Kalau Anda mau bikin model bisnis e-commerce seperti B2C, apalagi aggregator toko online (yang tugas/kerjaannya lebih banyak lagi), coba jawab beberapa pertanyaan berikut:

  • Apa yang bisa Anda tawarkan kepada market Indonesia sekarang, dimana sebagian besar mereka sudah biasa berbelanja di marketplace?
  • Apa yang membuat Anda berbeda atau bahkan lebih baik?
  • Kenapa mereka harus berjualan atau membeli di tempat Anda?

Seiring berjalannya waktu, saya sudah menyaksikan uang ratusan juta bahkan milyaran terbakar begitu saja hanya untuk mendapatkan customer dan “saling berebut user” antar para startup e-commerce ini, pilihan bijak bagi kita yang ingin berbisnis/usaha kecil-kecilan tentu dengan tidak bersaing dengan para monster ini.

Saran saya daripada bersaing, lebih baik manfaatkan platform yang sudah ada, jadilah seller di marketplace dan website B2C, saya sendiri sekarang lebih prefer berjualan di marketplace ketimbang membuat toko online/website sendiri, karena pembelinya sudah banyak dan jauh lebih simpel/murah. Sisi negatif dari perkembangan e-commerce ini adalah gugurnya para startup e-commerce lain mulai dari yang besar seperti Rakuten, sampai para reseller dan dropshipper kecil yang biasa berjualan dengan modal sedikit bahkan tanpa modal.

Salah satu resiko terbesar bisnis online adalah user sangat mudah membandingkan Anda dengan para bisnis raksasa yang sudah mendominasi market (ingat prinsip winner takes all), hampir semua model bisnis online mengalami krisis yang sama (bukan cuma e-commerce).

  • Jika Anda berusaha menjual platform iklan contoh native ads, banner ads, ad exchange, dsp/ssp, maka yang selalu pertama kali jadi masalah adalah apa kelebihan Anda dibanding platform iklan yang sudah besar seperti FB ads dan Google ads?
  • Jika Anda berusaha menjual/menjadi agen tiket pesawat online, pertanyaannya apa yang membuat user lebih rela beli di Anda ketimbang di Traveloka (dimana harga terjamin lebih murah)?

Memang membuat bisnis online itu gampang, tapi membuat bisnis online yang berhasil mendapatkan market itulah yang sulit, sama seperti ngeblog, membuat blog itu gampang, tapi membuat blog yang bisa menghasilkan trafik itu sulit.

Jadi nasihat saya adalah jadilah realistis, analisa market yang ada dengan akal sehat dan tanyalah apakah Anda mampu melawan persaingan yang ada.

alasan gagalPelajaran kisah 2: Masalah pada karyawan dan bos

Cerita kedua adalah tentang bangkrutnya perusahaan tempat saya bekerja dulu (bisnis media online), dan ironisnya saya bekerja di 2 perusahaan media yang akhirnya dua-duanya bangkrut, inilah juga yang membuat saya setidaknya lebih paham dengan apa yang terjadi dan apa yang menyebabkan mereka gagal.

Alasan utama kegagalan ini terjadi karena faktor internal dan disebabkan oleh 2 sisi yaitu:

  • Bos yang tidak paham/mengerti
  • Karyawan yang tidak mau tahu/peduli

Bos yang tidak mengerti

Bos ini entah itu atasan, manajer, direktur, CEO, investor, mereka ini tidak paham dengan apa yang mereka lakukan (they have no idea what they are doing), biasanya mereka tidak memiliki visi yang jelas, mau dibawa kemana arah bisnis/perusahaan, yang saya perhatikan adalah atasan ini kurang mengerti dunia media online khususnya digital marketing seperti SEO, engagement sosial media marketing, cara membuat website/blog/artikel yang bisa menarik audience, apalagi bagian-bagian yang teknis seperti coding, membuat desain UI/UX, dll.

Memang atasan tidak perlu tahu segalanya, tapi setidaknya mereka harus tahu apa yang mereka sedang lakukan dan apa yang anak buahnya kerjakan, ironisnya saat itu atasan malah bertanya balik pada karyawannya “gimana cara kita bikin rame media ini”, “kita mau melakukan apa dengan website ini”, “coba buat rencana dan hasil yang akan kita kerjakan 6 bulan mendatang”.

Wajar kalau karyawan semakin bingung kalau atasannya saja tidak tahu perusahaan mau dibawa kemana alias ngambang (ga ada visi), tugas utama seorang atasan adalah memberikan visi yang jelas, dan berusaha mengarahkan para karyawan untuk “stay on the right track”, lalu bagaimana karyawan tahu mana jalan yang benar dan mana yang salah kalau atasannya sendiri juga bingung? Memang sesekali karyawan juga boleh memberi ide/masukkan, tapi kenyataannya sangat jarang karyawan memiliki rasa kepedulian seperti ini, sehingga kita masuk pada alasan kedua yaitu …

Karyawan yang tidak peduli

Berdasarkan pengalaman saya kerja, mayoritas mental karyawan itu adalah asal kerja dan digaji, sebenarnya balik lagi ke perusahaan, bagaimaa perusahaan bisa menjamin masa depan karyawan, kalau perusahaannya prospektif tentu karyawan akan berusaha bekerja sebaik mungkin, sebaliknya perusahaan yang cuma ngambang/sekedar ada saja cepat atau lambat akan segera ditinggalkan para karyawannya.

Disinilah karyawan mulai tidak peduli dengan nasib perusahaan, boro-boro memberikan visi/membawa kemajuan pada perusahaan, sebagian besar dari mereka mungkin hanya ingin cepat-cepat gajian (khususnya nunggu bonus THR/akhir tahun) lalu resign.

Selain itu kadang karyawan melihat perusahaan sedang bergerak kearah yang salah, lalu mereka mencoba memberikan opini untuk memperbaiki keadaan namun cenderung tidak didengarkan oleh atasan. Saya dan teman kerja saya pernah memberikan masukkan pada atasan yang ingin membuat portal berita dengan budget yang menurut saya “sangat amat kurang” dibandingkan portal berita yang sudah ada dan mendominasi market.

Kami berusaha meyakinkan bahwa ini bukan jalan yang benar, membuat media berita bukanlah model bisnis yang baik, terlebih prinsip bisnis ini juga sama seperti diatas yaitu “winner takes all”, ibaratnya seperti kita berusaha memelihara gajah dan monyet, kita rawat dan jaga dengan baik, lalu kita buat taman kecil dan meminta orang-orang “membayar” untuk melihat hewan (gajah & monyet) tersebut, pertanyaannya untuk apa? Toh orang tinggal datang ke kebun binatang dimana harganya sama dan hewannya pasti lebih komplit.

Sayangnya atasan tetep ngotot dengan kemauannya, padahal dengan budget, talent, dan kondisi yang ada tidak memungkinkan untuk memenangkan market yang sudah didominasi, yang terjadi adalah kekalahan total, beberapa bulan kedepan perusahaan kami bangkrut, beberapa karyawan mulai dipecat sampai akhirnya semua dirumahkan karena perusahaan tidak sanggup lagi bertahan alias bangkrut total. Padahal “mungkin saja” ini tidak terjadi kalau nasihat karyawan didengarkan, dengan budget yang ada, kita masih bisa spend untuk hal-hal yang lebih produktif, fokus pada niche yang lebih menguntungkan, namun apa daya, opini karyawan yang tidak didengar berdampak pada kacaunya suasana kantor yang membuat karyawan menjadi semakin tidak peduli dengan nasib perusahaan.

Poin yang ingin saya tekankan adalah bisnis bukan sekedar modal uang dan mendapatkan market, perhatikan juga faktor manusianya khususnya hubungan antara bos dan karyawan, saya sering melihat secara langsung bagaimana sepasang saudara/teman/keluarga yang saling bertengkar karena bisnis bersama, pada akhirnya lebih baik “berteman karena bisnis” daripada “berbisnis karena teman”. Bukan berarti berbisnis dengan teman itu tidak bagus, tapi Anda harus bisa memisahkan dengan bijak hubungan Anda sebagai “teman” dan hubungan Anda sebagai “partner bisnis/bos/karyawan” secara profesional.

Pelajaran kisah 3: Stuck tidak mau berkembang

Saya punya teman yang berjualan sepatu, dia punya toko sepatu dan suka mengeluh kenapa bisnisnya tidak berkembang sesuai harapannya. Saya coba tanya apakah dia punya toko online, dia bilang tidak, lalu saya tanya lagi kenapa tidak bikin, dia jawab sudah terlalu sibuk dengan usahanya jadi ga sempet ngurus begituan (toko online).

Ironisnya adalah dia mengeluh kenapa bisnisnya tidak tumbuh tapi sekedar melebarkan sayap ke ranah online saja ogah-ogahan seperti itu, padahal bikin toko online di marketplace saja saya jamin bisa menambah penjualannya atau setidaknya bisa membuat lebih banyak orang aware dengan keberadaan tokonya.

Ternyata dia masih belum bisa meninggalkan “mental karyawannya” setelah ia resign bekerja diperusahaan sebelumnya, kebiasaan kantoran seperti bangun pagi, kerja, lalu pulang, masih terbawa kedalam bisnisnya, dia hanya bekerja seperlunya saja, datang ketoko, jualan, pulang, tidak ada improvement apapun yang ia lakukan untuk mengubah keadaan tersebut dan masih saja bertanya kenapa bisnisnya tidak kunjung sukses.

Banyak pengusaha yang terjebak dengan pemikiran quadran EBSI (employee, self-employee, business, invest), mungkin terlalu banyak kena pengaruh hipnotis “rich dad poor dad”, mereka berpikir uang bisa bekerja dengan sendirinya untuk mereka, memang tidak bisa dipungkiri terkadang kita membutuhkan uang untuk menghasilkan uang yang lebih banyak, namun terkadang mindset ini bisa menyesatkan kita alias bikin kita malas bekerja (punya tujuan kaya supaya bisa santai/malas-malasan) karena merasa dengan berbisnis/berinvestasi (quadran B dan I) akan membawa kita pada kekayaan tanpa kerja keras (karena merasa dirinya sudah kerja pintar).

Salah satu ajaran “rich dad poor dad” tentang quadran EBSI inilah yang sering berujung maut, mereka merasa quadran (E dan S) alias karyawan atau freelancer hanyalah membuang-buang waktu, kita harus bangun aset bla.bla.bla dengan membangun bisnis dan investasi. Orang kaya membangun aset, orang kaya membuat uang bekerja untuk mereka, faktanya orang kaya justru membuat dirinya semakin sibuk dan bekerja keras untuk menjadi lebih kaya lagi.

Hampir semua orang kaya membangun bisnis dengan skill yang mereka pelajari selama menjadi karyawan/freelancer/usaha kecil-kecilan yang mereka bangun, banyak anak muda yang masih polos malah tersesat nekat membuat bisnis padahal dirinya masih ga tau apa-apa, belum punya kemampuan yang cukup untuk menjalankan usaha, akhirnya bangkrut/gagal dan yang paling parah sampai ngutang sana-sini untuk belanja modal.

Intinya adalah kalau kita ga mau mengembangkan diri mulai dari skill, kemampuan, intelektual, termasuk kerja keras, maka bisnis dan investasi bukanlah pilihan yang tepat untuk kita, bahkan saya menyarankan sebaliknya, kalau Anda malas atau bertujuan kaya untuk malas-malasan lebih baik jadi karyawan bukan pebisnis, karena lebih simpel, tinggal kerja-pulang-tidur dan pasti digaji, karena realitanya >90% bisnis tidak bertahan sampai tahun kelimanya (keburu bangkrut), dan investasi yang sering kita dengar diluar sana itu lebih banyak berakhir dengan kerugian/loss (toh yang diceritain kekita cuma untungnya aja, kalau rugi ya diem-diem aja).



Itulah ketiga kisah usaha-usaha kecil yang berakhir dengan kegagalan, kesimpulannya adalah belajarlah melihat keadaan yang sebenarnya secara realistis, apakah Anda mampu bersaing (bisnis adalah persaingan yang kejam), pastikan Anda punya tujuan/visi yang jelas dan dapat mengkomunikasikannya dengan baik kepada partner/karyawan Anda, rekrutlah orang yang betul-betul peduli dengan bisnis/usaha Anda, dan terakhir teruslah berkembang karena besarnya sebuah bisnis bergantung pada besarnya kapasitas Anda sebagai founder/pemiliknya.


Related Posts: