Apa Itu Hikikomori? Penyebab Jutaan Orang Jepang Mengurung Diri


Apa itu hikikomori? Mengapa seseorang bisa menjadi hikikomori? Hikikomori adalah fenomena sosial yang terjadi di Jepang dimana seorang remaja/dewasa menarik diri dari kehidupan sosial dengan mengurung diri seharian dirumah. Di Jepang sendiri jumlah penduduk hikikomori sudah mencapai jutaan, sebenarnya hal ini tidak cuma terjadi di Jepang saja, negara-negara Asia lain termasuk Eropa juga mengalami kejadian yang sama, lalu pertanyaannya mengapa hal ini bisa terjadi?

Pertama kita coba mulai dari kultur dan kehidupan sosial di Jepang, siapa yang suka dengan budaya Jepang? Negeri matahari terbit ini memang sangat dikenal dengan kemajuan teknologinya. Jepang memiliki banyak budaya dan kebiasaan yang dianggap unik oleh banyak orang diseluruh dunia, yang menjadi sisi uniknya adalah walaupun negara yang dipimpin oleh seorang kaisar ini sudah memiliki teknologi yang sangat maju, masyarakatnya sangat menjunjung tinggi budaya nasional maupun tradisional. Masyarakat Jepang bahkan banyak yang tidak bisa berbahasa asing selain bahasanya sendiri karena menganggap jika pihak asing ingin bekerjasama maka lebih baik merekalah yang belajar bahasa Jepang.

Pada masa pimpinan Keshogunan Tokugawa dikisaran tahun 1633-1639, pemerintahannya memberlakukan politik Sakoku. Kebijakan tersebut juga memiliki makna politik terkunci, dimana warga asing dilarang masuk ke negara Jepang dan sebaliknya warga lokal tidak boleh keluar negeri. Jika peraturan tersebut dilanggar, maka akan ada ancaman hukuman mati khususnya untuk masyarakat Jepang. Baru pada masa Restorasi Meiji, Jepang mau membuka diri terhadap dunia luar. Tujuan utama dari peraturan Sakoku dalah agar budaya asing tidak merusak budaya lokal, tetapi semenjak perkembangan pengetahuan diluar negeri seperti Eropa terus mengalami kemajuan pesat, pelan-pelan Jepang berkeinginan untuk mengikuti dan mau membuka sistem isolasinya.

Mungkin dipengaruhi dengan budaya masa lalu, masyarakat Jepang akhirnya memiliki karakteristik cenderung introvert. Disiplin dan etos kerja yang tinggi membentuk karakter workaholic juga turut menyumbang pola berpikir mereka yang sedikit tertutup, mereka tidak akan terlalu terbuka dengan orang asing di luar hubungan profesionalitas. Meskipun cenderung kaku, seiring bercampurnya budaya lokal dan budaya asing, terbentuklah ciri khas baru yang juga tak kalah otentik, sebut saja manga atau komik Jepang, anime, musik Jepang (J-Pop), cosplay dan termasuk hikikomori.


Hikikomori jika dipandang dari kacamata sosiologi dianggap sebagai penyakit sosial. Pelaku hikikomori melakukan sebuah tindakan pengucilan diri (mengasingkan diri) dari dunia luar selama jangka waktu berbulan-bulan (biasanya lebih dari enam bulan). Seorang pelaku hikikomori akan memutuskan komunikasi dan tidak berinteraksi dengan teman dan kawan-kawannya namun masih berhubungan dengan keluarganya, walau dibeberapa kasus ada pula yang malah yang menjauhi diri dari keluarga. Ketika melakukan hikikomori, seseorang juga tidak bekerja, tidak bersekolah atau melakukan aktivitas lain diluar rumah. Apalagi dengan perkembangan teknologi serba internet sekarang, pelaku hikikomori tidak akan kesulitan untuk memenuhi kebutuhannya tanpa harus keluar rumah. Mereka bisa berbelanja online dan menunggu barang kiriman sampai dirumah dan pilihan bekerja dari internet juga banyak tersedia.

Ada beberapa penyebab mengapa seseorang bisa melakukan hikikomori. Faktor-faktor tersebut antara lain dari lingkungan sekolah, keluarga, lingkungan sekitar dan dari individunya sendiri.

– Penyebab dari lingkungan sekolah

Biasanya faktor yang paling mempengaruhi hikikomori adalah kehidupan sosial saat disekolah, seperti:

1. Sering dibully

Kalau Anda adalah pembaca komik atau penonton setia anime, pasti sudah tidak asing lagi dengan tema bullying di Jepang. Jika seseorang sering dibully, apalagi sampai disertai penyiksaan fisik, maka ia akan berusaha melarikan diri dari lingkungan sekolahnya. Sering muncul kasus dari seorang pelaku hikikomori yang takut dengan kehadiran pembullynya, makanya ia tak mau lagi bersekolah. Bagi mereka dunia akan terasa jauh lebih aman jika tidak melangkah ke luar rumah.

2. Standar nilai akademik

Jepang adalah negara yang memupuk kompetisi sejak masa sekolah. Dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi, para pelajar Jepang berusaha untuk meraih nilai terbaik agar bisa lulus. Bukan hal asing jika seorang pelajar bisa pulang larut karena belajar di lembaga bimbingan belajar. Terutama bagi anak-anak yang hendak menghadapi ujian kelulusan dan ingin melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi.

Pada beberapa kasus ekstrim, seorang anak bisa bunuh diri jika ia tak bisa memenuhi ekspektasi keluarganya. Dari pagi sampai sore mereka akan belajar disekolah, sore sampai malam mereka harus belajar lagi di tempat bimbingan belajar. Kalaupun tidak sampai bunuh diri, pelajar yang nilainya pas-pasan harus rela menerima kritikan dari mana-mana soal nilai yang tak mencapai standar. Berbagai tekanan sosial inilah yang menyebabkan orang Jepang mudah sekali stres dan depresi.

Baca juga: Cara menghilangkan rasa stres & depresi

3. Gagal ujian

Siapa sih yang suka jika gagal? Namun kegagalan masuk sekolah favorit bisa menjadi sumber depresi sampai menimbulkan aktivitas hikikomori. Gagal di ujian akhir juga sering ditakuti hingga akhirnya seorang pelaku hikikomori tak mau lagi sekolah atau melanjutkan pendidikan.

– Penyebab dari lingkungan keluarga

Dimanja adalah salah satu penyebab seorang anak memilih untuk tidak meninggalkan zona nyamannya dirumah. Terlalu melindungi anak hingga tidak mengizinkan mereka bermain diluar rumah juga bisa menyebabkan anak tumbuh menjadi manja dan tak tangguh. Keluarga terlalu menganak emaskan anaknya sampai memberi bibit tak mau maju sejak mereka masih kanak-kanak. Tidak heran ada anak yang bahkan takut/enggan untuk sekedar masuk sekolah karena merasa lebih nyaman dirumah bersama keluarganya.

– Penyebab dari lingkungan sosial

Pengaruh dari lingkungan yang tidak disukai dan dirasa tidak memberi kontribusi positif buat diri juga bisa membuat seseorang lebih memilih untuk menutup dirinya dari dunia luar. Sebagian pelaku hikikomori merasa tidak memiliki kepercayaan pada orang-orang (lost faith in humanity), hal ini biasanya terjadi karena adanya penolakan dan berbagai ekspektasi yang tidak cocok antara pemikiran dengan kenyataan yang ada.

Penyebab dari diri sendiri

Rasa stres dan depresi berlebih adalah salah satu tanda seseorang membutuhkan pertolongan. Hikikomori adalah tindakan berlebihan yang bisa dicegah, Anda harus segera membantu kenalan Anda untuk berkonsultasi ke ahlinya jika melihat ada gejala-gejala menuju hikikomori.

Inilah beberapa faktor penyebab dan penjelasan mengenai hikikomori. Hikikomori bukanlah hal yang baik untuk ditiru karena kita manusia sejatinya adalah makhluk sosial, masih banyak hal-hal positif dan baik diluar sana, selalu dukung mereka yang menjadi pelaku hikikomori agar berani menghadapi dunia luar.


Related Post: