Harga Lebih Murah, Bagaimana Cara Xiaomi Bisa Untung?


Xiaomi adalah brand yang sudah sangat dikenal di Indonesia, setiap kali ada rekomendasi smartphone selalu muncul jargon “Xiaomi aja”, “mending Xiaomi”, dll, tidak heran karena harganya yang “fantastis” selalu berhasil menggoda rakyat Indonesia untuk membelinya ketimbang brand smartphone lainnya. Baru-baru ini menjelang akhir Desember 2017 Xiaomi telah resmi merilis seri Redmi 5A di Indonesia dan yang lebih menggemparkan lagi adalah harga smartphone ini hanyalah Rp 999.000,- saja (1 juta rupiah sisa seribu, lumayan bisa buat beli permen), walau harganya cuma 1 jutaan dimana menurut saya sangat murah dengan spesifikasi yang diberikan (RAM 2 GB) tapi bukan berarti kualitasnya sembarangan/abal-abal karena smartphone ini sangat mumpuni digunakan baik untuk mengambil gambar/video sampai bermain game yang berat. Pertanyaannya gimana cara Xiaomi bisa kasih harga semurah itu? Untungnya darimana?

Yang mengherankan adalah kenapa Xiaomi malah mengeluarkan produk terbaru dengan harga yang lebih murah (bahkan termasuk yang termurah dibanding smartphone-smartphone keluaran sebelumnya)? Saya masih ingat betul dulu waktu Xiaomi Mi 3 baru keluar itu harganya 3 jutaan (Rp 3.200.000,-) dan saya tertarik untuk membelinya namun masih setia dengan produk Apple tercinta (iPhone 4). Lalu tahun-tahun berikutnya muncul seri Mi 4 yang harganya cuma 2 jutaan (produk baru tapi harga turun) sedangkan kita tahu Apple setiap tahun mengeluarkan seri baru yang harganya semakin konyol dan spesifikasi/update nya juga tidak terlalu signifikan, sehingga begitu iPhone 4 saya iOS nya sudah mentok (tidak lagi di support) saya beralih ke smartphone baru yaitu Xiaomi Mi4C yang saat itu (September/Oktober 2016) saya beli hanya dengan harga Rp 1.300.000,- (RAM 2 GB).

Harga iPhone 6/6s saat itu masih ada diharga 8 dan 9 jutaan dan iPhone 7 sekitar 12 jutaan, sehingga jauh lebih rasional bagi saya yang cuma pakai smartphone untuk sekedar WhatsApp dan internetan untuk menggunakan Xiaomi saja ketimbang mengupgrade ke iPhone yang lebih baru. Sekarang muncul lagi Xiaomi Redmi 5A dengan harga 1 juta (mungkin lama-lama Xiaomi terbaru harganya cuma 500 ribu), sedangkan iPhone 8/8s dan iPhone X harganya … (sudahlah saya bahkan udah ga ngecek lagi).

Sebelumnya saya tidak memihak Xiaomi maupun Apple, kedua brand tersebut memiliki kelebihan kekurangannya masing-masing, bagi saya Apple lebih bagus dalam hal UI/UX (user interface & user experience), security (keamanan iOS), dan selama saya pakai belum pernah rusak sama sekali walau sudah bertahun-tahun, tapi harganya itu yang sering bikin malas beli karena kita tahu beberapa tahun kedepan mau gak mau kita harus ganti/update karena software/iOSnya mungkin sudah kadaluarsa dan banyak aplikasi baru yang tidak bisa kita jalankan lagi, sedangkan Xiaomi dengan spek yang terbaru memberikan harga yang sangat menggiurkan, kualitas desain UI/UX nya juga cukup baik, sejauh ini saya belum pernah mendapatkan kendala menggunakan Xiaomi yang saya gunakan sekarang (Redmi 4X), namun sebelumnya baterai Xiaomi Mi4C yang saya gunakan dulu pernah rusak karena sering dipakai untuk main game yang berat sehingga saya putuskan untuk menggantinya dengan versi yang lebih baru. Berdasarkan pengalaman saya pribadi iPhone lebih tahan lama dan awet dibanding Xiaomi, tapi harga Xiaomi jelas jauh lebih “worth it” ketimbang iPhone.


Kembali ketopik utama, bagaimana cara Xiaomi bisa mendapat untung kalau setiap tahun mereka mengeluarkan smartphone dengan harga yang lebih murah bahkan termasuk termurah dibanding smartphone-smartphone yang ada dipasaran dengan spesifikasi yang sama? Ini adalah pertanyaan yang sering ditanyakan khususnya bagi mereka yang baru mengenal Xiaomi, kok bisa Xiaomi menjual HP/smartphone dengan harga sangat murah padahal spesifikasinya juga ga jelek-jelek amat, apa ga rugi? Ternyata Xiaomi memiliki trik khusus untuk bisa memberikan harga murah kepada konsumen yaitu zero cost marketing.

Dari dulu kita tahu produk Xiaomi hanya dijual secara online, mereka tidak menjual barang ditoko, mereka akan mengadakan flash sale (strategi jual cepat) yang selalu sukses ludes dalam sekejap diberbagai negara, selain menimbulkan kesan yang eksklusif, hal seperti ini tentunya akan sangat menekan/menghemat budget yang ada, disamping itu dengan memberikan harga yang bombastis ini akan menimbulkan efek viral (jadi omongan) dikalangan para pengguna smartphone yang kemungkinan besar juga menjadi strategi marketing gratis (free promote), tidak usah jauh-jauh contohnya artikel ini saja sudah menjadi free promotion untuk brand Xiaomi, dengan terkenalnya Xiaomi karena harganya yang murah, mereka tidak perlu spend budget marketing sana-sini seperti “brand sebelah” yang iklannya ada dimana-mana, launching sana-sini pakai banyak artis untuk endorse dan sebagainya, pada akhirnya memang “word of mouth” adalah taktik yang sangat efektif untuk memenangkan hati pengguna.

bagaimana cara xiaomi bisa untung profitSelain itu Xiaomi juga memang tidak mengambil untung banyak dari penjualan hardware/smartphone, harga jual smartphone mereka hampir mendekati biaya produksinya namun mereka lebih menekankan pada penjualan software yang masif. Tidak heran brand image Xiaomi selalu lekat dengan kata “murah” karena mereka memang tidak terlalu mencari untung dari penjualan/sales perangkatnya, tetapi mereka lebih menekankan penjualan software pada MIUI, jadi walaupun untung dari perangkat keras (hardware) nya tidak banyak namun untung dari peragkat lunaknya (software) juga tidak sedikit, selain itu dengan terus bertambahnya pembeli perangkat Xiaomi (hardware) otomatis potensi pembeli perangkat lunak (software) pada MIUI akan semakin besar. Tidak masalah walau keuntungan pada smartphonenya sedikit karena mereka bisa mendapatkan potensi keuntungan yang lebih baik dimasa depan dengan strategi ini.

Jadi Xiaomi rela memberikan harga yang sensasional kepada para konsumennya karena mayoritas keuntungan dan ketenarannya didapat melalui MIUI entah dari iklan dan penjualan software/aplikasi, selain itu dengan terus bertumbuhnya pengguna smartphone Xiaomi dan komunitas MIUI di Indonesia mereka akan terus mendapatkan eksposur dan free marketing tanpa batas dimana ini bisa menghemat pengeluaran marketing kedepannya dalam meluncurkan produk-produk baru sehingga tidak heran mereka bisa mendominasi sebagian besar market penjualan smartphone di Indonesia (termasuk beberapa negara lainnya). Intinya Xiaomi memiliki strategi bisnis yang sangat baik dan oportunis di Indonesia karena banyak orang membutuhkan kehadiran smartphone murah dengan spesifikasi yang cukup tinggi.


Related Post: